<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319</id><updated>2011-11-13T23:24:48.213-08:00</updated><title type='text'>STORY OF LOVE</title><subtitle type='html'>this is about the story of making love alias ngentu...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>171</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-8140611691105297628</id><published>2010-11-29T18:17:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T18:19:32.822-08:00</updated><title type='text'>3 Cewe Cantik</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;mso-margin-bottom-alt:auto; text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang wanita karir, yang entah bagaimana ceritanya wanita karir tersebut mengetahui nomor kantorku.Siang itu disaat aku hendak makan siang tiba-tiba telepon lineku berbunyi dan ternyata operator memberitau saya kalau ada telepon dari seorag wanita yang engak mau menyebutkan namanya dan setelah kau angkat."Hallo, selamat siang joko," suara wanita yang sangat manja terdengar."Helo juga, siapa ya ini?" tanyaku serius."Namaku Karina," kata wanita tersebut mengenalkan diri."Maaf, Mbak Karina tahu nomor telepon kantor saya dari mana?" tanyaku menyelidiki."Oya, aku temannya Yanti dan dari dia aku dapat nomor kamu," jelasnya."Ooo.. Yanti," kataku datar.Aku mengingat kisahku, sebelumnya yang berjudul empat lawan satu. Yanti adalah seorang wanita karir yang juga 'mewarnai' kehidupan sex aku."Gimana kabarnya Yanti dan dimana sekarang dia tinggal?" tanyaku."Baik, sekarang dia tinggal di Surabaya, dia titip salam kangen sama kamu," jelas Karina.Sekitar 10 menit, kami berdua mengobrol layaknya orang sudah kenal lama. Suara Karina yang lembut dan manja, membuat aku menerka-nerka bagaimana bentuk fisiknya dari wanita tersebut. Saat aku membayangkan bentuk fisiknya, Karina membuyarkan lamunanku."Hallo.. Joko, kamu masih disitu?" tanya Karina."Iya.. Iya Mbak.." kataku gugup."Hayo mikirin siapa, lagi mikirin Yanti yaa?" tanyanya menggodaku."Nggak kok, malahan mikirin Mbak Karina tuh," celetukku."Masa sih.. Aku jadi GR deh" dengan nada yang sangat menggoda."Joko, boleh nggak aku bertemu dengan kamu?" tanya Karina."Boleh aja Mbak.. Bahkan aku senang bisa bertemu dengan kamu," jawabanku semangat"Oke deh, kita ketemuan dimana nih?" tanyanya semangat."Terserah Mbak deh, Joko sih ngikut aja?" jawabku pasrah. "Oke deh, nanti sore aku tunggu kamu di Mc. Donald plasa senayan," katanya."Oke, sampai nanti joko.. Aku tunggu kamu jam 18.30," sambil berkata demikian, aku pun langsung menutup teleponku.Aku segera meluncur ke kantin untuk makan siang yang sempat tertunda itu. Sambil membayangkan kembali gimana wajah wanita yang barusan saja menelpon aku. Setelah aku selesai makan aku pun langsung segera balik ke kantor untuk melakukan aktivitas selanjutnya.Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, tiba saatnya aku pulang kantor dan aku segera meluncur ke plasa senayan. Sebelumnya prepare dikantor, aku mandi dan &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;membersihkan diri setelah seharian aku bekerja. Untuk perlengkapan mandi, aku sengaja membelinya dikantin karena aku nggak mau ketemu wanita dengan tanpak kotor dan bau badan, kan aku menjadi nggak pede dengan hal seperti itu.Tiba di Plasa Senayan, aku segera memarkirkan mobil kijangku dilantai dasar. Jam menunjukkan pukul 18.15. Aku segera menuju ke MC. Donald seperti yang dikatakan Karina. Aku segera mengambil tempat duduk disisi pagar jalan, sehingga aku bisa melihat orang lalu lalang diarea pertokaan tersebut.Tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri tempat dudukku. Dadaku berdetuk kencang ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk semeja dengan aku."Maaf apakah kamu Joko?" tanyanya sambil menatapku."Iy.. Iyaa.. Kamu pasti Karina," tanyaku balik sambil berdiri dan mengulurkan tanganku.Jarinya yang lentik menyetuh tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesr ketika tangannya yang lembut dan juga halus meremas tangaku dengan penuh perasaan."Silahkan duduk Karina," kataku sambil menarik satu kursi di depanku."Terima kasih," kata Karina sambil tersenyum."Dari tadi kamu duduk disitu kok nggak langsung kesini aja sih?" tanyaku."Aku tadi sempat ragu-ragu, apakah kamu memang Joko," jelasnya."Aku juga tadi berpikir, apakah wanita yang cantik itu adalah kamu?" kataku sambil tersenyum. Kami bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa diceritakan, kadang-kadang kami berdua saling bercanda, saling menggoda dan sesekali bicara yang 'menyerempet' ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah cantik saja wajahnya yang semakin matang.Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Karina adalah seorang wanita yang sedang bertugas di Jakarta. Karina adalah seorang pengusaha dan kebetulan selama 4 hari dinas di Jakarta."Karin, kamu kenal Yanti dimana?" tanyaku.Yanti adalah teman chattingku di YM, aku dan Yanti sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga kisah rumah tangga, bahkan masalah sex sekalipun. Mulutnya yang mungil menjelaskan dengan penuh semangat."Emangnya Yanti menikah kapan? Aku kok nggak pernah diberitahu sih," tanyaku penuh penasaran."Dia menikah dua minggu yang lalu dan aku nggak tahu kenapa dia nggak mau memberi tahu kamu sebelumnya," Jawabnya penuh pengertian."Ooo, begitu.." kataku sambil manggut-manggut."Ini adalah hari pertamaku di Jakarta dan aku berencana menginap 4 hari, sampai urusan kantorku selesai," jelasnya tanpa aku tanya."Sebenarnya tadi Yanti juga mau dateng tapi berhubung ada acara keluarga jadi kemungkinan dia akan datang besok harinya dia bisa dateng," jelasnya kembali."Memangnya Mbak Karina menginap dimana nih?" tanyaku penasaran."Kebetulan sama kantor sudah dipesankan kamar buat aku di hotel H.."jelasnya."Mmm, emangnya Mbak sama siapa sih?" tanyaku menyelidik."Ya sendirilah, Joko.. Makanya saat itu aku tanya Yanti," katanya"Tanya apa?" tanyaku mengejar."Apakah punya teman yang bisa menemaniku selama aku di Jakarta," katanya. "Dan dari situlah aku tahu nomor telepon kamu," lanjutnya.Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 10.25 wib, dan aku lihat sekelilingku pertokoan mulai sepi karena memang sudah mulai larut malam. Dan toko pun sudah mulai tutup."Jok.. Kamu mau anter aku balik ke hotel nggak?" tanyanya."Boleh, masa iya sih aku tega sih biarin kamu balik ke hotel sendirian," kataku.Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke hotel H.. Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Plasa Senayan. Aku dan Karina bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 5, dan sesampainya di depan kamarnya, Karina menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang mengundang syaraf kelaki-lakianku serasa berontak ketika berjalan dibelakangnya."Aaahh enak Mir, terus Mir hisap terus, aahh.."Sedangkan Dahlia menghisap buah zakarku dengan lembutnya membuat aku semakin nggak tertahankan untuk mengakhiri saja permaianan itu. Aku pun mulai menjilati vagina Karina dengan lembut dan perlahan-lahan biar dia bisa merasakan permaianan yang aku buat. Karina pun menjerit keras sambil berdesis bertanda dia menikmati permainanku itu.Mirandapun nggak mau kalah dia menghisap payudaranya Karina sedangkan Dahlia mencium bibir Karina agar tidak berteriak ataupun mendesis. Setelah beberapa lama aku menjilati vaginanya terasa badannya mulai menegang dan dia pun mendesah."Jok.. Akuu mauu keeluuarr."Nggak beberapa lama keluarlah cairan yang sangat banyak itu akupun langsung menghisapnya sampai bersih tanpa tersisa. Setelah itu aku pun langsung memasukkan penisku ke dalam vagina Karina, perlahan-lahan aku masukkan penisku dan sekali hentakan langsung masuk semua ke dalam vaginanya yang sudah basah itu. Aku pun langsung menggenjotnya dengan sangat perlahan-lahan sambil menikamati sodokan demi sodokan yang aku lakukan dan Karina pun mulai mendesah nggak karuan"Aaahh enak Jok, terus Jok, enak Jok, lebih dalam Jok aahh, sstt.." Membuat aku bertambah nafsu, goyanganku pun semakin aku percepat dan dia mulai berkicau lagi."Aaahh enak Jok, penis kamu enak banget Jok, aahh.."Miranda pun mulai mengambil posisi, dia diatas sedangkan aku dibawah. Dituntunnya penisku untuk memasuki vaginanya Miranda dan serentak langsung masuk. Bless.. Terasa sekali kehangatan didalam vaginanya Miranda. Dia pun mulai menaik turunkan pantatnya dan disaat seperti itulah dia mulai mempercepat goyangannya yang membuat aku semakin nggak karuan menahan sensasi yang diberikan oleh Miranda.Dahlia pun mulai menghisap payudara Miranda penuh gairah, sedangkan Karina mencium bibir Miranda dengan garangnya, Miranda mempercepat goyangannya yang membuat aku mendesah."Aaahh enak Mir.. Terus Mir.. Goyang terus Mir.. Lebih dalam lagi Mir.. Aaahh sstt"Dan selang beberapa menit aku merasakan penisku mulai berdenyut,"Mir.. Aku.. ingiin keeluuaarr""Ooohh.. Joko.. Geelli.." desah Dahlia.Serangan bibirku semakin menjadi-jadi dilehernya, sehingga dia hanya bisa merem melek mengikuti jilatan lidahku.Miranda dan Karina mereka asyik berciuman dan saling menjilat payudara mereka. Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhnya sehingga bibirku sekarang berhadapan dengan 2 buah bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang. Aku pun mulai menjilati dan sekali-kali aku gigit puntingnya dengan gigitan kecil yang membuat dia tambah terangsang lagi dan dia medesah."Aaahh enak sekali Jok.. Terus Jok hisap terus Jok enak Jok aahh sstt.."Dahlia pun membalasnya dengan mencium bibirku dengan nafsunya dan setelah itu turun ke pusar dan setelah itu dia mulai mengulum, mengocok, menjilat penisku didalam mulutnya. Setelah dia puas aku kembali menyerangnya langsung ke arah lubang vaginanya yang memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, membuat tubuhku berdesis hebat. Tanpa menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan kepermukaan bibir vaginaTanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tumbuh disekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku menjilati vaginanya."Ssstt.. Jok.. Nikmat sekali.. Ughh," rintihnya.Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku diujung clitorisnya. Gerak tubuh Dahlia yang terkadang berputar-putar dan naik turun, membuat lidahku semakin menghujam lebih dalam ke lubang vaginanya."Joko.. Gila banget lidah kamu.." rintihnyaTerus.. Sayang.. Jangan lepaskan.." pintanya.Paha Dahlia dibuka lebar sekali sehingga memudahkan lidahku untuk menjilatnya. Dahlia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejola dihatinya."Oohh.. Joko, aku nggak tahan.. Ugh.." rintihnya."Joko cepet masukan penis kamu aku sudah nggak tahan nih," pintanya.Perlahan aku angkat kaki kanannya dan aku baringkan ranjang yang empuk itu. Batang kemaluanku sudah mulai mencari lubang kewanitaannya dan sekali hentak."Bleest.." kepala penisku menggoyang vaginanya Dahlia."Aowww.. Gila besar sekali Jok.. Punya kamu," Dahlia merintih.Gerakan maju mundur pinggulku membuat tubuh Dahlia mengelinjang hebat danm sesekali memutar pinggulnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa dibatang kemaluanku."Joko.. Jangan berhenti sayang.. Oogghh," pinta Dahlia.Dahlia terus menggoyangkan kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan penisku yang menghujam dalam pada lubang kewanitaannya. Sesekali Dahlia membantu pinggulnya untuk berputar-putar."Joko.. Kamu.. Memang.. Jagoo.. Ooohh," kepalannya bergerak ke kiri dan ke kanan seperti orang triping.Beberapa saat kemudian Dahlia seperti orang kesurupan dan ingin memacu birahinya sekencang mungkin. Aku berusaha mempermainkan birahinya, disaat Dahlia semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan spontan aku kurangi sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyang dinding vagina Dahlia."Joko.. Terus.. Sayang.. Jangan berhenti.." Dahlia meminta.Permainanku benar-benar memancing birahi Dahlia untuk mencapai kepuasan birahinya. Sesaat kemudian, Dahlia benar-benar tidak bisa mengontrol birahinya. Tubuhnya bergerak hebat."Joko.. Aakuu.. Kelluuaarr.. Aaakkhh.. Goyang sayang," rintih Dahlia.Gerakan penisku kubuat patah-patah, sehingga membuat birahi Dahlia semakin tak terkendali."Jok.. Ooo.. Aaammpuunn," rintihnya panjang.Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan penisku dengan dalam hingga mentok dilangit-langit vagina Dahlia. Aku merasakan semburan cairan membasahi seluruh penisku.Dahlia yang sudah mendapat kedua orgasmenya, sedangkan aku masih berusaha untuk mencari kepuasan birahiku. Posisi Dahlia, sekarang menungging. Penisku yang masih tertancap pada lubang vaginanya langsungaku hujamkan kembali ke lubang vaginanya Dahlia."Ooohh.. Joko.. Kamu.. Memang.. Ahli.." katanya sambil merintih.Kedua tanganku mencengkeram pinggul Dahlia dan menekan tubuhnya supaya penisku bisa lebih menusuk ke dalam lubang vaginanya."Dahlia.. Vagina kamu memang enak banget," pujiku."Kamu suka minum jamu yaa kok seret?" tanyaku.Dahlia hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati tusukan penisku yang tiada hentinya. Batang kemaluanku terasa dipijiti oleh vagina Dahlia dan hal tersebut menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Permainan sexku diterima Dahlia karena ternyata wanita tersebut bisa mengimbangi permainan aku.Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak birahiku."Dahlia.. Aku mau.. Keluar.."kataku mendesah."Aku juga sayang.. Ooohh.. Nikmat terus.. Terus.." Dahlia merintih."Joko.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasakan semprotan.. Kamu.." pintanya."Iya sudah.. Ooogh.. Aaakhh.." rintihku.Gerekan maju mundur dibelakang tubuh Dahlia semakin kencang, semakin cepat dan semakin liar. Kami berdua berusaha mencapai puncak bersama-sama."Joko.. Aku.. Aku.. Ngaak kkuuaatt.. Aaakhh" rintih Dahlia."Aku juga sudah.. Ooogh.. Dahh," aku merintih."Crut.. Crut.. Crut.." spermaku muncrat membanjiri vaginanya Dahlia.Karena begitu banyak spermaku yang keluar, beberapa tetes sampai keluar dicelah vagina Dahlia. Setelah beberapa saat kemudian Dahlia membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan tubuhku."Joko, ternyata Yanti benar, kamu jago banget dalam urusan sex. Kamu memang luar biasa" kata Dahlia merintih."Biasa aja kok Mbak, aku hanya melakukan sepenuh hatiku saja," kataku merendah."Kamu luar biasa.." Dahlia tidak meneruskan kata-katanya karena bibirnya yang mungil kembali menyerang bibirku yang masih termangu. "Ughh.. Joko.." mereka merintih dan bergerak saat aku permainkan puntignya yang memerah.Sebelum aku meinggalkan mereka, kami berempat berburu kenikmatan. Dan entah sudah berapa kali mereka yang sedang membutuhkan kehangatan mendapatkan orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, kami berempat memburu birahinya yang tidak kenyang.Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 08.00 wib, dimana aku harus berangkat kerja dan pada jam seperti ini jalanan macet akupun mempercepat jalannya agar tidak terkena macet yang berkepanjangan. Aku meninggalkan Hotel H.. Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang sudah ditinggalkan oleh permainan tadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF0000;"&gt; baca cerita seru lainnya ya klik dibawah&lt;br /&gt;&lt;script src="http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=131861&amp;amp;onlytitle=1" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-8140611691105297628?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/8140611691105297628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=8140611691105297628' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/8140611691105297628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/8140611691105297628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/11/3-cewe-cantik.html' title='3 Cewe Cantik'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-2200201160667354722</id><published>2010-11-29T18:14:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T18:17:36.048-08:00</updated><title type='text'>Kenikmatan bersama, dua ABG(santi dan rika)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;halo om,bisa jemput rika di sekolahan gak??rika baru bt nih pengen jalan-jalan ama om,rika tunggu di depan sekolahan ya,kata rika di telepon.wah kebetulan nih gue juga dah kangen ma buahdada n memek rika yang sempit ,bisikan setan birahi gue.gue gak mau nyia-nyiain kesempatan yang langka,langsung gue mandi trus jemput rika di sekolah nya.sesampai nya di sekolahan ternyata rika ngajak santi temen nya yang pernah di ajak ke rumah gue.Emang mau jalan-jalan kemana sih rika kok ngajak om segala kata gue,kemana aja deh om asal enak sahut rika.loh yang ngajak kan rika kok sekarang malah nanya mo jalan kemana??klau om ajakin yang enak-enak mau gak??ya jelas mau dunk om masak mo di ajak yang enak-enak gak mau ya gak san kata rika ke santi.kita makan dulu yuk di tempat yang biasa om datengin ma rika,om lapar nih.ok om rika ma santi juga lapar.gue ajakin rika ma santi makan di rumah makan yang sering gue datengin,sehabis makan langsung gue arahin mobil ke hotel di deket per4tan jombor.loh kok ke hotel sih om,gak enak ama santi,santi kan orang nya pemalu.ntar klau kita mau ml gimana santi?? ntar aja kalu santi dah om anterin pulang baru om boleh ngajak rika ke hotel lagi.santi mau gak nemenin rika di hotel ma om,klau santi gak mau santi om anterin pulang ya,gpp kok om santi mau kok nemenin om ma rika di hotel,memang nya santi gak malu apa klau ntar liatin om ma rika ml kata gue.gimana om berani gak klau ntar om ngelayani santi ma rika???busyeeetttt nih anak berani-berani nya nantangin gue.santi nantangin om ya!!!boleh ntar di buktiin aja,pasti om bisa ngalahin santi di ranjang kata gue sambil cubit paha santi yang mulus.akhir nya sampai juga di hotel langsung gue pesen kamar sambil gue suruh santi masukin mobil ke garasi hotel. waktu pas lihat santi ma rika keluar dari mobil gue tanyain ma resepsionis hote,om tuh cewek harga nya berapa??dah cantik muda,montok lagi saya juga mau om kata resepsionis nya.gue cuekin aja dan langsung gue menuju kamar yang telah gue pesen.di dalam kamar hotel gue ajakin santi ma rika mandi dulu biar segar.sewaktu santi ma rika melepas pakain nya,wwwoooooowww,kayak nya gue ngerasa bagai lelaki yang beruntung di dunia ini,bisa ajakin dua gadis yang masih sekolah smu,pasti nikmat banget ngent*tin mereka bisik setan birahi gue.perlahan gue samperin santi dan rika yang telah berbasah-basahan di kamar mandiSini om santi ma rika mandiin biar lebih segar kata santi sambil memegang kontol gue yang masih tidur.oohh...nih anak tau aja mau gue,perlahan kontol gue di urut-urut ma santi dengan tangan nya sampai akhir nya kontol gue di masukin ke mulut santi yang mungil,sementara santi mengoral kontol gue gue tarik rika di samping gue sambil gue lumat bibir nya ,tak lupa gue remas-remas buahdada rika yang selalu bikin gue ketagian,setelah 15menit kontol gue di oral ma santi gue suruh santi berdiri menghadap tembok kamar mandi sambil merenggangkan kedua paha nya.perlahan gue gesekin kontol gue ke memek santi yang tampak indah dari belakang sementara itu tampak rika yang sudah horni menggesek-gesek klitoris nya sendiri dengan jari nya.setelah kontol gue pas di lobang memek santi gue dorong pelan-pelan sambil menikmati nikmatnya memek anak smu.ooooohhh..ooohhh...pelaaaannnnnn,,pelaaannnn om,,desah santi sewktu kontol gue sedikit demi sedikit amblas di memk nya yang masih sempit.setelah kontol gue masuk semua gue diemin sambil gue lumat bibir santi yang setengah terbukague samperin rika yang sudah dalam posisi nungging siap gue sodok,gue arahin kontol gue ke lobang memek ria yang selalu bikin gue ketagihan.gue dorong sampai mentok,ooooocchhhhh,,,,,,desah rika sewaktu kontol gue amblas di memek nya,gue genjot memek rika dari belakang sambil gue remas-remas buahdadanya yang berguncang-guncang akibat sodokan gue,aahhh,,aahhh,,,terrusss omm,,,nikmat banget,desahan rika membuat gue lebih bernafsu gue gentit dengan cepat,bosan dengan gaya doggy gue suruh rika duduk di pangkuan gue.setelah pas rika mulai memasukkan kontol gue ke memek nya,setelah itu rika menggoyang-goyangkan pinggul nya bak goyang ngebor inul,,oooohhhh,,,,ooohhh,,,desah gue sambil gue sambut goyangan rika dengan sodokan kontol gue,setelah 20 menit gue ngerasa dah mo kluar,gue pegangin pantat rika sambil gue genjot lebih cepat, rupanya rika tau klau gue dah mau klimaks,,rika pun menggoyangkan pinggul nya lebih cepat dan tidak beraturan,,ooooochhh,,,ooocchhh,,,ooocchhh rika juga mo kluarr,,kluarinnn sama-sama om,,,erang rika sambil menggoyangkan pinggul nya lebioh cepat,,,,ooooohhhhh,,,,,,ooooommm kluaarrrrrr,,,,crrrooott,,,ccrooottt sambil gue tekan kontol gue sampai mentok di memek ria,bersamaan dengan kluar nya sperma gue tubuh rika mengejang sambil memeluk gue erat banget,ooooohhhhhhh,,oooohhhh,,,desah rika saat mencapai klimaks nya,gue lumat bibir rika,oommm hebat bisa ngalahin santi ma rika.sambil turun dari pangkuan gue. gue lihat santi jugatelah selesai mandinya,gimana santi dah percaya kan klau om bisa kalahin santi ma rika.iya dech om,santi percaya.eh om ntar maen 2in 1 berani gak??sapa takutt jawab gue.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-2200201160667354722?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/2200201160667354722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=2200201160667354722' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/2200201160667354722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/2200201160667354722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/11/kenikmatan-bersama-dua-abgsanti-dan.html' title='Kenikmatan bersama, dua ABG(santi dan rika)'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-7975996130045706272</id><published>2010-11-29T18:13:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T18:14:31.199-08:00</updated><title type='text'>SARI - SANG RATU SENGGAMA</title><content type='html'>&lt;p style="text-align:justify"&gt;Namaku Sari, asli dari Solo, pernah 4 kali menikah, tapi tidak pernah bisa hamil, sehingga mantan-mantan suami semua meninggalkanku, bodyku sexy, kulitku kuning langsat, tinggiku 161 cm dengan berat badan 50 kg, "kamu persis Desy Ratnasari, Sari!", kata mantan suamiku terakhir. Banyak laki-laki lain juga mengatakan aku persis seperti Desy Ratnasari.Setiap pagi, aku selalu bangun jam 4:30, sebelum bekerja aku sudah mandi dengan sangat bersih, berpakaian rapi. Aku selalu memakai rok panjang hingga semata-kaki, bajuku berlengan panjang. Aku tahu, Ibu Sum senang dengan cara berpakaianku, dia selalu memujiku bahwa aku sopan dan soleha, baik sikap yang santun, maupun cara berpakaian. Meskipun begitu, pakaianku semuanya agak ketat, sehingga lekuk-lekuk tubuhku cukup terlihat dengan jelas."Mas Har. Mas Har!" panggilku menggoda, "tadi Ibu pesan supaya Mbak Sari memijati Mas Har, supaya Mas Har cepat sembuh. Boleh saya masuk, Mas Har?"Pintu kamarnya langsung terbuka, dan nampak Mas Har terbelalak melihat penampilanku,"Aduh, kamu cantik sekali, Mbak Sari... Persis Desy Ratnasari... ck, ck, ck...""Ah, Mas Har, bisa saja, jadi mau dipijat?""Jadi, dong..." sekarang Mas Har mulai nampak tidak sok alim lagi, "ayo, ayo...", ditariknya tanganku ke arah tempat tidurnya yang wangi...."Kok Wangi, Mas Har?" Rupanya dia juga mempersiapkan tempat tidur percumbuan ini, dia juga sudah mandi dengan sabun wangi."Ya dong, kan ada Desy Ratnasari mau datang ke sini,".Kami mulai mengobrol ngalor-ngidul, dia tanya berapa usiaku, dari mana aku berasal, sudah kawin atau belum, sudah punya anak atau belum, sampai kelas berapa aku sekolah. Omongannya masih belum "to-the-point", padahal aku sudah memijatnya dengan sentuhan-sentuhan yang sangat merangsang. Aku sudah tak sabar ingin bercumbu dengannya, merasakan sodokan dan genjotannya, tapi maklum sang pejantan belum berpengalaman. "Mas Har sudah pernah bercumbu dengan perempuan?", aku mulai mengarahkan pembicaraan kami, dia hanya menggeleng lugu."Mau Mbak Sari ajari?", wajahnya merah padam dan &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;segera berubah pucat. Kubuka kaus singletku dan mulai kudekatkan bibirku di depan bibirnya, dia langsung memagut bibirku, kami bergulingan di atas tempat tidurnya yang empuk dan wangi, kukuatkan pagutanku dan menggigit kecil bibirnya yang merah delima, dia makin menggebu, batang penisnya mengeras seperti kayu...Wow! dia melepas beha-ku, dan mengisap puting susuku yang kiri, dan meremas-remas puting susuku yang kanan..."Aaah.. sssshhhh, Mas Har, yang lembut doooong..." desahku makin membuat nafasnya menderu..."Mbak Sari, aku cinta kamu...." suaranya agak bergetar.."Jangan, Mas Har, saya cuma seorang Pembantu, nanti Ibu marah," kubisikkan desahanku lagi.... Kulucuti seluruh pakaian Mas Har, kaos oblong dan celana pendeknya sekaligus celana dalamnya, langsung kupagut penisnya yang sudah menjulang bagai tugu monas, kuhisap-hisap dan kumaju-mundurkan mulutku dengan lembut dan terkadang cepat..."Aduuuh, enaaaak, Mbak Sari...." jeritnya...Aku tahu air-mani akan segera keluar, karena itu segera kulepaskan penisnya, dan segera meremasnya bagian pangkalnya, supaya tidak jadi muncrat. Dia membuka rok-miniku sekaligus celana dalamku, segera kubuka selangkanganku."Jilat itil Mbak Sari, Mas Haaaarrr..., yang lamaaa...", godaku lagi... Bagai robot, dia langsung mengarahkan kepalanya ke vegie-ku dan menjilati itilku dengan sangat nafsunya...."Sssshhhh, uu-enaaak, Mas Haaaarrrr...., sampai air mani Mbak Sari keluar, ya mas Haaar"."Lho, perempuan juga punya air mani..?" tanyanya blo'on. Aku tak menyahut karena keenakan..."Mas Haaarrr, saya mau keluaaar..." serrrrr.... serrrrrrrrr.... membasahi wajahnya yang penuh birahi."Aduuuuh, enak banget, Mas Har! Mbak Sari puaaassss sekali bercinta dengan Mas Har..... penis Mas Har masih keras? ...belum keluar ya? Mari saya masukin ke liang kenikmatan saya, Mas! Saya jamin Mas Har pasti puas-keenakan...."Kugenggam batang penisnya, dan kutuntun mendekati lubang vegieku, kugosok-gosokkan pada itilku, sampai aku terangsang lagi... Sebelum kumasukkan batang keperkasaannya yang masih ting-ting itu ke lubang vegieku, kuambil kaos singletku dan kukeringkan dulu vegieku dengan kaos, supaya lebih peret dan terasa uuenaaaak pada saat ditembus penisnya Mas Har nanti... "Sebelum masuk, bilang 'kulonuwun' dulu, dong sayaaaaaang...", Candaku....Mas Har bangkit sebentar dan menghidupkan radio-kaset yang ada di atas meja kecil di samping ranjang..... lagunya....mana tahaaan...."Kemesraan ini Janganlah Cepat Berlalu......""Kulonuwun, Mbak Sari...cintakuuu....""Monggo, silakan masuk, Mas Haaarrr Kekasihkuuu...", segera kubuka lebar-lebar selangkanganku, sambil kuangkat pinggulku lebih tinggi dan kuganjel dengan guling yang agak keras, supaya batang penisnya bisa menghujam dalam-dalam....Sreslepppp.....&lt;wbr&gt;....blebessss....."Auuuow...."&lt;wbr&gt;, kami berdua berteriak bersamaan....."Enaaaak banget Mbak Sari, vegie Mbak Sari kok enak gini sih....?"Sekarang giliranku yang di atas... Mas Har terlentang keenakan, aku naik-turunkan pinggulku, rasanya lebih enak bila dibanding aku di bawah, kalau aku di atas, itilku yang bertumbukan dengan pangkal penis Mas Har, menimbulkan rasa nikmat yang ruaaaaarbiassssa uu-enaaaaaaknya.....Keringat kami mulai berkucuran, padahal kamar Mas Har selalu pakai AC, sambil bersenggama kami mulut kami tetap berpagutan-kuat. Setelah bosan dgn tengkurap di atas tubuh Mas Har, aku ganti gaya. Mas Har masih tetap terlentang, aku berjongkok sambil kunaik-turunkan bokongku. Mas Har malah punya kesempatan untuk menetek pada susuku, sedotannya pada tetekku makin membuatku tambah liar, serasa seperti di-setrum sekujur tubuhku.Setelah 10 menit aku di atas, kami berganti gaya lagi... kami berguling-gulingan lagi tanpa melepaskan penis dan vegie kami. "Mbak Sari, aku hampir keluaaaaaar nih...!!" ...."Saya juga mau keluar lagi untuk kelima kalinya ini, Mas Haaaaar.... Yuk kita bersamaan sampai di puncak gunung kenikmatan, yaaa sayaaaaanngggg""Ambil nafas panjang, Mas Har... lalu tancepkan penisnya sedalam-dalamnya sampai kandas...... baru ditembakkan, ya Maaaasss... ssssshhhhhh........"Sambil mendesis, aku segera mengangkat pinggulku lagi, kedua kakiku kulingkarkan pada pinggangnya, guling yang sudah terlempar tadi kuraih lagi dan kuganjelkan setinggi-tingginya pada pinggulku, hujaman penis Mas Har semakin keras dan cepat, suara lenguhan kami berdua hhh...hhhhh....hhhhhh..... seirama dengan hujaman penisnya yang semakin cepat....."Tembakkan sekaraaaaang, Maaaasssss!", Mas Har menancapkan penisnya lebih dalam lagi, padahal sedari tadi sudah mentok sampai ke mulut rahimku.... bersamaan dengan keluarnya cairan vegieku yang kelima kali, Mas Har pun menembakkan senjata otomatis berkali-kali dengan sangat kerasnya.... CROOTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTT !!! Berhenti sebentar dan CROOTTTTT!!! CROOTTTTT !!! CROOTTTT !!! lagi..... Seperti wong edan, kami berdua berteriak panjaaaaanggg bersamaan;"Enaaaaaaaaaakkkkk!"&lt;wbr&gt;..... sekujur tubuhku rasanya bergetar semuanya... dari ujung kepala sampai ujung kaki, terutama vegieku sampai seperti "bonyok" rasanya..... Mas Har pun rebah tengkurep di atas tubuh telanjangku..... sambil nafas kami kejar-mengejar karena kelelahan..............."&lt;wbr&gt;Jangan cabut dulu, ya Maaasss sayaaaang... masih terasa enaknya... tunggu sampai semua getaran dan nafas kita reda, baru Mas Har boleh cabut yaaa......" pintaku memelas... kami kembali bercipokan dengan lekatnya..... penisnya masih cukup keras, dan tidak segera loyo seperti punya mantan-mantan suamiku dulu...."Mbak Sari sayaaaang, terima kasih banyak ya... pengalaman pertama ini sungguh-sungguh luar biasa... Mbak Sari telah memberikan pelayanan dan pelajaran yang maha-penting untuk saya...... saya akan selalu mencintai dan memiliki Mbak Sari selamanya....""Mas Har cintaku, cinta itu bukan harus memiliki... tanpa kawin pun kalau setiap pagi --setalah Ibu &amp;amp; Mbak-mbak Mas Har pergi kerja--, kita bisa melakukan senggama ini, saya sudah puas kok, Massss..... Apalagi Mas Harianto tadi begitu kuatnya, setengah jam lebih lho kita tadi bersetubuhnya, Mas! Sampai vegie saya endut-endutan rasanya tadi.....""Aku hari ini tidak pergi kuliah, kebetulan memang ada acara untuk mahasiswa baru... jadi ndak ada kuliah...", kata Mas Harianto."Nah... kalau begitu, hari ini kita kan punya banyak waktu, pokoknya sampai sebelum Ibu dan Mbak-mbak Mas Har pulang nanti sore, kita main teruuuusss, sampai 5 ronde, kuat nggak Mas Har?", sahutku semakin menggelorakan birahinya."Nantang ya?" Tanyanya sambil tersenyum manis, tambah guanteeeeng dia....."aku cabut sekarang, ya Mbak? sudah layu tuh sampai copot sendiri...." kami tertawa cekikikan dengan tubuh masih telanjang bulat.... setelah mencabut penisnya dari vegieku, Mas Har terlentang di sisiku, kuletakkan kepalaku di atas dadanya yang lapang dan sedikit berbulu.... radio kaset yang sedari tadi terdiam, dihidupkan lagi... lagunya masih tetap "kemesraan ini janganlah cepat berlaluuuuuu...."Setelah lagunya habis, "Mas sayaaang, Mbak Sari mau bangun dulu ya.... Mbak Sari harus masak sarapan untuk Mas....""Untuk kita berdua, dong, Mbak Sari.... masak untuk dua porsi ya... nanti kita makan berdua sambil suap-suapan. Setuju?", sambil ditowelnya tetekku, aku kegelian dan "auuuww! Mas sudah mulai pinter nggangguin Mbak Sari ya.., Mbak Sari tambah sayang deh".Aku bangkit dari ranjang, dan berlari kecil ke kamar mandi yang jadi satu dengan kamar tidurnya,"Mas, numpang cebokan, ya..."Kuceboki vegieku, vegie Sari yang paling beruntung hari ini, karena bisa merenggut dan menikmati keperjakaan si ganteng Mas Har... waduuuuhhh... benar-benar nikmat persetubuhanku tadi dengannya.. meskipun vegieku sampai kewalahan disumpal dengan penis yang begitu gede dan kerasnya -- hampir sejengkal-tanganku panjangnya.... wheleh.. wheleh...."Sebelum bikin nasi goreng, nanti Mbak bikinkan Susu-Telor-Madu-Jahe (STMJ) buat Mas Har, biar ronde-ronde berikutnya nanti Mas tambah kuat lagi, ya sayaaaaaang...."Kuambil selimut dan kututupi sekujur tubuhnya dengan selimut, sambil kubisikkan kata-kata sayangku... "Sekarang Mas Har istirahat dulu, ya..." kuciumi seluruh wajahnya yang mirip Andy Lau itu..."Terima kasih, Mbak Sari... Mbak begitu baik sama saya... saya sangat sayang sama Mbak Sari...".Kupakai pakaianku lagi, segera aku lari ke dapur dan kubuatkan STMJ untuk kekasihku.... setelah STMJ jadi, kuantarkan lagi ke kamarnya.Aduh! Betapa terkejutnya diriku, ketika kulihat Mas Har sudah bangun dari tidurnya, tanpa memakai selimut lagi, Mas Har sedang ngeloco (mengocok penisnya) dengan wajah merah-padam... Segera kuletakkan makanan di atas meja tulisnya.."Aduuuuhhh, jangan seperti itu, sayang, ngocoknya... nanti bisa lecet... nanti pasti Mbak Sari kocokin... tapi Mas Har harus makan dulu, supaya ada tenaga lagi... kalau ndak makan dulu, nggak bisa kuat dan tahan lama senggamanya, Mas!"Kutanggalkan dasterku, segera dia menyergap tubuh telanjangku, dihisapnya puting tetekku yang kanan, sedang tangannya memilin tetekku yang kiri... Kupikir ini pasti gara-gara STMJ tadi, "Sabar dong, Mas-ku tersayaaaaang..., yuk kita makan nasi goreng kesukaan Mas, sepiring berdua Mas, kayak judulnya lagu dangdut..."Kusuapi Mas Har-ku dan disuapinya pula aku, sambil tangannya mengkilik-kilik itilku dengan sangat nakalnya. Wah! Edhiaan tenan reaksi STMJ tadi.... Hihihi..."Mas Har sayang, jangan kenceng-kenceng dong kilikannya, nggak nikmaaat....", dia memperlambat kilikannya, sambil kami lanjutkan dan tuntaskan sarapan kami. Selesai makan, kuambilkan pula segelas besar coca-cola, kuulurkan gelas coca-cola ke mulutnya. Minum seteguk, Mas Har pun mengambil gelas dan mengulurkan pula ke mulutku.... wah! mesranya, Mas Har-ku ini...Kuambil pisang mas, kukupas dan kubuang kulitnya, lalu aku berbaring di samping Mas Har, kubuka selangkanganku lebar-lebar, dan kumasukkan pisang tadi ke dalam liang vegieku.... Mas Har agak terkejut,"Ayo! Bisa nggak makan pisang sampai habis dari lubang vegie Mbak Sari? Kalau bisa, nanti Mbak Sari ajari teknik-teknik dan gaya-gaya senggama yang lain deh!""Siapa takut!" sahut Mas Har..."Mbak Sari, pisangnya sudah habis.... hebat kan?" Katanya lugu..."Mas Har memang nomer satu buat Mbak Sari..." sahutku memujinya, membuatnya tersanjung dan sangat ditinggikan harga dirinya."Sekarang apa lagi?" tanya Mas Har..."Silakan Mas jilati dan mainkan lidah dalam liang vegie saya... dan saya akan meng-emuti dan mengocok penis Mas dengan mulut saya.... ini namanya gaya 69, Mas sayaaang... mulut Mas ketemu vegie saya dan mulut saya ketemu penis Mas Har.... Enaaaak kan, sayaaang?""Wah! Sensasinya luar-biasa, Mbak......""Kalau bercinta itu jangan buru-buru, Mas.... harus sabar dan tenang, sehingga emosi kita bisa terkendali. Kalau Mas mau sampai duluan dengan cara ngeloco seperti tadi, kalau sempat keluar.. kan saya harus nunggu lagi penis Mas tegang lagi... kasian dong sama saya, Mas," suaraku kubikin seperti mau menangis....."Maafkan saya, ya Mbak Sari.... saya belum ngerti... mesti harus banyak belajar sama Mbak....."Kami lanjutkan gaya 69 kami, kutelan habis penisnya, kuhisap-hisap dan kumaju-mundurkan dalam mulutku.... sementara Mas Har meluruskan lidahnya dan menjilati itil-ku, kemudian memasukkan lidahnya yang kaku ke dalam liang vegieku... ini berlangsung cukup lama...Pada menit kelimabelas, serrr... serrrr... serrrr.... cairan hangat vegieku meluap, sekarang Mas Har malah menelannya.... aoowww! Dan pada menit keduapuluhlima, serrr... serrrr... serrrr.... lagi, kali ini lebih enaaaak lagi, kukejangkan seluruh tubuhku.... sambil mulutku tetap terus mengocok penisnya yang kerasnya minta-ampuuuuun.... pada waktu itu juga, penisnya memuncratkan air-peju dengan sangat derasnya, langsung kutelan seluruhnya, sampai hampir keselek......"Enaaaakkkk....." Mas Har berteriak keenakan.....Kami berguling, sekarang saya yang di atas, dengan tetap memagut penisnya yang masih cukup keras, kuhisap terus penisnya, sampai tubuh Mas Har berkedut-kedut memuncratkan tembakan-tembakan terakhirnya..... kujilati penis Mas Har sampai bersiiiiih sekali dan segera aku berputar, sehingga kepala kami berhadap-hadapan dengan posisi aku masih tetap di atas..."Gimana, Mas Har sayaaang.... Enak enggak..?" godaku..."Uu-enaaaakkk tenaaaan....", kata Mas Har menirukan gaya pelawak Timbul dalam sebuah iklan jamu.....Kami berciuman lagi dan berguling-guling lagi.... mulut kami tetap berpagutan dengan sangat kuaaatnya..... Kucari penisnya dan kupegang... wah sudah keras lagi rupanya..... luar biasa kuatnya Mas Har kali ini, lebih kuat dari ronde tadi pagi....."Mas Har... saya ajari gaya kuda-kudaan... mau nggak?","Mau dong, sayaaaang.... Gimana?", tanyanya penasaran...."Mas Har duduk menyender dulu....."Dia segera mengikuti perintahku, duduk menyender landai pada sebuah bantal yang kutegakkan di punggung ranjang, akupun segera mengambil posisi jongkok membelakanginya. Kugenggam penisnya dan kutancapkan ke vegieku dari belakang.... BLESSS!!!, tangan Mas Har mendekap kedua tetekku dari belakang....Jam dinding sudah menunjukkan jam 10.40...... sambil berpelukan dan berciuman erat, kutarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami berdua... dan kami pun tertidur sampai siang.....Sudah hampir jam satu ketika aku terbangun, pantes perutku rasanya lapar sekali. Mas Har masih belum melepaskan pelukannya sedari tadi, rasanya dia tidak ingin melewatkan saat-saat nikmat yang sangat langka ini, bisa seharian bersenggama dengan bebasnya. Kucium bibirnya untuk membangunkan lelaki kesayanganku ini, "Mas sayaaang, bangun yook, kita makan siang. Nanti abis makan kita bercinta lagi sampai sore....""Mmmm..." Mas Har menggeliat, "sudah jam berapa, istriku?""Jam satu, suamikuuuu.....", jawabku genit...."Makan-nya di ruang makan, yok Mas, nggak usah pakai baju nggak apa-apa, kan pintu-pintu dan korden-korden sudah Mbak Sari tutup tadi...."Dengan bugil bulat, kami berdua bangun dan berjalan ke ruang tamu, sambil Mas Har menggendong/mengangkatku ke ruang tamu."Edhian tenan, koyok penganten anyar wae....." kataku dalam hati.... ("gila benar, seperti pengantin baru saja")....Selesai makan siang, Mas Har kembali menggendongku ke kamar, sambil kuelus-elus penis Mas Har yang sudah mengeras seperti batang kayu lagi.....Direbahkannya diriku dengan hati-hati di atas ranjang cinta kami. Aku segera mengambil posisi memiringkan tubuh ke kanan, supaya Mas Har juga mengambil posisi miring ke kiri, sehingga kami berhadap-hadapan...."Mas sayaaang, kita senggama dengan posisi miring seperti ini, ya....., lebih terasa lho gesekan penis Mas Har di dalam vegie Mbak Sari nanti," ajakku untuk membangkitkan rangsangan pada Mas Har....Kami tetap berposisi miring berhadap-hadapan sambil berciuman kuat dan mesra. Kali ini Mas Har lebih aktif mencium seluruh wajah, tengkuk, belakang telinga, leher, terus turun ke bawah, payudara-kiriku kuisap-isapnya, sementara yang kanan dipilin-pilinnya lembut.....Rangsangan ini segera membangkitkan birahiku. Mulutnya bergerak lagi ke bawah, ke arah pusar, dijilatinya dan ditiupnya lembut, kembali aku mendesah-mendesis nikmat, sambil jari tangannya mengobok-obok lembut lubang vegieku, mengenai itilku, menimbulkan kenikmatan yang hebaaaat..., kukejangkan seluruh tubuhku, sampai pingganggku tertekuk ke atas, serrrrrr.... kubasahi tangannya yang lembut dengan semburan cairan hangat yang cukup deras dari vegieku..."Mas, masukkan sekarang, Masssss..... Mbak Sari udah nggak tahaaaannnn......", pintaku manja.....Tetap dengan posisi miring-berhadapan, kubuka selangkanganku tinggi-tinggi, kugenggam penisnya dan kusorongkan lembut ke lubang kenikmatan....."aaaaahhhhhh...&lt;wbr&gt;...." lenguhan kami kembali terdengar lebih seru.... Penis Mas Har baru masuk setengahnya dalam vegieku, dimajukannya lagi penisnya, dan kumajukan pula vegieku menyambut sodokannya yang mantap-perkasa..... Mas sayaaaang... maju-mundurnya barengan, ya.....", ajakku sambil mengajari teknik senggama yang baru, kunamakan gaya ini "Gaya Miring", dengan gaya ini kami berdua bisa sama-sama goyang, tidak sepihak saja.....Kami maju dan mundur bersamaan tanpa perlu diberi aba-aba.... rasanya lebih enak dibandingkan pria di atas wanita di bawah.... Kulihat Mas Har merem-melek, demikian juga dengan diriku, penis Mas Har dengan irama teratur terus menghujam-mantap berirama di dalam liang kenikmatanku..... vegieku mulai tersedut-sedut lagi, tanda akan mengeluarkan semburan hangatnya....."Aduuuuhhhh, Maaaassssss, enaaaakkkkk........", aku agak berteriak sambil mendesis.......Air mani Mas Har belum juga muncrat, luarbiasa kuatnya kekasihku ini....."Ganti gaya, Maaassss.... cabut dulu sebentar....." ajakku lagi, sambil kuputar tubuhku, tetap pada posisi miring membelakanginya, Mas Har memelukku kuat dari belakang, sambil meremas lembut kedua tetekku, kuangkat kakiku sebelah, dan kuhantar lagi penisnya memasuki vegieku......"&lt;wbr&gt;aaaaaaaaahhhhhhhhhhh.... enak, Mbak Sariiiiii......., gesekannya lebih terasa dari yang tadiiiiii....." Mas Har mendesah nikmat.....Kali ini aku hanya diam, sedang Mas Har yang lebih aktif memaju-mundurkan penisnya yang belum muncrat-muncrat juga air-maninya............Sudah jam setengah-tiga, hampir satu jam dengan dua gaya yang baru ini......"Mbak Sari, siap-siap yaaa.... rudalku hampir nembak...."Kupeluk erat guling, dan Mas Har semakin mempercepat irama maju-mundurnya......"Aaah, aaah, aaahh...." Mas Har mendesah sambil mengeluarkan air maninya dengan tembakan yang kuat-tajam-kental bagai melabrak seluruh dinding-dinding rahimku..... setrumnya kembali menyengat seluruh kujur tubuhku....."Aaaaaaaa.........&lt;wbr&gt;" aku berteriak panjang sambil kusemburkan juga air vegieku......Tenaga kami benar-benar seperti terkuras, getaran cinta kami masih terus terasa..... tanpa melepaskan pelukan dan juga penisnya, masih dengan posisi miring, kami tertidur lagi beberapa menit... sampai semua getaran mereda......Jam tiga sudah lewat.... berarti masih bisa satu ronde lagi sebelum Ibu Sum dan kakak-kakak Mas Har pulang dari kerja..... "Mas, bangun, Mas.... sudah jam tiga lewat..... saya kan mesti membereskan kamar ini, mandi dan berpakaian sopan seperti biasanya bila ada Ibu.....""Mandi bareng, yok..... di sini aja di kamar mandiku, ada air hangatnya kan?" ajaknya...."Mas, sabunan dulu, ya sayaaaanggg....", tanpa melepaskan kedua alat kelamin kami, kami saling menyabuni tubuh kami, khususnya di bagian-bagian yang peka-rangsangan...."Lepas dulu, ya sayaaanggg.... kuambilkan handuk baru untuk kekasihku.....", Mas Har melepaskan tusukannya, menuju lemari pakaian, dan diambilnya dua handuk baru, satu untukku satu untuknya... Selesai handukan, aku bermaksud mengambil dasterku untuk berpakaian, karena kupikir persenggamaan hari ini sudah selesai....."Eiittt, tunggu dulu, istriku..... Rudalku masih keras nih, kudu dibenamkan lagi di liang hangat cinta kita......"......Edhiaaan, mau berapa kali aku orgasme hari ini..... kuhitung-hitung sudah 12 kali aku menyemburkan air vegie sedari pagi tadi......Aku mengambil posisi sederhana, terlentang menantang... biar Mas Har menindihku dari atas.....Kami bersenggama lagi sebagai hidangan penutup..... dengan "Gaya Sederhana" pria diatas wanita dibawah, melambangkan kekuatan pria yang melindungi kepasrahan wanita.... Mas Har terus menggoyang penisnya maju-mundur.....Kembali aku akan mencapai puncak lagi, sedang Mas Har masih terus dengan mantapnya maju-mundur begitu kuat....."Mas Har, Mbak Sari sudah mau keluar lagiiiiii......", kukejangkan kedua kakiku dan sekujur tubuhku....."Mbak, aku juga mau keluar sekarang......", dalam waktu bersamaan kami saling menyemprotkan dan memuncratkan cairan kenikmatan kami masing-masing......"&lt;wbr&gt;Enaaaaaakkkk, Mas Haaaaarrrrr.......""Puaaassss, Mbak Sariiiii.........." Mas Har langsung ambruk di atas tubuh telanjanganku, waktu sudah hampir jam empat..... semua sendi-sendiku masih bergetar semuanya rasanya....."Mas, sebentar lagi Ibu pulang, Mbak Sari mau siap-siap dulu ya, sayaang..."Mas Har segera bangkit sekaligus mencabut penisnya.... "Hari ini adalah hari yang paling luar-biasa dalam hidupku, Mbak Sariii... Bagaimana aku akan sanggup melupakannya?"Kupakai dasterku, kukecup lagi kedua pipi dan bibir Mas Har.... segera aku lari menuju kamarku, membersihkan air mani Mas Har yang masih menetes dari lubang vegieku yang agak bonyok.....Kukenakan celana dalam, rok dalam, beha, rok panjang, dan blus berlengan panjang, rambut kusisir rapi, kusanggul rapi ke atas.... semua ini untuk "mengelabui" Ibu Sumiati dan kedua kakak Mas Harianto, untuk menutupi sisi lain kehidupanku sebagai seorang Ratu Senggama.Demikianlah... selanjutnya hari-hariku selalu ku isi dengan persenggamaan yang kian hari kian liar, kian panas, dan kian bervariasi dengan Mas Har, pangeran cintaku yang tampan dan perkasa. Pertempuran kami berlangsung di banyak tempat di seluruh penjuru rumah... bahkan tak jarang Mas Har sengaja mencegatku di saat-saat aku berbelanja keperluan bulanan di Pasar Kota. Hotel dan Losmen yang ada di kota selalu menjadi tempat persinggahan kami untuk menuntaskan denHanya saat Mas Har harus kuliah dan saat dia mengantar hasil job-job sampingannya saja yang dapat menunda pertempuran kami...Mas Har memang ngotot mengambil job sampingan yang bisa tetap dikerjakan di rumah, karena dia ngotot ingin menabung supaya bisa membeli rumah sendiri dan membiayai kehidupannya kelak dengan calon istri tercintanya....... aku.Sekarang giliranku yang harus menaik-turunkan pantatku seperti orang naik kuda.... semuanya berlangsung dengan sangat halus.... sehingga tidak sampai menimbulkan lecet pada penis Mas Har maupun vegieku....."Gimana Mas?", tanyaku untuk mengalihkan konsentrasi, supaya air-pejunya tidak segera muncrat......"Benar-benar Mbak Sari pantas menjadi dosen percintaan saya.....", katanya sambil mendesah-desah dan mendesis-mendesis keenakan...Itilku kembali bertumbukan nikmat dengan tulang selangkang Mas Har... Nikmatnya sudah sampai mneggeletarkan segenap perasaanku, membuat perasaanku semakin menyatu dan terikat kuat dengan perasaan Mas Har..... inilah arti sesungguhnya persetubuhan....Kuatur kecepatan pacuan kuda-kudaan ini, sehingga kenikmatannya bisa kukendalikan, sementara Mas Har terlentang dengan tenang, makin didekapnya kedua buah dadaku, diremas-remasnya, dipilin-pilinnya, diremas-remas lagi... membuatku kembali ingin mencapai puncak kenikmatan.... kukejangkan seluruh anggota tubuhku.... Mas Har sudah mulai mengerti bahwa aku akan mencapai puncak..... "Keluar lagi ya, Mbak?" tanyanya..... “Ya..!! ...ssssshhhh...” desahku kencang......serrr... serrrr... serrrrr.... kembali cairan hangat vegieku tertumpah lagi.... kelelahan aku rasanya...... lelah tapi enaaak....Aku melepaskan penisnya dari lubang vegieku, kekeringkan vegieku dengan dasterku supaya peret lagi... Mas Har melihat pemandangan ini dengan wajah lugu, kuberi dia senyum manis...."Saya sudah capek, Mas.... Gantian dong... Mas Har sekarang yang goyang, ya?"Sekarang aku mengambil posisi menungging di pinggir ranjang..... Mas Har kuminta berdiri dan menembakkan rudalnya yang super-keras dari belakang,"Yang ini gaya anjing-anjingan, Mas..... tapi jangan salah masuk ke lubang pantat ya... pas yang di bawahnya yang merah merekah itu, lho ya....""Kalau di lubang pantat katanya lebih enak, Mbak Sari?" tanyanya lucuuuu...."memang lebih enak untuk laki-laki, tapi tidak untuk perempuan..... itu kan namanya tidak adil, Mas.... Lagipula lubang pantat itu kan saluran untuk tai, kotoran yang kita buang, itu tidak sehat namanya, bisa kena penyakit aids, Mas.... Aids itu mematikan dan tidak ada obatnya lho, hiiii.... seremmm...."Mas Har memasukkan penisnya pelan-pelan ke lubang vegieku dari belakang sambil berdiri di pinggir ranjang, pelan-pelan sekaliiii..... seolah-olah dia takut kalau sampai merusakkan lubang nikmat ini..... aku tahu sekarang.... Mas Har sangat sayang padaku, sehingga tingkah-laku persenggamaannya pun melukiskan betapa besar perasaan cintanya pada diriku...."Aaaahhh....", aku mendesah sambil merasakan hujaman penisnya yang kembali menembus vegieku, demikian juga dengan Mas Har... dilingkarkannya tangan kirinya di perutku, sedang tangan kanannya meremas tetekku...... Dia mulai menggoyangkan penisnya maju mundur.... blep-blep-blep......aduuhhh...&lt;wbr&gt;.. mantapnyaaa...... tenaganya sangat kuat dan berirama tetap...... membuat aliran-darahku menggelepar di sekujur tubuhku......."Enaaaak, Maaasss.....", lagi-lagi kukejangkan seluruh anggota tubuhku sambil kukeluarkan lagi cairan hangat vegieku kesekian kalinya...... puaaasss sekali tiada taranya....."aaahhhh.....", lenguhku......."Lap dulu dong, Mbak Sariiii..... becek sekali nih...." pintanya.....Kuambil dasterku dan kuserahkan padanya..... segera dia mengeringkan vegieku dan juga penisnya yang basaaaah tersiram cairan hangatku..... "Mbak, aku sudah hampiirrr keluaaarrr...." desahnya membuatku semakin terangsang......"Tembakkan saja, Massss......."Tembakannya masih sekencang yang sebelumnya...... sampai vegieku penuh dengan air-pejunya yang ekstra-kental itu......."Aaaahhhh....." Mas Har berteriak keenakan...... demikian juga dengan aku, kukejangkan tubuhku dan kusiram lagi penisnya dengan cairan hangat kenikmatan vegieku......"Aaaahhh, Masss Harrrr...... Mbak Sari cintaaaaa banget sama Mas Har.......""Aku juga Mbak..... selain Mbak Sari, tidak ada perempuan lain yang aku cintai di dunia ini .....", aku tahu kata-kata ini sangat jujur.... membuatku semakin menggelinjang kenikmatan......"Terima kasih Mas Harrrrr..... untuk cinta Mas Har yang begitu besar kepada saya....." Dengan tanpa melepaskan penisnya, Mas Har dengan hati-hati dan penuh perasaan menengkurapkan tubuhnya di atas tubuh telanjangku.... dan aku kemudian meluruskan kakiku dan tubuhku mengambil posisi tengkurap..... dengan Mas Har tengkurap di belakangku.....Mulutnya didekatkan pada telingaku.... nafasnya menghembusi tengkukku.... membuatku terangsang lagi......"Enaaaak dan puassss sekali, Mbak Sari..... Apa Mbak Sari juga puas?""Tentu, Mas Har..... dari pagi tadi sudah sembilan kali vegie saya memuntahkan air hangatnya..... Pasti saya puasssss bangettt, Mas!""Terima kasih, ya sayaaaang...... aku ingin setiap hari bercinta dengan Mbak Sari seperti ini.......""Boleh, Massss.... saya juga siap kok melayani Mas Har setiap hari..... kecuali hari Minggu tentunya..... Ibu dan Mbak-mbak kan ada di rumah kalau Minggu...."Mas Har melepaskan penisnya dari lubang vegieku, aku segera mengambil posisi terlentang, dan Mas Har pun merebahkan dirinya di sisiku.... "Mas Har sayaaaang.... mari diminum dulu STMJ-nya, biar penisnya keras kayak batang kayu nanti, nanti Mbak Sari ajari lagi gaya-gaya yang lain, ada gaya kuda-kudaan, anjing-anjingan, gaya 69, dan masih ada seratus gaya lagi lainnya, Masssss," kataku membangkitkan lagi gelora birahinya... selesai minum diciuminya bibirku dan kedua pipiku.... dan Mas Harianto-ku, cintaanku, tidur lagi dengan tubuh telanjang dilapisi selimut.Aku segera kembali ke tempat biasanya aku mencuci pakaian majikanku, menyapu rumah dan mengepelnya.. semua kulakukan dengan cepat dan bersih, supaya tidak ada ganjelan utang kerjaan pada saat bersenggama lagi dengan Mas Har nanti....Kumasakkan nasi goreng kesukaan Mas Har dalam porsi yang cukup besar, sehingga cukup untuk sarapan berdua dan juga makan siang berdua... hmmm.... nikmat dan mesranya... seperti penganten baru rasanya... Setelah nasi gorengnya jadi, kusiapkan dalam piring yang agak lebar, kutata penyajian dengan kelengkapan tomat, timun, telur mata-sapi, dan kulengkapi pula dengan sebuah pisang mas yang agak mungil, kusiapkan pula segelas coca-cola kesukaannya. Dengan memakai daster tipis tanpa beha dan celana dalam, kuantarkan makanan tadi ke kamarnya. Langsung kubuka saja pintu kamarnya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; line-height:115%"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#33FF33;"&gt; Baca cerita seru lainnya klik dibawah&lt;br /&gt;&lt;script src="http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=131861&amp;onlytitle=1" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-7975996130045706272?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/7975996130045706272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=7975996130045706272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/7975996130045706272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/7975996130045706272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/11/sari-sang-ratu-senggama.html' title='SARI - SANG RATU SENGGAMA'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-5356667311879066153</id><published>2010-11-29T18:09:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T18:11:17.662-08:00</updated><title type='text'>Desah nafas mbak Marissa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-size:15px;"&gt;Mendung tipis berarak di langit. Aku menatap lapisan awan hitam itu sejenak. Sebentar lagi pasti hujan. Dan seperti biasa, sementara aroma angin menjelang hujan menerpa leher, setiap kali hendak hujan aku selalu teringat masa paling mengasyikkan dalam hidupku. Masa di mana sesosok perempuan secantik dewi tiba-tiba hadir memberikan kehangatan dan kenikmatan luar biasa ketika aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA.Cuaca agak mendung ketika sebuah truk boks berhenti di depan rumah kosong persis di sebelah kanan rumahku. Seorang laki-laki turun, diikuti seorang perempuan yang menurutku teramat cantik. Kecantikan itu bisa kulihat dari warna kulitnya yang amat benderang dalam balutan blus tipis yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, Manakala turun dari kendaraan, ia sedikit menunduk dan bisa kunikmati sejenak belahan dadanya yang bersih dan penuh. Sebagai lelaki remaja kelas 2 SMA, perempuan yang kuperkirakan berusia di atas 25 tahun ini merupakan sosok terindah yang pernah kulihat. Aku berseru senang dalam hati manakala kutahu ia adalah tetangga baruku.Satu-dua hari pertama tak terlihat perempuan itu di luar rumah. Ia pasti sibuk mengatur rumah. Sesekali sang lelaki, suaminya, berada di luar rumah untuk melepas penat. Lelaki itu melambai padaku ketika aku memperhatikannya. Seorang lelaki gagah dan ganteng, dengan usia beberapa tahun di atas perempuan itu. "Rumah Pak RT di mana?" tanya lelaki itu menghampiriku.."Di sini," aku menunjukkan rumahku, "Ayah saya Pak RT"Malam itu pasangan baru itu berkunjung ke ayahku. Aku yang membukakan pintu. Kini bisa kulihat jelas raut perempuan itu. Demikian cantik. Rambutnya lurus panjang. Hidung mancung. Bibirnya merekah, pipinya merona dan pandangan matanya benar-benar membuat dadaku berdebar-debar."Perkenalkan, nama saya Fredi dan ini istri saya, Marissa. Kami pindah kemari tiga hari lalu. Kami mau melapor pindah," kata lelaki itu sopan. Ia memberikan foto kopi KTP dan kartu keluarga kepada ayahku. Kulirik sejenak tanggal lahir Mbak Marissa. Benar, ia berusia 26 tahun. Entah kenapa, semenjak hari itu, wajah Mbak Marissa, begitu aku memanggilnya, terus bergelayut di mataku. Aku tahu banyak cewek cantik di sekolah naksir aku, tapi aku tak pernah tertarik. Bila bertatap mata dengan Mbak Marissa, dadaku berdebar-debar. Sering diam-diam aku menatapnya dari kejauhan manakala ia bekerja di taman kecil kebun di depan rumahnya. Ia juga kadang menatapku sekilas, dan melempar senyum kecil, yang menurutku teramat hangat itu. Dan akan makin panas dingin aku dibuatnya kalau ia bekerja sore-sore di depan rumah itu denga tank-top dan celana pendek yang menampakkan dua paha mulusnya yang jenjang.Dua minggu &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;setelah kepindahan mereka, Mbak Marissa mengantar Fredi suaminya naik taksi di depan rumah. Sebelum masuk taksi, Mas Fredi menghampiri ayahku yang sedang membaca surat kabar di beranda "Saya titip rumah, Pak RT. Saya harus bertugas ke Papua selama 6 bulan," kata Fredi. Ayahku mengangguk. Fredi kemudian memeluk dan mencium pipi Mbak Marissa mesra. Mbak Marissa membalasanya. Ah, aku merasa Mbak Marissa seperti sengaja ingin membuatku cemburu.Suatu sore, aku tengah membantu ibuku mengangkat jemuran di bagian belakang rumah ketika pintu di tembok belakang rumah diketuk-ketuk. Aku ingat itu pintu yang menghubungkan rumahku dengan rumah sebelah. Aku membuka selot dan membuka pintu. Mbak Marissa berdiri di situ, dengan tank-top dan celana pendek favoritnya, yang sekarang jadi favoritku juga. "Hei, ada pintu tembus, rupanya!" celetuknya riang. Suaranya empuk dan meneduhkan. "Ya, rumah ini dulu rumah Pakde saya. Karena kami keluarga, maka dibuatlah pintu penghubung ini," aku bicara gugup. "Namamu siapa, sih?" Tanya Mbak Marissa. "Mirza!" "Ah, huruf depannya sama-sama M dengan saya. Eh, ngomong-ngomong, Mbak baru bikin brownies buat mama kamu, nih!" Mbak Marisa mengangsurkan sepiring brownies. Aku mengucapkan terimakasih. Mbak Marisa mengerling dengan senyum semanis brownies itu, dan menghilang di balik pintu.Seminggu kemudian, sore itu mendung mulai menyergap, dan pada malam harinya hujan benar-benar turun menghujam ke bumi.Entah kenapa aku jadi ketakutan. Itu mungkin karena ayah dan ibuku tidak ada di rumah. Tadi padi mereka terbang ke Banjarmasin untuk menengok kakakku yang melahirkan. Mereka akan berada di Banjarmasin sampai minggu depan. Aku menatap jam dinding. Pukul 9 lebih sedikit. Dan tiba-tiba rumah jadi gelap gulita. Kebiasaan jelek. Kalau hujan, pasti lampu mati. Aku meraba-raba sekeliling dan mencari lilin. Aku menemukan sebungkus lilin, dan menyalakannya dengan korek api yang tergeletak di sebelahnya. Cahaya mulai menggerayangi ruangan. Tiba-tiba dari arah pintu bagian belakang hadir satu sosok. Aku terkejut. Mbak Marisa berdiri di sana. Ia pasti masuk lewat pintu terobosan di belakang yang tidak terkunci.."Punya lilin?" tanyanya. Kali ini, ia dalam balutan tank-top lain yang sangat seksi-dan setelah kuperhatikan lama--, tanpa beha, dengan rok longgar yang menurutku teramat pendek. Ia bicara dekat sekali di depanku. Dadanya bergoyang-goyang ketika ia mengisyaratkan kedinginan.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Aku memberikan lilin itu dan memberanikan diri menatapnya agak lama sambil sesekali memperhatikan dadanya. "Kamu nggak takut sendirian? Kan hujan dan gelap?" tanya Mbak Marisa. "Nggak. Mbak sendiri?" tanyaku, sedikit gugup. "Nggak. Sudah biasa! Eh, ayah dan ibumu lama ya perginya?" Tanya Mbak Marisa. "Sampai minggu depan!" jawabku. "Kesepian, dong?" celetuk Mbak Marissa. "Iya, gitu deh!" kataku, masih sedikit gugup. "Mbak gimana?" "Biasa aja. Sudah biasa ditinggal pergi Mas Fredi," ia menatapku tajam, mengerling sekilas dan berbalik meninggalkanku. "Sudah, ya, aku balik dulu" ia pamit. Sejenak matanya menatapku. Kulihat dalam remang ia menggigit ujung bibirnya. Aroma farfumnya tertinggal di ruanganku. "Ya, mbak, selamat malam!" kataku. Jauh dalam hati aku sih pingin bilang, "Please dong temenin saya sebentar! Pingin sekali rasanya menatap Mbak Marissa berlama-lama, sambil membayangkan bagaimana rasanya mencium bibirnya yang seksi. "Ah, itu cuma angan gila yang tak masuk akal!" pikirku.Aku menyalakan satu lilin lagi dan menutup korden rumah serta mengunci pintu. Di luar sepi dan dingin sekali. Hujan masih turun. Aku yakin tak ada orang yang berkeliaran di luar rumah malam ini. Sekarang, hal yang paling asyik adalah adalah masuk kamar tidur dan membayangkan Mbak Marissa berada di sisiku.Aku duduk di kursi dan menuang air minum. Tiba-tiba aku mendengar suara dari belakang rumah. Pintu terobosan itu terbuka lagi. Mbak Marissa datang lagi lagi. "Sori, Mir. Lilinku habis. Dan aku jadi ketakutan mendengarkan suara hujan dalam gelap," kata Mbak Marissa. Ia berdiri sangat dekat di hadapanku. Bias kucium harum tubuhnya. "Saya bisa kasih mbak lilin lagi kalau mau," jawabku, aku bersiap bangkit dari kursiku. "Nggak usah," Mbak Marisa menahanku. Mendidik dadaku merasakan tangannya mendarat di pundakku. Aku hanya bisa mematung duduk persis di hadapannya. Darah seperti terpompa ke ubun-ubunku.. "Aku mau di sini saja, kalau boleh. Boleh, kan?" Mbak Marissa menunduk, mencoba mensejajarkan wajahnya denga wajahku. Ini membuatku dengam mudah melihat kepundan di dantara dua gunung indah di dadanya. Dan kali ini aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, karena aku berpikir Mbak Marissa sengaja membiarkan aku melihatnya. Aku menatap dada itu tanpa ragu dengan nikmat."Eit, kau melihat dadaku terus!" Mbak Marissa refleks menutup dadanya. Aku terperangah malu tertangkap basah seperti itu. "Sori, Mbak!" "Kau bilang sori, tapi terus menatap dadaku. Kalau melihat terus seperti itu, ntar kepingin lho?" seloroh Mbak Marissa dengan suara lembut menggoda. Dan entah kenapa aku merasa tak terlalu kuat menahan gejolak mudaku. Meluncur saja kalimat itu dari mulutku. "Kalau saya kepingin, bagaimana?" tanyaku. Kutatap matanya penuh-penuh. Ia mendekat dan melepaskan tangannya dari dadanya. Ia mendekatkan wajahnya ke arahku.. "Mirza, aku tahu aku lebih tua darimu. Tapi aku tahu kau menyukaiku. Itu dari caramu menatapku dan menelusuri tubuhku dengan tatapanmu. Tanyakan sekali lagi pertanyaanmu, dan kau akan tahu apakah aku menyukaimu juga," kata Mbak Marissa. Aku mengulang pertanyaanku, "Kalau saya kepingin, bagaimana?" Mbak Marissa tersenyum "Kalau kau kepingin," ia membuka tali di kanan-kiri dan melorotkannya perlahan, membiarkan dua buah dadanya menyembul menantang, "kau boleh menyentuhnya,"Berdebar jantungku. Tubuhku seperti mendidih. Mbak Marissa benar-benar seksi dengan dada terbuka dan bibir mereka dalam remang di tengah hujan malam ini. "Sentuh puting ini dengan lidahmu, Mirza. Aku menginginkannya, lebih dari yang kau impikan". Tiba-tiba saja Mbak Marissa menarik kepalaku dan membenamkan dadanya ke wajahku. Dibantunya mulutku menemukan puting merah muda itu. Putting dan bundaran empuk di dada Mbak Marissa seperti memberi jalan dan megajariku untuk mengulum-ngulum dan memutar-mutarnya agar pemiliknya mendapatkan nikmat yang istimewa. Mbak Marissa mendesah makin keras dalam tingkahan suara hujan. Aku makin membara dan membara. Kujelajahi dengan mulutku semua permukaan dadanya. Mbak Marissa sesekali mengangkat kepalaku dan mengulum mulutku dengan beringas berkali-kali. "Kamarmu! Bawa aku ke kamarmu segera!" desah Mbak Marissa. Aku tak segera bergerak. Ia menghelaku ke kamarku dan menjerembabkan aku ke tempat tidur. Ia melepas tank-top dan melepas kaosku. Ia pun tak segan-segan melepas celanaku dan tanpa ragu-ragu menjilati, mengulum dan menghisap penisku. Sungguh malam yang luar biasa. Aku seperti tenggelam dalam segala macam rasa : coklat, vanilla, strawberry, almond. Mbak Marissa benar-benar menikmatinya. Kubiarkan pula ia menjadi guru yang baik dan memberikan pengalaman itu. Ia melepas sendiri celananya dan membantu membimbing masuk penisku yang keras ke dalam vaginaya yang basah. Sesekali ia menghentikan ujung penisku di bagian bawah vagina dan dengan asyik mengusap-usapkannya ke pinggiran vagina itu. Benar-benar aku melayang-layang penisku mendapatkan rekreasi yang nikmat dan indah itu. Dan dengan gelora yang memuncak dalam limpahan keringatku dan keringat Mbak Marissa, ia membiarkan penisku meluncur ke vaginanya berulang-ulang. Ini membuatnya menggelinjang-gelinjang, mengerang, mendesah dan merasakan nikmat luar biasa dalam tindihanku. Dan kesempatan itu tak kusia-siakan. Aku balik menyerangnya, menggumulinya dan memberikan semua yang ia ingin dan ia mau. Kubiarkan ia terus mengerang dan mengaduh, mendesah.Mbak Marissa kembali ke rumahnya lewat pintu belakang jam 5 pagi. Dan tak perlu menunggu sore, ia kembali siangnya, sekitar pukul 10 dan menyerangku lagi di minggu pagi itu. Ia memberiku kenikmatan seminggu penuh. Kadang sampai 2 kali sehari, kadang pula sampai harus membuatku membolos sekolah.Affairku dengan Mbak Marissa berlangsung terus sampai menjelang kedatangan suaminya. Affairku dengan Mbak Marissa berlangsung terus sampai menjelang kedatangan suaminya. Kami bisa bergumul di mana saja: di kamar hotel, di hutan pinus yang sepi, di pantai yang sunyi, di sebuah dagau kosong di gunung Bromo dan di mana saja.Aku tak bertemu lagi dengan Mbak Marissa ketika suaminya datang dan mengajaknya serta pindah ke Jakarta. Namu, meski Mbak Marissa tak ada lagi, bila hari menjelang hujan, penisku selalu berdiri, dan bisa kubayangkan aroma tubuh dan gelinjang gelora mbak yang cantik dan seksi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;Baca cerita seru lainnya klik dibawah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=131861&amp;amp;onlytitle=1" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-5356667311879066153?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/5356667311879066153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=5356667311879066153' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/5356667311879066153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/5356667311879066153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/11/desah-nafas-mbak-marissa.html' title='Desah nafas mbak Marissa'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-1427177413427620760</id><published>2010-11-29T17:59:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T18:08:41.441-08:00</updated><title type='text'>Ima iparku</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph"&gt;Aku biasa dipanggil Adi dan usiaku sekarang 32 tahun. Aku sudah beristri dengan 1 anak usia 2 tahun. Kami bertiga hidup bahagia dalam arti-an kami bertiga saling menyayangi dan mencintai. Namun sebenarnya aku menyimpan rahasia terbesar dalam hidup berumahtangga, terutama rahasia terhadap istriku. Bermula pada saat beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih berpacaran dengan istriku. Aku diperkenalkan kepada seluruh keluarga kandung dan keluarga besarnya. Dan dari sekian banyak keluarganya, ada satu yang menggelitik perasaan kelaki-lakianku; yaitu kakak perempuannya yang bernama Ima (sebut saja begitu). Ima dan aku seusia, dia lebih tua beberapa bulan saja, dia sudah menikah dengan suami yang super sibuk dan sudah dikaruniai 1 orang anak yang sudah duduk di sekolah dasar. Dengan tinggi badan 160 cm, berat badan kurang lebih 46 kg, berkulit putih bersih, memiliki rambut indah tebal dan hitam sebahu, matanya bening, dan memiliki suara agak cempreng tapi menurutku seksi, sangat menggodaku. Pada awalnya kami biasa-biasa saja, seperti misalnya pada saat aku menemani pacarku kerumahnya atau dia menemani pacarku kerumahku, kami hanya ngobrol seperlunya saja, tidak ada yang istimewa sampai setelah aku menikah 2 tahun kemudian dia menghadiahi kami (aku dan pacarku) dengan sebuah kamar di hotel berbintang dengan dia bersama anak tunggalnya ikut menginap di kamar sebelah kamarku.Setelah menikah, frekuensi pertemuan aku dengan Ima jadi lebih sering, dan kami berdua lebih berani untuk ngobrol sambil diselingi canda-canda konyol. Pada suatu hari, aku dan istri beserta mertuaku berdatangan kerumahnya untuk weekend dirumahnya yang memang enak untuk ditinggali. Dengan bangunan megah berlantai dua, pekarangannya yang cukup luas dan ditumbuhi oleh tanaman-tanaman hias, serta beberapa pohon rindang membuat mata segar bila memandang kehijauan di pagi hari. Letak rumahnya juga agak jauh dari tetangga membuat suasana bisa lebih private. Sesampainya disana, setelah istirahat sebentar rupanya istriku dan mertuaku mengajak untuk berbelanja keperluan bulanan. Tetapi aku agak mengantuk, sehingga aku meminta ijin untuk tidak ikut dan untungnya Ima memiliki supir yang dapat dikaryakan untuk sementara. Jadilah aku tidur di kamar tidur tamu di lantai bawah. Kira-kira setengah jam aku mencoba untuk tidur, anehnya mataku tidak juga terpejam, sehingga aku putus asa dan kuputuskan untuk melihat acara TV dahulu. Aku bangkit dan keluar kamar, tetapi aku agak kaget ternyata Ima tidak ikut berbelanja. Ima menggunakan kaus gombrong berwarna putih, lengan model you can see dan dengan panjang kausnya sampai 15cm diatas lutut kakinya yang putih mulus. "Lho..kok nggak ikut ?" tanyaku sambil semilir kuhirup wangi parfum yang dipakainya, &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;harum dan menggairahkan, "Tauk nih..lagi males aja gue.." sahutnya tersenyum dan melirikku sambil membuat sirup orange dingin dimeja makan, "Anto kemana..?" tanyaku lagi tentang suaminya, "Lagi keluar negeri, biasa..urusan kantornya.." sahutnya lagi. Lalu aku menuju kedepan sofa tempat menonton TV kemudian aku asik menonton film di TV. Sementara Ima berlalu menuju tingkat atas (mungkin ke kamarnya).Sedang asik-asiknya aku nonton, tiba-tiba kudengar Ima memanggilku dari lantai atas; "Di..Adi..", "Yaa.." sahutku, "Kesini sebentar deh Di..", dengan tidak terburu-buru aku naik dan mendapatinya sedang duduk disofa besar untuk 3 orang sambil meminum sirup orangenya dan menghidupkan TV. Dilantai atas juga terdapat ruang keluarga mini yang lumayan tersusun apik dengan lantainya dilapisi karpet tebal dan empuk, dan hanya ada 1 buah sofa besar yang sedang diduduki oleh Ima. "Ada apa neng..?" kataku bercanda setelah aku sampai diatas dan langsung duduk di sofa bersamanya, aku diujung kiri dekat tangga dan Ima diujung kanan. "Rese luh..sini temenin gue ngobrol ama curhat" katanya, "Curhat apaan?", "Apa! ajalah, yang penting gue ada temen ngobrol" katanya lagi. Maka, selama sejam lebih aku ngobrol tentang apa saja dan mendengarkan curhat tentang suaminya. Baru aku tahu, bahwa Ima sebenarnya "bete" berat dengan suaminya, karena sejak menikah sering ditinggal pergi lama oleh suaminya, sering lebih dari sebulan ditinggal. "Kebayangkan gue kayak gimana ? Kamu mau nggak temenin aku sekarang ini ?" tanyanya sambil menggeser duduknya mendekatiku setelah gelasnya diletakan dimeja sampingnya. Aku bisa menebak apa yang ada dipikiran dan yang diinginkannya saat ini. "Kan gue sekarang lagi nemenin.." jawabku lagi sambil membenahi posisi dudukku agar lebih nyaman dan agak serong menghadap Ima. Ima makin mendekat ke posisi dudukku. Setelah tidak ada jarak duduk denganku lagi, Ima mulai membelai rambutku dengan tangan kirinya sambil bertanya "Mau..?", aku diam saja sambil tersenyum dan memandang matanya yang mulai sayu menahan sesuatu yang bergolak. "Bagaimana dengan orang-orang rumah lainnya (pembantu-pembantunya) dan gimana kalau mendadak istriku dan nyokap pulang ?" tanyaku, "Mereka tidak akan datang kalau aku nggak panggil dan maknyak bisa berjam-jam kalau belanja." jawabnya semakin dekat ke wajahku.Sedetik kemudian tangan kirinya telah dilingkarkan dileherku dan tangan kanannya telah membelai pipi kiriku dengan wajah yang begitu dekat di wajahku diiringi nafas harumnya yang sudah mendengus pelan tetapi tidak beraturan menerpa wajahku. Tanpa pikir panjang lagi, tangan kananku kuselipkan diantara lehernya yang jenjang dan rambutnya yang hitam sebahu, kutarik kepalanya dan kucium bibir merah mudanya yang mungil. Tangan kiriku yang tadinya diam saja mulai bergerak secara halus membelai-belai dipinggang kanannya.Tangan kiriku yang awalnya hanya membelai pinggangnya, kemudian turun membelai dan mengusap-usap beberapa saat dipaha kanannya yang putih, mulus dan halus untuk kemudian mulai menyelusup kedalam kaus gombrongnya menuju buah dadanya. Aku agak terkejut merasakan buah dadanya yang agak besar, bulat dan masih kencang, padahal setahuku Ima memberikan ASI ke anak tunggalnya selama setahun lebih. Tanganku bergerak nakal membelai dan meremas-remas lembut dengan sedikit meremas pinggiran bawah buah dada kanannya. "Buah dadamu masih kencang dan kenyal neng." kataku sambil kulepas permainan dilehernya dan memandang wajahnya yang manis dan agak bersemu merah tanpa kusudahi remasan tanganku di buah dada kanannya. "Kamu suka yaa.." sahutnya sambil tersenyum dan aku mengangguk. "Terusin dong.." pintanya manja sambil kembali kami berciuman dengan bergairah. "Mmhh.. mmhh.. ssrrp.. ssrrp.." ciuman maut kami beradu kembali. Tangan kiriku tetap menjalankan tugasnya, dengan lembut membelai, meremas, dan memuntir putingnya yang mengeras kenyal.Tangan kanan Ima yang tadinya berada dikepalaku, sudah turun membelai tonjolan selangkanganku yang masih terbungkus celana katun. Ima menggosok-gosokkan tangan kanannya secara berirama sehingga membuat aku makin terangsang dan penisku makin mengeras dibuatnya. Nafas kami terus memburu diselingi desahan-desahan kecil Ima yang menikmati foreplay ini. Masih dengan posisi miring, tangan kiriku menghentikan pekerjaan meremas buah dadanya untuk turun gunung menuju keselangkangannya. Ima mulai menggeser kaki kanannya untuk meloloskan tangan nakalku menuju sasarannya. Aku mulai meraba-raba CD yang menutup vaginanya yang kurasakan sudah lembab dan basah. Perlahan kugesek-gesekkan jari jemariku sementara Ima pasrah merintih-rintih dan mendesah-desah menikmati permainan jemariku dan pagutan-pagutan kecil bibirku serta jilatan-jilatan lidahku dilehernya yang jenjang dan halus diiringi desehan dan rintihannya berulang-ulang. Pinggulnya diangkat-angkat seperti memohon jemariku untuk masuk kedalam CD-nya meningkatkan finger play ku. Tanpa menunggu, jariku bergerak membuka ikatan kanan CD-nya dan mulai membelai rambut kemaluannya yang lembut dan agak jarang. Jari tengahku sengaja kuangkat dahulu untuk sedikit menunda sentuhan di labia mayoranya, sementara ! jari telunjuk dan jari manisku yang bekerja menggesek-gesekkan dan agak kujepit-jepit pinggiran bibir vaginanya dengan lembut dan penuh perasaan.Sementara Ima memejamkan matanya dan dari bibir mungilnya mengeluarkan rintihan-rintihan juga desahan-desahan berkali-kali. Kemudian jari tengahku mulai turun dan kugesek-gesekkan untuk membelah bibir kemaluannya yang kurasa sudah basah. Berkali-kali kugesek-gesek dengan sisi dalam jari tengahku, kemudian mulai kutekuk dan kugaruk-garuk jari tengahku agak dalam di bibir vaginanya yang kenyal, lembut dan bersih. Sementara Ima makin merintih-rintih dan mendesah-desah sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan gerakan naik turun kekiri dan kekanan "Ouuhh.. hemmhh.. sshh.. aahh.. Dhii.. eehhnakh.. honey.. oohh... ..sshh.." rintih dan desahannya berkali-kali. Finger play ini kusertai dengan ciuman-ciuman di leher dan bibirnya serta sambil kami saling menyedot lidah. Sambil tangan kiriku bertopang pada tepian sofa, mulutku mulai menciumi buah dada kanannya dan tangan kananku mulai membelai, menekan, dan meremas-remas buah dada kirinya dengan lembut. "Aahh.. hhnghh.. honeey.. enaak.. bangeet.. terruss.. aahh.. mmnghh.. hihihi.. auhh..adhi.." Ima bergumam tak karuan menikmati permainanku, kedua tangannya meremas dan menarik-narik rambutku. Ima mendesah-desah dan merintih-rintih hebat ketika putingnya kuhisap-hisap dan agak kugigit-gigit kecil sambil tangan kananku meremas buah dada kirinya dan memelintir-pilintir putingnya. Ima sangat menikmati permainanku didadanya bergantian yang kanan dan kiri, hingga dia tak sadar berucap "Adhii.. oohh.. bhuat ahkhuu puas kayak adhikku di hotel dulu.. hhnghh.. mmhh..", ups..aku agak kaget, tanpa berhenti bermain aku berpikir rupanya Ima menguping "malam pertamaku" dulu bersama istriku, memang pada malam itu dan pada ML-ML sebelumnya aku selalu membuat istriku berteriak-teriak menikmati permainan sex-ku. Rupanya..Oke deeh kakak, sekaranglah saat yang sebenarnya juga sudah aku tunggu-tunggu dari dulu. "Adhii.. sekarang dong.. aahh.. akhu sudah nggak tahann.. oohh.." ujarnya, tapi aku masih ingin berlama-lama menikmati kemulusan dan kehalusan kulit tubuh Ima.Setelah aku bermain dikedua buah dadanya, menjilat, menghisap, menggigit, meremas dan memelintir, aku jilati seluruh badannya, jalur tengah buah dadanya, perutnya yang ramping, putih dan halus, kugelitik pusarnya yang bersih dengan ujung lidahku, kujilati pinggangnya, "Aduuh.. geli dong sayang.. uuhh..", kemudian aku menuju ke kedua pahanya yang putih mulus, kujilati dan kuciumi sepuasnya "Aahh.. ayo dong sayang.. kamu kok nakal sihh.. aahh..", sampailah aku di selangkangannya, Ima memakai CD transparan berwarna merah muda yang terbuat dari sutra lembut, dan kulihat sudah sangat basah oleh pelumas vaginanya. "Sayang.. kamu mau ngapain?" tanyanya sambil melongokkan kepalanya kebawah kearahku. Aku tersenyum dan mengedipkan mata kiriku kearahnya nakal. Dengan mudah CD-nya kubuka ikatan sebelah kirinya setelah ikatan kanan telah terbuka, sekarang tubuh Ima sudah polos tanpa sehelai benangpun menghalangi, kemudian aku buka kedua kakinya dan kulihat pemandangan surga dunia yang sangat indah.Bibir vaginanya sangat bersih dan berwarna agak merah muda dengan belahan berwarna merah dan sangat bagus (mungkin jarang digunakan oleh suaminya) meskipun sudah melahirkan satu orang anak, dan diatasnya dihiasi bulu-bulu halus dan rapi yang tidak begitu lebat."Oohh.. Ima.. bersih dan merah banget.." ujarku memuji, "hihihi.. suka ya..?" tanyanya, tanpa kujawab lidahku langsung bermain dengan vaginanya, kujilati seluruh bibir vaginanya berkali-kali up and down, tubuh Ima mengejang-ngejang "Aahh..aahh..dhhii..oohh..eenak adhii..aahh..Anto nggak pernah mau begini..mmhh.." lidahku mulai menjilati bibir vaginanya turun naik dan menjilati labia mayoranya dengan ujung! lidahku. Setelah masuk seluruhnya, jari tengahku mulai beraksi menggaruk-garuk seluruh bagian dinding dalam liang surga Ima sambil sesekali kugerakkan ujungnya berputar-putar dan kusentuh-sentuh daerah G-spotnya, Ima meradang dan menggelinjang hebat ketika kusentuh G-spot miliknya. Lidahku tidak berhenti menjilati sambil kuhisap-hisap klitorisnya. Ima berusaha mengimbangi finger playku dengan menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, kekiri dan kekanan dan bibirnya tidak berhenti merintih dan mendesah "Sshh..enghh..uuhh..Adhii..ouuhh..aahh..sshh..enghh.." tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya selain suara rintihan, erangan, lenguhan dan desahan kenikmatan. "Oh.. adi.. kamu gila.. enak banget.. oohh.. lidah dan hisapanmu waow.. tob banget dah.. oohh.." katanya sambil tersenyum puas sekali melihat kearah wajahku yang masih berada diatas vaginanya sambil kujilati klitorisnya disamping itu tanganku tidak berhenti bekerja di buah dada kanannya, "Anto nggak pernah mau oral-in aku..oohh.." dengan selingan suara dan desahannya yang menurutku sangat seksi.Sambil beranjak duduk, Ima mengangkat kepalaku, dan melumat bibirku "Sekarang gantian aku, kamu sekarang berdiri biar aku yang bekerja, oke ?!?" ujarnya, "Oke honey, jangan kaget ya.." sahutku tersenyum dan mengedipkan mata kiriku lagi sambil berdiri, sekilas wajahnya agak keheranan tapi Ima langsung bekerja membuka gesperku, kancing dan retsleting celanaku. "Abis dicukur ya ?" tanyanya sambil terus menjilat, aku hanya tersenyum sambil membelai kepalanya.Kemudian Ima mulai membuka bibir mungilnya dan mencoba mengulum penisku, "Mm.." gumamnya, penisku mulai masuk seperempat kemulutnya kemudian Ima berhenti dan lidahnya mulai beraksi dibagian bawah penisku sambil menghisap-hisap penisku "Serrp.. serrp.. serrp..", tangan kirinya memegang pantat kananku dan tangan kanannya memilin-milin batang penisku, nikmat sekali rasanya "Aahh.. sshh..." aku menikmati permainannya, lalu mulut mungilnya mulai menelan batang penisku yang tersisa secara perlahan-lahan, kurasa kenikmatan yang amat sangat dan kehangatan rongga mulutnya yang tidak ada taranya saat penisku terbenam seluruhnya didalam mulutnya. Setelah itu dengan agak membungkukkan posisi tubuhku, tangan kananku mulai mengelus-elus punggungnya sedangkan tangan kiriku mulai meremas-remas buah dada kanannya, kuremas, kuperas, kupijit dan kupuntir puting susunya, desahannya mulai terdengar mengiringi desahan dan rintihanku sambil tetap mengulum, mengocok dan menghisap penisku, "Ima.. mmhh.." rintihku. Mendengar rintihanku, Ima makin mempercepat tempo permainannya, gerakan maju mundur dan jilatan-jilatan lidahnya yang basah makin menggila sambil dihisap dan disedot penisku, dipuntir-puntirnya penisku dengan bibir mungilnya dengan gerakan kepala yang berputar-putar membuat seluruh persendian tubuhku berdesir-desir dan aku merintih tak karuan. "Aahh.. Ima.. oohh.. mmnghh.. gila benerr.. oohh.." Kuluman dan hisapannya tidak berhenti hingga 20 menit, "Gila luh.. 20 menit gue oral kamu nggak klimaks.. sampai pegel mulut gue." katanya sambil berdiri dan melingkarkan kedua tangannya dileherku untuk kemudian kami berciuman sangat panas, Ima sambil berdiri berjinjit karena tinggiku 172 cm, sedangkan dia 160 cm. 5 menit kami menikmati ciuman membara.Kedua tanganku meremas-remas kedua bongkahan pinggulnya yang bulat dan padat, namun kenyal dan halus kulitnya, lalu aku membopongnya menuju kekamarnya sambil terus berciuman. Sambil merebahkan tubuh mungilnya, kami berdua terus berciuman panas dan tubuh kami rebah dikasur empuknya sambil terus berpelukan.Nafas kami saling memburu deras menikmati tubuh yang sudah bersimbah keringat, berguling kekanan dan kekiri "Mmhh.. mmhh.. serrp.. serrp..", tangan kananku kembali meluncur ke buah dada kirinya, meremas dan memuntir-puntir putingnya, Ima memejamkan mata dan mengernyitkan dahinya menikmati permainan ini sambil bibirnya dan bibirku saling mengulum deras, berpagutan, menghisap lidah, dan dengan nafas saling memburu. Kuciumi kembali lehernya, kiri kanan, Ima mendesah-desah sambil kakinya dilingkarkan dipinggangku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya. "Slepp.." baru kepala penisku yang masuk, Ima berteriak "Enghh.. aahh.. enak sayang.. sshh.. oohh.." sambil mencengkeram bahuku seperti ingin membenamkan kuku-kuku jarinya kekulitku "Ayo adi.. aahh.. terusss honey.. aahh.. aahh.." vaginanya kembali mengempot-empot dan menghisap-hisap penisku tanda awal menuju klimaks "Ahh.. Ima.. enak banget..itu mu.. ahh.." aku menikmati hisapan vaginanya yang menghisap-hisap kepala penisku. Tidak berapa lama kemudian Ima kembali berteriak "Aadii.. aahh.. khuu.. aahh.. aahh.. oohh.." Ima kembali berteriak dan merintih mencapai klimaksnya dimana baru kepala penisku saja yang masuk. Aku geregetan, sudah dua kali Ima mencapai klimaks sedangkan aku belum sama sekali, begitu Ima sedang menikmati klimaksnya, aku langsung menghunjamkan seluruh batang penisku kedalam liang vaginanya "Sloop..sloop..sloopp.." dengan gerakan turun naik yang berirama "Aahh.. aahh.. hemnghh.. oohh.. aahh.. dhii.. aahh.. aahh.. ehh.. nhak ..sha..yang.. enghh..oohh.." Ima mendesah-desah dan berteriak-teriak merasakan nikmatnya rojokan penisku di liang vaginanya yaAku terus menaik turunkan penisku dan menghunjam-hunjamkan keliang vaginanya, sementara Ima makin melenguh, mendesah dan merintih-rintih merasakan gesekan-gesekan batang penisku dan garukan-garukan kepala penisku didalam liang vaginanya yang basah dan kurasakan sangat nikmat, seperti menghisap dan memilin-milin penisku. Suara rintihan dan desahan Ima semakin keras kudengar memenuhi ruang kamarnya sementara deru nafas kami semakin! memburu, dan akhirnya "Aahh.. dhii..ahh.. khuu.. sam..phai.. lhaa..ghii.. aahh..aahh.. aahh.." jeritnya terputus-putus mencapai kenikmatan ketiganya, aku masih belum puas, kutarik kedua tangannya dan aku menjatuhkan diri kebelakang sehingga posisinya sekarang Ima berada diatasku. Kami terdiam sesaat, kemudian "Aku haus banget sayang, aku minum dulu yaa..boleh ?" pintanya memecah kesunyian masih berpelukan erat sambil kubelai-belai punggungnya dengan tangan kiriku dan agak kuremas-remas pantatnya dengan tangan kananku, "Boleh, tapi jangan lama-lama ya, aku belum apa-apa nih.." ujarku jahil sambil tersenyum. Sambil mencubit pinggangku Ima melepas pelukannya, melepas penisku yang bersarang di liang vaginanya "Plop.." sambil memejamkan matanya menikmati sensasi pergeseran penisku dan didinding-dinding vaginanya yang memisah untuk kemudian berdiri dan berjalan keluar kamar mengambil sirup orange dimeja samping sofa. Kemudian Ima berjalan kembali memasuki kamar sambil minum dan menawarkannya padaku. Aku meneguknya sedikit sambil mengawasi Ima berjalan menuju kamar mandi dalam kamarnya yang besar. Indah sekali pemandangan tubuhnya dari belakang, putih mulus dan tanpa cacat. Ima masuk kekamar mandi, sejenak kuikuti dia, kulihat Ima sedang membasuh tubuh indahnya yang berkeringat dengan handuk "Kenapa ? Udah nggak sabar ya ?" tanyanya sambil melirikku dan tersenyum menggoda.Tanpa basa-basi kuhampiri Ima, kupeluk dari belakang dan kuciumi tengkuknya, pundaknya dan lehernya. Sementara kedua tanganku bergerilya membelai kulit tubuhnya yang halus. "Aahh..beneran nggak sabar..hihihi.." ucapnya "Emang..abis upacaranya banyak amat.".&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Sambil tetap membelakanginya, tangan kananku mulai menuju kebuah dada kanan dan kirinya, dengan posisi tangan kananku yang melingkar di dadanya dua bukit bulat nan indah miliknya kugapai, sementara tangan kiriku mulai menuju ke vaginanya. "Hemhh..sshh..aahh..enghh.." desahannya mulai terdengar lagi setelah jari tengah tangan kiriku bermain di klitorisnya, sesekali kumasukkan dan kukeluarkan jari tengahku kedalam liang vaginanya yang mulai basah! dan lembab serta tak ketinggalan tangan kananku meremas-remas buah dada kanan dan kirinya. "Aahh.. akhuu.. aahh.. sham.. phai.. aahh..", "Tahan.. dulu.. sha.. yang..hhuuh.." ujarku sambil terus menghunjam-hunjamkam penisku beringas karena aku juga mulai merasakan hal yang sama, "Aahh.. akhuu.. nggak.. kuat.. aahh.. AAHH.." "Seerrt..seerrt..seerrt.." kembali Ima mencapai klimaks dan menyemburkan cairan kental tubuhnya, berkali-kali, aku nggak peduli dan tetap ku genjot maju mundur penisku ke dalam vaginanya yang sudah sangat becek.Kurasakan penisku seperti disedot-sedot dan dipuntir-puntir di dalam vaginanya yang sudah bereaksi terhadap orgasmenya. Akhirnya mengalirlah lava panas dari dalam tubuhku melewati batang penisku kemudian ke ujungnya lantas memuncratkan sperma hangatku ke dalam vaginanya yang hangat "Aahh..." kami mendesah lega setelah sedari tadi! berpacu mencapai kenikmatan yang amat sangat. Tubuh Ima mengigil menikmati sensasi yang baru saja dilaluinya untuk kemudian kembali mengendur meskipun vaginanya masih mengempot dan menghisap-hisap, aku diam dan kubiarkan Ima menikmati sensasi kenikmatan klimaksnya. "Ahh.. punyamu enak ya Ima.. bisa ngempot-ngempot gini.."ujarku memuji, "Enak mana sama punya adikku ?" tanyanya sambil menghadapkan kearah wajahku dibelakangnya dan tersenyum "Punyamu..hisapannya lebih hebat..mmhh.." kucium mesra bibirnya dan Ima memejamkan matanya. Kemudian kucabut penisku "Ploop.." "Aahh.." Ima agak menjerit, dan cepat kugandeng tangannya keluar dari kamar mandi dan kembali ketempat tidur. "Sleepp.." "Auuwhh.." Ima agak menjerit. Perlahan tapi mantap kudorong penisku, sambil terus kutatap wajah manis iparku ini, Ima merem melek, mengernyitkan dahinya, dan menggigit bibir bawahnya dengan nafas memburu menahan kenikmatan yang amat sangat didinding-dinding vaginanya yang becek "Hehhnghh.. engghh.. aahh.." gerangnya.Kepalanya terangguk-angguk dan badannya terguncang-guncang mengimbangi gerakan tubuhku yang makin beringas. Kemudian aku mengubah posisi kedua kaki Ima untuk bersandar dipundakku, sementara agak kudorong tubuhku kedepan, kedua tanganku serta merta bergerak kekedua buah dadanya untuk meremas-remas yang bulat membusung dan memuntir-puntir puting susunya kenyal dan mengeras tanpa kuhentikan penetrasi penisku kedalam liang vaginanya yang hangat dan basah. Ima tidak berhenti merintih dan mendesah sambil dahinya mengernyit menahan klimaksnya agar kami lebih lama menikmati permainan yang makin lama semakin nikmat dan membawa kami melayang jauh. "Oohh.. Ahh.. Dhii.. enghh.. ehn.. nnakhh.." desahan dan rintihan Ima menikmati gesekan-gesekan batang penis dan rojokan-rojokan kepala penisku berirama merangsangku untuk makin memacu pompaanku, nafas kami saling memburu.Setelah mulai kurasakan ada desakan dari dalam tubuhku untuk menuju penisku, aku merubah posisi lagi untuk kedua tanganku bersangga pada siku-siku tanganku dan membelai-belai rambutnya yang sudah basah oleh kucuran keringat dari kulit kepalanya. Nikmat yang kami reguk sangatlah dahsyat dan sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sementara kami masih saling berpelukan erat, vagina Ima masih mengempot-empot dan menghisap-hisap habis cairan spermaku seakan menelannya sampai habis, dan penisku masih berdenyut-denyut didalamnya,dan kemudian secara perlahan tubuh kami mengendur saling meregang, dan akupun jatuh tergulir disamping kanannya.Sesaat rebah berdiam diri bersebelahan, Ima kemudian merebahkan kepalanya dipundak kiriku sambil terengah-engah kelelahan dan mencoba mengatur nafasnya setelah menikmati permainan surga dunia kami. Kulit tubuhnya yang putih dan halus berkeringat bersentuhan dengan kulitku yang berkeringat, Ima memelukku mesra, dan tangan kiriku membelai rambut dan pundaknya. "Adi.. kamu hebat banget, gue sampai puas banget sore ini, klimaks yang gue rasakan beberapa kali belum pernah gue alamin sebelumnya, hemmhh.." Ima berkata sambil menghela nafas panjang "Ma kasih ya sayang.. thank you banget.." ujarnya lagi sambil kami berciuman mesra sekali seakan tak ingin diakhiri. Tak terasa kami sudah mereguk kenikmatan berdua lebih dari 4 jam lamanya dan hari sudah menjelang sore. Setelah puas berciuman dan bermesraan, kami berdua menuju kamar mandi untuk membasuh keringat yang membasahi tubuh kami, kami saling membasuh dan membelai tak lupa diselingi ciuman-ciuman kecil yang mesra. Setelah selesai kami berpakaian dan menuju lantai bawah ke ruang tengah untuk menonton TV dan menunggu istri dan mertuaku serta anaknya pulang dari kegiatan masing-masing. Sambil menunggu kami masih saling berciuman menikmati waktu yang tersisa, Ima berucap padaku."Adi..kalo gue telpon, kamu mau dateng untuk temenin gue ya sayang.." "Pasti !" jawabku, lalu kami kembali berciuman. Sejak kejadian itu, tiap kali Anto (suaminya) tidak di Jakarta, paling tidak seminggu 2 kali aku pasti datang kerumah Ima iparku itu untuk mereguk kenikmatan berdua hingga larut malam dengan alasan pada istriku lembur atau ada rapat dikantor, dan sebulan sekali aku pasti menghabiskan weekendku merengkuh kenikmatan langit ketujuh berdua Ima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF0000;"&gt;Baca cerita seru lainnya klik dibawah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=131861&amp;amp;onlytitle=1" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-1427177413427620760?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/1427177413427620760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=1427177413427620760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/1427177413427620760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/1427177413427620760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/11/ima-iparku.html' title='Ima iparku'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-4768201623442539943</id><published>2010-10-25T20:47:00.000-07:00</published><updated>2010-10-25T20:49:15.331-07:00</updated><title type='text'>Satu Malam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMZPoCdXAGI/AAAAAAAAAFc/X5By-b0V7Kg/s1600/yuki+kato.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMZPoCdXAGI/AAAAAAAAAFc/X5By-b0V7Kg/s320/yuki+kato.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532196741544607842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berumur 23 tahun, masih single dan kos di suatu rumah di selatan kota J. Sejak aku berumur 18 tahun, aku merasakan bahwa minatku terhadap seks sangat besar. Meski demikian aku tidak pernah berhubungan seks sampai aku berumur 21 tahun, dan kepuasanku hanyalah kudapatkan melalui masturbasi saja. Aku senang mengumpulkan pakaian seksi (luar dalam)..sampai sekarang, karena kuakui tubuhku memang cukup menarik dengan tinggi yang lebih dari wanita lain (172 cm), dan buah dadaku yang merupakan aset utamaku (36B). Aku tak perlu cerita terlalu banyak mengenai kapan pertama  kali aku berhubungan seks. Itu terjadi pada saat aku mulai bekerja sebagai sekretaris dan bos-ku adalah seorang yang genit, meskipun sudah berkeluarga. Hal itu terjadi di ruang kerjanya di kantor pada satu Sabtu siang, dan tak kuduga hal itu sangat kunikmati, dan masuknya sebuah benda asing untuk pertama kalinya dalam tubuhku, meski sakit sedikit, namun kurasakan asyik, apalagi aku sering seks 'swalayan', sehingga tak sulit bagiku untuk mengimbangi ayunan tubuh bos-ku itu.Tapi, bukan ini yang akan kuceritakan. Ada peristiwa yang sangat tak terlupakan dalam pengalamanku bermain seks... Pekerjaanku yang sekarang mengharuskan aku banyak pergi ke luar kota. Suatu ketika aku harus pergi ke kota Y, dan kebetulan aku mendapat flight malam hari. Di pesawat, seorang laki-laki sekitar 35 tahunan, cukup tampan dan badannya kekar duduk di sebelahku. Untuk membunuh waktu, kami berkenalan dan mengobrol. Dia seorang insinyur yang juga sedang tugas, namanya Indra. Dia sudah berkeluarga. Dia akan tinggal di rumah saudaranya di Y. Tapi, kuberikan nama hotel tempatku menginap. Di sela-sela obrolan kami, dia sempat menyinggung mengenai penampilanku yang menarik. Memang, saat itu aku memakai T-shirt tipis putih dan jeans hitam, sementara di baliknya kukenakan BH yang setengah cup tanpa tali sehingga terlihat menerawang. Sebenarnya aku membawa jas, tapi tak kupakai. Aku paham matanya berkali-kali melirik payudaraku, tetapi seakan menggoda aku kerap berlagak tak sengaja  menyentuhkan ke lengannya saat berbicara. Ketika kami berpisah di bandara, Indra menyalamiku sambil berkata ingin bertemu lagi. Aku mengangguk dan menjawab, "Ya.. kamu telpon aku aja!" Kuakui, aku juga tertarik padanya. Pukul 20.30 setelah aku check-in dalam kamar, aku bersiap untuk mandi, menyalakan air hangat di shower. Ketika aku sudah telanjang bulat dan setengah basah, ada ketukan pada pintu kamar. Dengan handuk melilit tubuh, kuintip melalui 'peeping hole' dan kulihat Indra di sana. Aku agak berdebar-debar, tetapi gembira. Dari dalam kusuruh ia menunggu sebentar sementara aku mencari sebuah gaun. Kubuka pintu, dan masuklah Indra, yang saat itu sudah berganti baju dengan T-shirt hitam dan jeans hitam. Ia tampak lain, lebih muda namun matang. Melihatku menatapnya lama, ia tersenyum dan berkata, "Boleh duduk?". "Silakan," sahutku  sambil duduk tepi tempat tidur. Ia ikut duduk di sebelahku dan langsung memegang tanganku. "Mau kubuatkan teh?" tanyaku berbasa basi, padahal aku tahu ia sudah tak kuat menahan diri. Indra menggeleng, "Nggak haus..aku cuma mau ketemu kamu, kok. Aku nggak bisa lupa itu,"katanya sambil menunjuk buah dadaku yang menyembul sedikit dari ujung gaun pendekku. "Masak, sih??" tanyaku genit lalu perlahan berdiri, tapi mendadak sontak dia menarikku kembali ke tempat tidur hingga aku terbaring. 'Ah, mulailah pengalaman terbaruku,'begitu pikirku.Indra menciumi bibirku, melumat-lumat, dan lidahnya bermain-main ganas dalam rongga mulutku, yang tentu saja kubalas dengan panas. Sementara, tangannya mulai memijat-mijat payudaraku, puting susuku kiri kanan, dan tubuhnya menindihku. Aku meregangkan sedikit pahaku, dan terasa penis-nya telah menegang hebat. Di tengah-tengah ciuman hebat, aku menepis tubuhnya dan berdiri di atas ranjang. Kubuka gaunku, hingga kedua payudaraku yang besar dan kenyal itu terbebas. Puting susuku sudah mengeras tanda akupun mulai bernafsu. Indra pun segera meraih turun celana dalamku hingga aku telanjang bulat. Bagai gadis nakal, aku melompat-lompat di atas ranjang, dan menjatuhkan diriku dengan posisi yang sangat merangsang. "Ayo, doong, buka bajumu... Aku gatel banget, nih" godaku.Indra tak bertanya 2 kali, dan langsung melucuti pakaiannya sendiri. Ya ampun, itu kontol besar sekali! Kuperkirakan hampir 20 sentimeter, dan siap menusuk.. Aku cekikikan saat Indra menubruk tubuhku, kembali menciumiku dari mulut, turun ke leher, dan tangannya masih trampil memilin-milin puting susuku yang kian mengeras. Aku merintih nikmat..dan dia terus menelusuri tubuhku dengan lidahnya. Ia memang jagoan.. terutama ketika dengan buas menjilati dan mengulum puting susuku. Luar biasa!!! Ketika beberapa menit tangannya telah mengelus-elus jembut dan permukaan memek-ku hingga telah sedikit membasah, kubalikkan tubuhnya dan aku duduk di atasnya. Mulai kujilati telinganya, lalu kupijit puting susunya hingga ia terpejam. Tanganku meraba kontol raksasa di sela-sela pahanya. Terus bibirku turun hingga ke perut, ke bawah lagi menciumi pangkal pahanya...dia menegang dan mengangkat sebelah kakinya. Kepalaku diarahkan langsung ke kontol-nya.. yah, menyerah sajalah aku dengan gembira. Kukulum sedikit ujung kepalanya sambil kumainkan lidahku diatasnya, hingga ia sedikit menggelinjang kegelian. Lalu kumasukkan semua batangnya hingga mencapai tenggorokanku. Kuhisap sedikit-sedikit dan itu membuatnya mengerang.Indra meraih kepalaku, dan kembali lagi kita berciuman hebat dan bermain lidah. Kurasakan kehangatan di antara pahaku, tersentuh kontol-nya. Tangannya terus memilin-milin puting susuku, sampai beberapa menit kemudian aku merasa sangat basah, dan kubaringkan tubuhku ke atas tempat tidur, dan kuregangkan kakiku selebar-lebarnya. Kutepuk-tepuk memekku  sambil mengajak," Ayo, sayang, masuk dooong! Kaya'nya aku udah ngga' tahan, nih!" Indra terbahak, mengambil posisi setengah merangkak, memainkan kontolnya sebentar di wajahku, meletakkanya di antara kedua payudaraku dan langsung kujepit dengannya, terus turun, perlahan menuju liang kenikmatan. Saat ujung kepala kontolnya menyentuh permukaan memekku, aku menggelinjang kegirangan, bergoyang2 tak karuan, dan menekan pantat Indra yang sudah tidak bisa bicara lagi, agar kontolnya segera masuk. Blessss!!! Akh, akh, akhhhhh ... ke awang2 aku rasanya. Kugoyangkan pinggulku seirama goyangan Indra. Makin cepat, makin kencang, dan secara bersamaan kami setengah menjerit... Aaaaaaaaggh!!Aku merasakan dan mencium bau cairan yang sangat khas mengaliri dada dan perutku. Betapa indahnya malam ini...Indra tergolek di sampingku kelelahan. Kulirik jam tanganku, pukul 22.00. Aku tersenyum dan membatin, "Aku bisa kerja full-energy besok".&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-4768201623442539943?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/4768201623442539943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=4768201623442539943' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/4768201623442539943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/4768201623442539943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/10/satu-malam.html' title='Satu Malam'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMZPoCdXAGI/AAAAAAAAAFc/X5By-b0V7Kg/s72-c/yuki+kato.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-7711768493318499149</id><published>2010-10-25T20:44:00.000-07:00</published><updated>2010-10-25T20:46:43.228-07:00</updated><title type='text'>Ngintip Tante Cantik Dari Manado Mandi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMZO-XH5aII/AAAAAAAAAFU/6o2GHO6AJJc/s1600/addd.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 235px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMZO-XH5aII/AAAAAAAAAFU/6o2GHO6AJJc/s320/addd.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532196025537226882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak tinggal dirumah nenek, aku bener-bener dimanja soal sex, juga soal duit. Sampai suatu ketika rumah nenek kedatangan tamu dari Manado, namanya Tante Wine. Menurut nenek Tante Wine ini tinggalnya di desa jadi agak kolot gitu. Tapi pas pertama dikenalkan, aku tidak melihat wajah desa dari Tante Wine. Raut muka yang cantik (nggak berbeda jauh dengan nenek Elsa) dengan postur yang semampai lagipula putih bersih membuat orang tidak mengira kalau Tante Wine adalah wanita desa. Satu-satunya yang bisa meyakinkan kalau Tante Wine orang desa adalah logat bahasanya yang bener-bener medok.Akupun langsung akrab dengan Tante Wine karena orangnya lucu dan suka humor. Bahkan aku sering ngeledek karena dialeknya yang ngampung itu. Wajahnya keliatan agak Indo dengan tinggi kutaksir 162 cm. Pinggangnya langsing, lebih langsing dari nenek Elsa, dan yang bikin pikiran kacau adalah buah dadanya yang lumayan gede. Aku nggak tau persis ukurannya tapi cukup besar untuk menyembul dari balik daster.Pikiran kotorku mulai bermain dan mengira-ngira. Apakah Tante Wine haus sex seperti kakaknya? Kalau kakaknya mau kenapa adiknya nggak dicoba? Akan merupakan sebuah pengalaman sex yang seru kalo aku bisa menidurinya. Pikiran-pikiran seperti itu berkecamuk dibenak kotorku. Apalagi dengan bisanya aku tidur dengan nenekku, (dan banyak wanita STW) rasanya semua wanita yang umurnya diatas 35 kuanggap akan lebih mudah ditiduri, hanya dengan sedikit pujian dan rayuan.Dirumah, nenek Elsa sudah beberapa kali wanti-wanti padaku jangan sampe aku perlakukan Tante Wine sama sepertinya, rupanya Elsa cemburu karena ngeliat kemingkinan itu ada. Sampai suatu ketika nenek sedang pergi dengan kakek ke Surabaya selama dua hari. Sehari sebelum berangkat aku sempat melampiaskan nafsuku bersama Elsa di sebuah motel deket rumah, biar aman. Disana sekali lagi nenek Elsa wanti-wanti. Aku mengiyakan, aku bersusaha meyakinkan.Setelah nenek dan kakek berangkat aku mulai menyusun rencana. Dirumah tinggal aku, Tante Wine dan seorang pembantu. Hari pertama niatku belom berhasil. Bebeapa kali aku menggoda Tante Wine dengan cerita-cerita menjuurus porno tapi Tante nggak bergeming. Saking nggak tahan nafsu ingin menyetubuhi Tante Wine, malamnya aku coba mengintip saat dia mandi. Dibelakang kamar mandi aku meletakkan kursi dan berencana mengintip dari lubang ventilasi. Hari mulai malam ketika Tante Wine masuk kamar mandi, aku memutar kebelakang dan mulai melihat aktifitas seorang wanita cantik didalam kamar mandi. Perlahan kulihat Tante Wine menanggalkan daster merah jambunya dan menggantungkan di gantungan. Ups! Ternyata Tante Wine tidak memakai apa-apa lagi dibalik daster tadi. Putih mulus yang kuidam0idamkan kini terhampar jelas dibalik lubang fentilasi. Pertama Tante Wine membasuk wajahnya. Sejenak dia bengong dan tiba-tiba tangannya mengelus-elus lehernya, lama. Perlahan tangan itu mulai merambah buah dadanya yang besar. Aku berdebar, lututku gemetaran melihat adegan sensual didalam kamar mandi. Jemari Tante Wine menjeljah setiap jengkal tubuhnya yang indah dan berhenti diselangkangannya. Badan Tante Wine bergetar dan dengan mata mengatup dia sedikit mengerang ohh! Dan tubuhnya kelihatan melemas.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Dia orgasme. Begitu cepatkah? Karena Mr. Happy-ku juga sudah menggeliat-geliat, aku menuntaskan nafsuku dibelakang kamar mandi dengan mata masih memandang ke dalam. Nggak sadar aku juga mengerang dan spermaku terbang jauh melayang.Dalam beberapa detik aku memejamkan mata menahan sensasi kenikmatan. Ketika kubuka mata, wajah cantik Tante Wine sedang mendongak menatapku. Wah ketahuan nih. Belum sempat aku bereaksi ingin kabur, dari dalam kamar mandi Tante Wine memanggilku lirih. “Andy, nggak baik mengintip,” kata tante Wine. “Ma ma maafin,” jawabku gagap. “Nggak apa-apa, dari pada disitu mendingan..,” kata Tante Wine lagi sambil tangannya melambai dan menunjuk arah ke dalam kamar mandi.Aku paham maksudnya, dia memintaku masuk kedalam. Tanpa hitungan ketiga aku langsung loncat dan berlari memutar kedalam rumah dan sekejab aku sudah stand by di depan pintu kamar mandi. Mataku sedikit melongok sekeliling takut ketahuan pembantu. Hampir bersamaan pintu kamar mandi terbuka dan aku bergegas masuk. Kulihat Tante Wine melilitkan handuk ditubuhnya. Tapi karena handuknya agak kecil maka paha mulusnya jelas terlihat, putih dan sangat menggairahkan. “Kamu pake ngitip aku segala,” ujar Tante Wine. “Aku kan nggak enak kalo mau ngomong langsung, bisa-bisa aku di tampar, hahaha,” balasku.Tante Wine memandangku tajam dan dia kemudian menerkam mulutku. Dengan busanya dia mencumbuku. Bibir, leher, tengkuk dan dadaku nggak lepas dari sapuan lidah dan bibirnya. Melihat aksi ini nggak ada rasa kalo Tante Wine tuh orang desa. Ternyata keahlian nge-sex itu tak memandang desa atau kota ya.Sekali sentak kutarik handuknya dan wow! Pemandangan indah yang tadi masih jauh dari jangkauan kini bener-bener dekat, bahkat menempel ditubuhku. Dalam posisi masih berdiri kemudian Tante Wine membungkuk dan melahap Mr. happy yang sudah tegak kembali. Lama aku dihisapnya, nikat sekali rasanya. Tante Wine lebih rakus dari nenek Elsa. Atau mungkin disinilah letak ‘kampungan’nya, liar dan buas. Bebrapa detik kemudian setelah puas mengisapku, tante Wine mengambil duduk dibibir bak mandi dan menarik wajahku. Kutau maksudnya. Segera kusibakkan rambut indah diselangkangannya dan bibir merah labia mayora menantangku untuk dijilat. Jilatanku kemudian membuat Tante Wine menggelepar. Erangan demi erangan keluar dari mulut Tante Wine. “Andi kamu hebat, pantesan si Elsa puas selalu,” cerocos Tante Wine. “Emangnya Tante Wine tau?” jawabku disela aktifitas menjilat. “Ya nenekmu itu cerita. Dan sebelum ke Surabaya dia wanti-wanti jangan menggodaku, dia cemburu tuh,” balas Tante Wine.Ups, rupanya rahasiaku sudah terbongkar. Kuangkat wajahku, lidahku menjalar menyapu setiap jengkal kulit putih mulus Tante Wine. “Sedari awal aku sudah tau kamu mengintip, tapi kubiarkan saja, bahkan kusengaja aja tadi pura-pura orgasme untuk memancingmu, padahal sih aku belum keluar tadi, heheh kamu tertipu ya, tapi Ndy, sekarang masukin yuk, aku bener-bener nggak tahan mau keluar,” kata Tante Wine lagi.Aku sedikit malu juga ketahuan mengintip tadi.Masih dalam posisi jongkok di bibir bak mandi, kuarahkan Mr. happy ke vaginanya. Tante Wine mengerang dan merem melek setiap kuenjot dengan batang kemaluanku yang sudah besar dan memerah. Lama kami bertarung dalam posisi ini, sesekali dia menarik tubuhku biar lebih dalam. Setelah puas dengan sensasi ini kami coba ganti posisi. Kali ini dalam posisi dua-duanya berdiri, kaki kanannya diangkat dan diletakkan diatas toilet. Agak sedikit menyamping kuarahkan Mr. Happy ke vaginanya. Dengan posisi ini kerasa banget gigitan vaginanya ketiga kuenjot keluar masuk. Kami berpelukan dan berciuman sementara Mr. Happy masih tetep aktif keluar masuk. Puas dengan gaya itu kami coba mengganti posisi. Kali ini doggie style. Sambil membungkuk, tante Wine menopangkan tangan di bak mandi dan dari belakangnya kumasukkan kemaluanku. Uhh terasa nikmatnya karena batang Mr. Happy seakan dijepit dengan daging yang kenyal. Kutepuk tepuk pantatnya yang mulus dan berisi. Tante Wine mendesis-desis seperti kepedesan. Lama kami mengeksplorasi gaya ini.Dalam beberapa menit kemudian Tante Wine memintaku untuk tiduran di lantai kamar mandi. Walaupun agak enggan, kulakuin juga maunya, tapi aku tidak bener-bener tiduran karena punggungku kusenderkan didinding sementara kakiku selonjoran. Dan dalam posisi begitu aku disergapnya dengan kaki mengangkangi tubuhku. Dan perlahan tangan kanannya memegang Mr. Happy, sedikit dikocoknya dan diarahkan ke vagina yang sudah membengkak. Sedetik kemudian dia sudah naik turun diatas tubuhku. Rupanya Tante Wine sangat menikmati posisi ini. Buktinya matanya terpejam dan desisannya menguat.Lama kubiarkan dia menikmati gaya ini. Sesekali kucium bibirnya dan kumainkan pentil buah dadanya. Dia mengerang nikmat. Dan sejenak tiba-tiba raut mukanya berubah rona.Dia meringis, mengerang dan berteriak.Tangannya meraih tubuhku dan aku dipeluknya erat. Tubuhnya menggeliat-geliat panas sekali. “Ohh,” ditingkah erangan itu, kemudian tubuhnya melemah dipangkuanku.Dalam hatiku curang juga nih Tante, masak aku dibiarkan tidak tuntas. Masih dalam posisi lemas, tubuhnya kutelentangkan di lantai kamar mandi tanpa mencabut mr happy dari vaginanya. Dan perlahan mulai kuenjot lagi. Dia mengerang lagi mendapatkan sensasi susulan. Uh tante Wine memang dahsyat, baru sebentar lunglai sekarang sudah galak lagi. Pinggulnya sudah bisa mengikuti alur irama goyanganku. Lama kami menikmati alunan irama seperti itu, kini giliranku mau sampai. “Tante aku mau keluarin ya”, kataku menahan gejolak, bergetar suaraku. “Sama-sama ya Ndy, aku mau lagi nih, ayo, yok keluarin, yok, ahh”.Dibalik erangannya, akupun melolong seperti megap-megap. Sejurus kemudian kami sudah berpelukan lemas dilantai kamar mandi. Persetan dengan lantai ini, bersih atau nggak, emangnya gue pikirin. Kayaknya aku tertidur sejenak dan ketika sadar aku segera mengangkat tubuh Tante Wine dan kamipun mandi bersama. Selesai mandi, kami bingung gimana harus keluar dari kamar mandi. Takut Bi Ijah tau. Kubiarkan Tante Wine yang keluar duluan, setelah aman aku menyusul kemudian. Namun bukannya kami kekamar masing-masing, Tante Wine langsung menysul ke kamarku setelah mengenakan daster. Aku yang masih telanjang di kamarku langsung disergapnya lagi. Dan kami melanjutkan babak babak berikutnya. Malam itu kami habiskan dengan penuh nafsu membara. Kuhitung ada sekitar 7 kali kami keluar bersama. Aku sendiri heran kenapa aku bisa orgasme sebanyak itu. Walaupun di ronde-ronde terakhir spermaku sudah tidak keluar lagi, tapi rasa puas karena multi orgasme tetap jadi sensasi.Selama 2 hari nenek Elsa di Surabaya, aku habiskan segala kemampuan sexualku dengan Tante Wine. Sejak kejadian itu masih ada sebulan tante Wine tinggal dirumah nenek Elsa. Selama itu pula aku kucing-kucingan bermain cinta. Aku harus melayani nenek Elsa dan juga bermain cinta dengan Tante Wine. Semua pengalaman itu nyata kualami. Aku nggak merasa capek harus melayani dua wanita STW yang dua-duanya punya nafsu tinggi karena aku juga menikmatinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-7711768493318499149?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/7711768493318499149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=7711768493318499149' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/7711768493318499149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/7711768493318499149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/10/ngintip-tante-cantik-dari-manado-mandi.html' title='Ngintip Tante Cantik Dari Manado Mandi'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMZO-XH5aII/AAAAAAAAAFU/6o2GHO6AJJc/s72-c/addd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-8070923372190161267</id><published>2010-10-21T23:13:00.000-07:00</published><updated>2010-10-21T23:18:42.795-07:00</updated><title type='text'>Aida the Stories Ch. 03 : Hard Truck</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Truk tentara yang kami gunakan menuju bumi perkemahan di Malang itu telah berhenti di pelataran parkir. Agung dan Anton membantu menurunkan tas ranselku. Dari kejauhan aku melihat Taufik sedang berbincang-bincang dengan kedua sopir truk itu. Dan entah apa itu perasaanku saja, tapi kedua sopir truk itu seolah melihat ke arahku. Begitu selesai menurunkan barang, teman-teman segera menuju ke kapling perkemahan yang sudah disewa, kecuali Anton dan Taufik yang sepertinya masih ada urusan dengan para sopir truk itu. Tidak lama kemudian Taufik memanggilku, kontan saja perasaanku berubah jadi tidak enak. Benar saja, setelah mendekat, Anton langsung mengambil alih barang bawaanku dan bergegas pergi, sedangkan Taufik bicara perlahan ke arahku. “bapak-bapak ini pingin make kamu Da, kamu naik ke dalam truk gih!”. Ujar Taufik pelan, aku tahu benar, ini perintah bukan permintaan. “ini pak Basuki dan yang ini pak Aryo” ujar Taufik sambil memperkenalkan aku kepada kedua sopir itu.Keduanya berpostur tubuh bagus meski sudah berumur sekitar 40-an, itu karena mereka adalah supir truk mariner. Potongan keduanya cepak, hanya saja Pak Aryo berkulit gelap. Akhirnya akupun naik ke bangku depan truk, diapit Pak Aryo dan Pak Basuki yang memegang kemudi. Taufik sendiri tidak ikut. Aku jadi takut, selama ini aku belum pernah melayani laki-laki yang usianya jauh lebih tua dariku, apalagi aku tidak tahu mereka akan membawaku kemana. “kembali utuh lho pak…” pesan Taufik ketika mesin truk sudah menyala dan mereka siap pergi. Pak Basuki hanya tersenyum lebar. “beres” ucapnya. “utuh kok, paling cuman gak kuat jalan aja..”.Remasan Pak Aryo terasa sangat kasar, namun mantap dan terasa sangat nikmat. Mataku terpejam dan ninirku setengah terbuka setiap kali Pak Aryo mempermainkan putingku. Entah sejak kapan tubuhku sudah jatuh tersandar pada dadanya yang bidang dan keras. Benar-benar berbeda dengan remasan-remasan yang kudapatkan selama ini. Libidoku cepat sekali naik dan vaginaku sudah benar-benar basah hanya karena sentuhan di payudaraku!! Aku setengah sadar saat Pak Basuki membimbing tanganku untuk membuka resleting celananya dan memainkan barangnya. Akupun menuruti kemauanya. Pak Aryo melumat bibirku ganas, bau rokok dari mulutnya menyebar ke mulutku, lidahnya menyapu dahsyat dan akupun membalasnya dengan ganas. Tangan pak Aryo beralih menyingkap rokku ke atas, jarinya menelusup ke balik CD ku dan memainkan jarinya keluar masuk kewanitaanku. Aku sudah tidak berdaya, dengan baju yang kusut dan rok yang tersingkap, aku Cuma bisa mengerang, semakin cepat permainan jari Pak Aryo, semakin keras eranganku. Tubuhku kusandarkan lemas pada dada Pak Aryo yang semakin bernafsu memainkan vaginaku, nafasku tidak teratur, vaginaku benar-benar becek. Akhirnya truk itu berhenti di sebuah jalanan sepi. Aku dan mereka berdua turun dan melanjutkan permainan ke bak belakang truk yang sebelumnya sudah ditutup. Tanpa segan mereka berdua melepas pakaiannya dan melucuti seluruh pakaianku. Aku ditelentangkan di lantai truk, sekilas aku terkejut saat melihat kemaluan Pak Basuki yang jauh lebih besar dan berotot dibandingkan punya Faruk yang sudah kurasa besar. Tanpa bicara Pak Basuki memasukkan penisnya mulutku, akupun kesulitan menghisap penis sebesar itu. Sedang Pak Aryo asyik meremas dan menjilat serta menggigit-gigit putting susuku. Mereka melakukannya bergantian. Puas dengan mulutku, mereka mengambil posisi, Pak Basuki yang pertama, dia melebarkan selangkanganku dan menancapkan penisnya sedikit-demi sedikit, seolah-olah dia sangat menikmati hal ini. “eghhhh…ehmmm..akkkkh……. aduuuh paaaAAKK!!&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;….”jeritku, meski sudah sangat basah aku merasa vaginaku tidak mampu menampung penis Pak Basuki, dinding-dinding vaginaku seperti tertarik. Pak Basuki tetap tenang dan mengerang pelan sampai seluruh penisnya amblas ke dalam vaginaku. Lalu dia membiarkanku mengambil nafas. Sebelum dengan tiba-tiba dia menggenjotku dengan irama yang teratur dan cepat, aku kesakitan, meringis dan menjerit, tapi genjotan Pak Basuki malah semakin menggila. Herannya, berapa menit kemudian aku orgasme. Ini adalah orgasme tercepatku, mungkin ini bedanya kalau disetubuhi oleh orang yang lebih tua dan berpengalaman. PAk Basuki membiarkan aku sebentar, lalu kembali memompa penisnya di dalam vaginaku. “Aggh…ah…hmm…sshh…” desahanku semakin kencang, libidoku naik kembali, tubuhku berkelenjotan digenjot Pak Basuki. “enak banget… ehm… enak banget m3mekmu… sempit… kmu apain?” tanyanya sambil mempercepat genjotannya. “ugh…ra..rajin…mm..minum daun sirih pak…ahh…sshh…. enak pak…” jawabku terputus-putus.Dua puluh menit Pak Basuki menindihku, kewanitaanku benar-benar terasa perih dan panas. “ah…aukkkh…agh..agh…agh…auwww” aku hanya menjerit sambil menggeleng-gelengkan kepalaku menahan sakit. Tubuhku benar-benar dihimpit dan kemaluanku benar-benar dipacu sangat kasar dan cepat.  “sss…sssakit…agh….agh…auww…uhuhhh…” tanpa sadar aku mengeluarkan air mata. Pak Basuki tidak perduli. Waktu terasa sangat lama berjalan, rasa nikmat memang ada, tapi begitu juga rasa sakit. “bapak keluar… keluarin di dalam ya?” katanya berbisik ditelingaku sambil menekan-nekan penisnya lebih dalam dan cepat lagi. Aku hanya mengangguk pelan, cowok-cowok memang suka banget ngeluarin di dalam, pikirku.Akhirnya Pak Basuki menusukkan penisnya dalam-dalam, aku yang menyadari kalau dia mau ejakulasi menyambutnya dengan erangan keras. Dan cairan hangat menyembur ke rahimku.Tubuhku penuh dengan keringat, keringatku dan Pak Basuki. Pak Basuki sendiri terlihat sangat puas. Pak Aryo tidak menyia-nyiakan kesempatan barang semenit, dengan santai tubuhku yang lemas dibimbingnya dan kepala juga dadaku dinaikkannya ke jok truk, dia mau menunggangiku dari belakang. “engghh… pelan pe..lan… agghh…” Aku yang sudah lemas hanya bisa melenguh pelan saat k0ntol pak Aryo melesak masuk ke vaginaku. Mudah saja penisnya masuk, vaginaku sudah amat basah dari campuran cairan kewanitaan dan sperma pak Basuki. Pak Basuki sudah mengenakan baju lengkapnya, dan beranjak keluar. Tak lama kemudian, mesin truk menyala. “eengh….ah…ah… ehm..ehmm…” lenguhku saat Pak Aryo asik menyetubuhiku di posisi doggy style. Payudaraku yang terhimpit jok ikut bergoyang karena tubuhku sudah benar-benar lemas. “Enak banget tempikmu lonte!!” kata Pak Aryo sambil mempercepat pacuannya. “Gua bakal entot loe ampe pagi! Tempik cewek kuliahan emang beda!!.” katanya. Kupingku panas mendengarnya, tapi aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa merintih dan semakin keras merintih.Tiba-tiba Pak Aryo menarik rambutku, hingga tubuhku tertekuk ke belakang, genjotannya semakin kencang, aq bisa mendengar bunyi kocokan penisnya di kemaluanku, tangan kanannya mencengkeram pinggulku erat-erat, dan dia terus memperkuat genjotannya. “Aaaah! Aaakh! Aakh pak! Sss..sssakit! Sakit!” jeritku. “Diam loe lonte kuliahan!!” Bentak Pak Aryo.Aku terus menjerit, tapi Pak Aryo tidak perduli. Setelah beberapa saat, akhirnya dia melepaskan jambakan dan genggamannya, mambalikkan tubuhku dan memerintahku. “pakai bajumu dan ISAP!!”. Pak Aryo mengeluarkan hp-nya dan mulai menekan tombol rekam. Dia menyodorkan penisnya ke wajahku.Tanpa disuruh, aku menghisap penisnya cepat-cepat, beberapa menit kemudian dia menarik lepas penisnya dan mengeluarkan air maninya di wajahku, sangat banyak, menetes2 hingga menodai kaosku, lalu dipaksakannya penisnya masuk ke mulutku, dan ajaib! Dia mengeluarkan air maninya sekali lagi didalam mulutku, aku menelannya dan menjilati penisnya hingga benar-benar bersih. Semuanya direkam olehnya. “puas banget gua ngentot cewek kuliahan kayak loe!!”. Katanya, “sekarang pake baju loe semua, kecuali bra ama CD!!”. Aku menurut saja.Setelah merapikan pakaianku aku merasa truk mulai berhenti. “ayo turun, kita mampir sebentar” ujar Pak Aryo. aku menurut saja, dan begitu melihat sekitar ternyata aku berada di sebuah Markas batalyon di Malang. tampak seorang tentara muda mendekat dan berbincang-bincang dengan Pak Aryo. “kamu bakal kita balikin ke kamp da..” ujar Pak Basuki pelan. “tapi ga mungkin dengan keadaan kumal gitu, kamu mandi dulu disini, toh kita juga butuh mandi, dan setelah mandi ntar kamu layanin dulu tentara muda itu, dia komandan disini” “layani dia pak?” “iya, bersetubuh ma dia, tapi kayaknya dia bakal ajak beberapa orang kepercayaannya” “aduh pak, saya capek, bapak tau sendiri kan tadi perjalanan Surabaya-Malang saya dipake temen-temen, trus dipake bapak-bapak” “iya deh ntar saya coba lobby supaya dia ga ngajak temennya banyak-banyak, tapi kmu pinter ya? minum daun sirih buat ngesetin m3mek kmu?” “saya emang dah biasa pak, dari kecil”Pak Aryo selesai bicara dengan tentara muda itu, lalu mereka mendekatiku. “kamu ikut mas Pras ini, mandi sana trus kita pulangin ke kamp”Aku menurut saja, mengikuti Pras dari belakang, ia mengantarku ke sebuah kamar mandi di belakang barak, dan aku terkejut mengetahui kamar mandi itu gak ada pintunya. “dah kmu mandi sana” ujar Pras sambil mencolek dadaku, “ntar aku sama temenku make kamu di kamar mandi itu oke?”. “mas sendiri aja ya?, ga usah pake temen?” pintaku memelas. “lho? kenapa?” “saya capek mas, hari ini digilir banyak orang” “oke deh, ya udah mandi sana, saya liatin dari sini”Perlahan tapi pasti aku melepaskan kuncirku, rambutku yang sebahu tergerai luluh, Mas Pras masih memandangiku dengan senyum-senyum sendiri. Meski sedikit risih, aku mencoba bertahan dengan melepaskan pakaian terusanku, dan segeralah terlihat payudara dan vaginaku yang memang tak tertutup bra maupun CD. Aku maju sedikit untuk menyentuh air di bak, dingin sekali, pikirku, segera kuambil segayung air dan sambil mencoba mengacuhkan dinginnya mala itu aku mengguyur tubuhku dengan air, dan mulai mandi. Kuambil sabun batangan yang ada di dekat bak dan kugosok-gosokkan ke tubuhku. Begitu selesai aku mengambil handuk dan mengeringkan tubuhku, belum selesai aku mengeringkan tubuhku, Mas Pras sudah menubrukku dari belakang, meremas-remas payudaraku lemas, aku mengerang sedikit dan pasrah dalam pelukannya.Tidak butuh waktu lama bagiku untuk hanyut dalam cumbuan Mas Pras, dan juga tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari kalau dia tidak lagi mengenakan celana, penisnya menegang dan menggesek-gesek belahan pantatku.Aku segera berbalik, berlutut di depan k0ntolnya dan mulai membuka mulutku, memasukkan kepala penisnya dengan hati-hati, memainkan lidahku, dan menghisapnya sekuatku. “ehmm… engg…” erang Mas Pras setiap kuhisap penisnya kuat-kuat. “masukkan…hmm…. Yang dalam…” perintahnya, tanpa menunggu dia memegang kepalaku dan mengocok penisnya dalam mulutku. Aku sedikit sulit berkosentrasi dengan tarikan di kepalaku, sekitar 2 menitan dia melepas kepalaku dan menarik k0ntolnya dari mulutku. “pegangan ke bak, aku mau nunggangin kamu dari belakang!” perintahnya, dan segera setelah aku menungging dia melesakkan k0ntolnya ke temp1kku. “Akkhh…” desahku kecil saat k0ntolnya menembus tiap lapis dinding luar vaginaku. Tanpa menunggu lama, mas Pras menggoyangku. Erangannya merasakan setiap kenikmatan saat menunggangiku menggema ke seluruh kamar mandi. Membuat desahanku juga jadi semakin kencang. “ukh… enak… lama banget ga ngerasain tempikk… ukh…” ujarnya sambil memepercepat tunggangannya. “akh! Akh!… akh… uuh… ssshh…” desahku sambil berusaha menerima goyangannya yang semakin kencang. Wajahku megap-megap dan mataku merem melek menikmati goyangannya.Dicengkerammnya pinggulku dan ditekannya penisnya dalam-dalam sambil menarik pinggulku, sehingga pantatku menekan perutnya, aku jadi lemas, pasrah, dan lelah, kenikmatan yang kurasakan lambat-laun semakin mengambil-alih kendali atas tubuhku. “akh! Akh!…uhmm… teruss… mas… aku… samp…sampai… AAAAgH!!!” akhirnya tubuhku mengejang, Mas Pras menghentikan gerakannya sekitar lima detikan, lalu kembali menunggangiku. Setelah beberapa menit dia menghujamkan penisnya dalam-dalam dan mengejang, aku dapat merasakan hangat spermanya yang mengisi kewanitaanku. Setelah puas dia memintaku membersihkan penisnya dengan lidahku. “enak banget!” katanya, “aku bawa ke barak ya? Biar dient0t ma temen-temenku juga?” katanya, tapi aku buru-buru menolak sambil memasang wajah lemas.Untung dia mengurungkan niatnya. Malam itu aku dikembalikan ke Bumi Perkemahan Malang, dimana ternyata anak-anak sedang pesta seks gila-gilaan di alam terbuka, bahkan beberapa pria yang ikut bukan dari kampusku.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-8070923372190161267?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/8070923372190161267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=8070923372190161267' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/8070923372190161267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/8070923372190161267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/10/aida-stories-ch-03-hard-truck.html' title='Aida the Stories Ch. 03 : Hard Truck'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-5520401938807548976</id><published>2010-10-21T23:05:00.000-07:00</published><updated>2010-10-21T23:10:29.336-07:00</updated><title type='text'>Chapter 2: Road to Malang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEqmeR2AVI/AAAAAAAAAFM/gz9t6_fxHfQ/s1600/shl4izsq.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 236px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEqmeR2AVI/AAAAAAAAAFM/gz9t6_fxHfQ/s320/shl4izsq.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530748657838981458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Huda masih menyodok vaginaku dalam posisi Doggy Style, desahan-desahan kecil keluar dari mulutku seiring keluar masuknya penis kurusnya di vaginaku. Desahan nafas huda terdengar makin cepat, cengkeraman tangannya semakin kencang di kedua payudaraku.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Tak lama Huda mempererat goyangannya tangannya beralih mencengkeram pinggangku sambil memasukkan penisnya lebih dalam lagi. “Engggh….” erangku pelan saat merasakan cairan sperma Huda yang hangat memenuhi liang senggamaku.Ini adalah pertama kalinya Huda menyetubuhiku. Dengan ini, berarti semua pria di kelasku sudah pernah menyetubuhiku, menikmati tubuhku yang kencang ini. Tubuhku tersungkur lemas di lantai kamar Yogi yang dilapisi karpet warna hijau, tanpa bicara sepatah katapun Huda mengambil tissue dan membersihkan ceceran sperma yang menetes di karpet, raut kepuasan terpancar dari wajah kampungannya. Cowok berwajah di bawah standart itu baru saja menikmati tubuhku, seorang gadis yang jadi idola kampus. Malam ini aku terpaksa (lagi) menginap di rumah Yogi, orang tuanya sedang ke rumah neneknya, jadi dia hanya tinggal dengan adik laki-lakinya yang saat ini kelas 2 SMU. Yang mana tanpa sepengetahuan Yogi sendiri, adiknya sering meniduriku kalau Yogi keluar, bahkan pernah mengajak teman-temannya menunggangiku bersamaan. Kupaksakan kaki yang masih lemas untuk mengenakan kembali pakaianku, lalu keluar ke kamar mandi untuk mencuci tubuhku, seusai mandi aku meminum pil anti hamil, seperti malam-malam sebelumnya, untuk antisipasi agar aku tidak hamil jika besok ada yang menyetubuhiku.Huda sudah tidak terlihat lagi di kamar. Hanya Yogi yang dari awal menyaksikan langsung persetubuhanku dengan Huda duduk dan asyik mengedit hasil rekaman persetubuhanku dengan Huda barusan. Aku beranjak naik ke tempat tidur untuk beristirahat,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sebelum aq terlelap dalam tidur, Yogi sempat mengingatkan tentang camping bersama yang akan diadakan 2 hari dari sekarang, bersama anak-anak kelas C. Hanya 2 gadis dari kelas B yang diajak yaitu aku dan Yungky (yang juga telah menjadi budak seks mereka), jadi aku tahu sekali kalau aku akan jadi bahan pertukaran antar kelas.Catur membawakan tas punggungku dan menaruhnya ke dalam bak &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;truk tentara yang akan menjadi sarana transportasi kita ke Malang. Sebenarnya tidak perlu menyewa truk, toh ini hanya camping biasa, bukan OSPEK. Anak-anak kelas C sibuk menaruh barang mereka di truk masing-masing, begitu pula kami. Siswa kelas C ada 55 orang, tapi yang saat ini ikut camping hanya sekitar 20 orang, 15 cowok dan 5 cewek. Sedangkan seluruh cowok kelas kami (kelas B) yang berjumlah 25 orang ikut semua, yang cewek hanya 4 orang, aku, Yungky, Adhelia dari kelas E dan Poppy dari kelas F. Entah bagaimana, tapi sepertinya Taufik dkk telah berhasil membuat mereka menjadi budak seks juga. Di antara pria kelas C ada seseorang yang bernama Agung, yang sering digosipkan menaruh hati padaku, setiap aku melewati kerumunan anak-anak kelas C pasti mereka menyebut nama Agung keras-keras. Agung berperawakan kecil dan pendek, kulitnya tidak terlalu gelap namun bibirnya sedikit monyong, benar=benar bukan seleraku. Dan sepertinya sebentar lagi dia akan ikut menikmati tubuhku. “Oke Aida, Adhel ama Yungky ikut truk anak kelas C” komando Taufik. Aku sempat protes tapi mereka tidak peduli, sebagai gantinya, 4 cewek kelas C ikut truk kelas B. sepertinya mereka mau meraba-raba tubuh kami di sepanjang perjalanan nanti.Walhasil aku sekarang duduk diantara cowok-cowok kelas C yang dengan sengaja menyentuh-nyentuh pantatku saat membantuku naik ke truk tadi. Dan dengan sengaja juga mereka mendudukkanku di sebelah Agung sambil menyorakinya. Agung memang pernah bilang ke teman-temannya kalau dia naksir aku sejak semester satu. Truk berjalan, akan makan waktu 3 jam untuk sampai di lokasi camping di Malang, aku dan Agung hanya mengobrol saja. Lalu Agung mulai memberanikan diri memegang tanganku, aku diam saja, Agung terlihat sangat kikuk. Yang lain mulai menyoraki Agung agar bertindak lebih jauh, Agung semakin bingung dan salah tingkah. Tidak sabar melihat sikap Agung, Anton, ketua kelas C yang bertubuh gemuk menghampiriku dan menarik tanganku sehingga aku berdiri. “begini loh Gung!” ujar Anton sambil mendekap tubuhku dari belakang, tangan kanannya meremas-remas buah dadaku yang masih tertutup T-shirt. “nih, terus diginiin” katanya sambil meletakkan tangan kirinya tepat di selangkanganku, lalu mulai menggerak-gerakkan jarinya dari luar rok selututku. Tak perlu waktu lama bagi libidoku untuk naik, aku memang paling tidak tahan bila daerah selangkangku dipermainkan. Apalagi saat itu semua mata di truk memandang ke arahku, menambah sensasi tersendiri bagiku. Secara refleks mataku terpejam dan aku mengeluarkan desahan halus tanda kenikmatan. Tiba-tiba Anton menghentikan aktifitasnya dan mendorongku jatuh ke pangkuan si Agung. “tuh! Gituin! Cepetan! Yang lain juga pengin!” ujar Anton sambil kembali duduk di tempatnya.Aku kini duduk di pangkuan Agung, penisnya yang sudah tegang terasa sekali menonjol menyentuh pantatku. Tanpa banyak bicara dia meremas payudaraku dari luar, akupun menjatuhkan tubuhku pasrah dipangkuannya. Tidak perlu waktu lama bagi tangannya untuk menelusup ke balik Kaos dan BHku, meremas dan memain-mainkan putingku yang sudah dari tadi mengeras. Aku memalingkan wajahku ke belakang dan bibir kamipun berpagutan, kecupan-kecupan berubah menjadi hisapan-hisapan sebelum akhirnya menjadi sapuan-sapuan lidah yang sangat menggebu-gebu. Tangan kanannya masih aktif dengan payudara kiriku sedang entah sejak kapan, tangan kirinya telah bermain menusuk-nusuk pamgkal pahaku yang masih tertutup celana dalam. Aku menjadi sangat horny, aku tidak tinggal diam, tangan kiriku meremas-remas tonjolan di celananya, tampaknya dia sangat menikmatinya. Aku sudah tidak tahan lagi, biasanya kalau sudah begini cowok di kelasku pasti sudah menyodorkan penisnya untuk ku oral. Tapi Agung tampak sangat polos. Aku isep ya?” akhirnya aku tidak tahan untuk tidak memintanya, Agung mengangguk dan melepas pelukannya, aku berdiri lalu berlutut di dekat selangkangannya, dan mulai membuka resleting celananya. Di sisi lain truk terdengar desahan keras, begitu kutoleh ternyata Adhelia dan Yungky sudah mulai dipakai bersamaan. Adhelia asal Madiun yang berwajah indo dengan badan sintal itu tersentak-sentak menerima genjotan Erik yang berkulit hitam sedang Yungky yang memang bunga kelas dengan wajah manis, tubuh langsing, kulit putih dan payudara kencang mengulum penis Dirman yang kurus tinggi sementara dibelakangnya Joko yang berbadan gemuk memompanya tanpa ampun. Aku jadi semakin horny melihatnya, maka begitu penis Agung yang lumayan panjang dan kurus itu keluar dari celananya aku segera mengocok dan memasukkannya ke dalam mulutku, kuhisap dan kukeluar-masukkan ke dalam mulutku dengan cepat, diiringi sapuan lidah dan ludahku. “SShmmm… Owh… ennak Da isepanmu… mmhh….”&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Agung mengerang keenakan sambil nafasnya terus memburu. Akhirnya setelah beberapa menit mengoral, Agung berdiri dan merebahkan tubuhku di kursi. “aku nggak tahan Da, aku pakai kamu sekarang…” ujarnya dengan nafas tak teratur sambil tangannya menggulung rokku hingga ke pinggang, dan langsung melucuti celana dalamku, dia membuka celana dan celana dalamnya, lalu membimbing penisnya ke vaginaku yg sudah lumayan basah. “EEngghh…” erangku. Dalam hitungan detik penisnya memasuki rongga kewanitaanku yang sudah basah, tubuhku menggelinjang sambil mendesah keras, detik berikutnya, dia mengeluar-masukkan penisnya dengan berirama dan sangat cepat, membuat erangan dan desahanku semakin cepat juga. “akh akh ukh akh a…gung.. akh aaah… ssshh…” desahku mengimbangi goyangannya yang semakin cepat. “Aw…akh akh akh uh akh ah ahaaa ahaa akh…” desahku semakin kencang, aku hampir saja orgasme ketika kurasa Agung menghentikan genjotannya dan melesakkan penisnya lebih dalam. “Ahhak…akh…” desisku saat penisnya menancap sangat dalam dan memuntahkan cairan hangatnya di rahimku. Sial pikirku, padahal aku hampir saja orgasme!!.Melihat Agung telah mencapai ejakulasi, Anton (yang ternyata dari tadi memperhatikan) bergegas menarik tubuh Agung ke belakang. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“Minggir loe! Lama amat dari tadi” katanya sambil menjauhkan Agung dariku. Tanpa banyak kata Anton mendekatiku dan melepas celana serta celana jeansnya. Penisnya yang kepalanya cukup besar di pegangnya dengan tangan kanan. Anton mengangkat kedua kakiku dan meregangkannya, hingga vaginaku yang sudah bercampur dengan cairan Anton terpampang jelas. Detik berikutnya aku mengerang saat kepala penisnya mulai menjarah liang senggamaku. “augghm… ehm…” desahku. Anton menekan terus penisnya lambat-lambat hingga seluruh batangnya menyatu dengan vaginaku. Terlihat betul dia menikmati jepitan vaginaku. “gila… bener-bener enak… hebat kamu Da” puji Anton sambil mulai menggenjotku. “aah…akh..akh ekhm..uukh..hhh…sshhh” ceracauku saat penisnya keluar masuk dengan cepat. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“augh..ugh…ugh…” jeritanku semakin kencang, begitu pula genjotan Anton. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kembali larut dalam permainan seks, karena tadi aku sudah hampir orgasme.Wawan dan Satria bergerak menghampiri tubuhku yang sedang digenjot oleh Anton. Di tengah-tengah desahanku, dengan santai mereka membantuku duduk dan melepaskan T-shirtku diikuti BHku. Sementara Anton tidak menghentikan aksinya sama sekali, membuat tubuhku sedikit terlonjak-lonjak. “kita gabung bro…” ujar Satria. “jadi lebih hot”.Tubuhku direbahkan kembali, aku hanya menurut karena memang nafsuku sedang diujung tanduk. Sementara itu Anton semakin memasuk-masukkan penisnya semakin dalam, membuatku mengeluarkan teriakan-teriakan kecil.Tidak lama kemudian Satria sudah menyodorkan penisnya ke mulutku dan memasukkannya. Sambil menikmati genjotan Anton, aku mengulum, menghisap, dan menyapu batang penis Satria sampai Satria mengerang-erang kenikmatan. “Hmph! Hmph slurp slurp ehkmm… NGGGHHHH!!!!” tubuhku mengejang keras. Aku orgasme, Satria dan Anton menghentikan gerakan mereka ketika tahu aku mencapai orgasme. Setelah beberapa detik mengejang, aku kembali lemas. Anton mencabut penisnya lalu memberi isyarat pada Satria agar minggir. Begitu Satria minggir, Anton membalikkan tubuhku yang benar-benar sudah lemas, dan menarik pantatku, aku tahu yang dia inginkan, doggy style… “Emmhh!!!…. akh!” jeritku saat penis Anton kembali menikmati vaginaku dari belakang.Anton di belakang dan Satria di depan, dengan kedua tanganku bertumpu pada paha Satria Anton mengobok-obok vaginaku lagi. Dipegangnya pinggulku kencang, lalu digerak-gerakkannya dengan cepat, kembali jeritan-jeritan kecil keluar dari mulutku. Tapi jeritanku tidak lama, karena setelah itu, Satria yang penisnya tepat di wajahku, menarik kepalaku dan mengarahkan penisnya ke mulutku.Anton menggoyangku maju-mundur, dan itu membuat penis Satria terkocok oleh mulutku. Dan semakin kencang genjotannya, semakin cepat juga penis satria terkocok. Benar saja, tidak sampai 2 menit kemudian, Satria mencengkeram kepalaku, memasukkan penis pendeknya dalam-dalam dan mengeluarkan spermanya ke dalam tenggorokanku. Aku mencoba menelan semuanya, tapi sebagian spermanya masih menetes ke daguku. Satria mencabut penisnya dan duduk tidak jauh dengan wajah penuh kepuasan. Wawan menggantikan posisinya, sambil meremas-remas buah dadaku, dia memasukkan penisnya ke mulutku. Sementara di belakang, Anton mencengkeram dan menguatkan pegangannya pada pinggulku, membuat gerakannya semakin kencang dan dalam, Rintihan dan jeritanku tertahan oleh penis Wawan. Kemaluanku terasa perih bercampur nikmat, Anton menunggangiku dengan kasar sekali, sepertinya dia menumpahkan semua nafsu birahinya padaku. “Dddaa…. OUUGGHH!!!!” geram Anton kemudian. Tubuhnya mengejang, dibenamkannya penisnya ke vaginaku sedalam dia mampu, dan dapat aku rasakan dia menyemburkan spermanya kedalam rahimku. Sesaat ketika Anton terdiam dan menikmati ejakulasinya, Wawan mendorong kepalaku hingga penisnya terkocok mulutku. Aku menggunakan lidahku, dan tampaknya dia keenakan.Akhirnya Anton mencabut penisnya, sebuah erangan tertahan keluar dari bibirku (yang disumpal dengan penis Wawan) saat kepala penisnya lepas dari vaginaku. “Dasar pelacur!” katanya sambil memukul pantatku, aku sudah tidak peduli lagi, kata-kata itu sudah sering aku dengar.Wawan mencabut penisnya, menekan pinggulku dan memasukkan penisnya ke vaginaku, masih dalam doggy style. Aku sendiri sudah sangat lemas, tubuhku aku biarkan terkulai di bangku truk, sementara Wawan terus menunggangiku, mencari kenikmatannya sendiri. Desahan dan desisanku sudah sangat lemas, meski masih jelas terdengar. Permainan Wawan cenderung tidak beraturan sehingga aku tidak bisa menikmatinya. Vaginaku mulai mongering, rasa pedih mulai menjalari vaginaku. Wawan semakin kencang menggejotku, kini penisnya benar-benar menggesek dinding vaginaku yang kering dan menyempit. “oohh… mantap.. sempit banget… hh..hhh…” desahnya sambil menyenggamaiku.Tidak berapa lama dia mencabut penisnya dan buru-buru mendekkatkan ke wajahku.Wawan menumpahkan spermanya diwajahku, bukan mulutku, tapi wajahku, sehingga wajah cantikku jadi belepotan terkena spermanya. Cairan kental itu berceceran di hidung, pipi dan mataku. Setelah mengeluarkan semua spermanya, dia menggesek-gesekkan penisnya ke bibirku. Dan sebelum pergi, Wawan meremas payudaraku kencang sekali sampai aku meringis kesakitan. Aku lemas dan tebaring beberapa saat, sebelum akhirnya aku memaksakan diri mengambil tissue basah di tasku, lalu membersihkan sperma Wawan di wajahku, dan juga di kemaluanku. Setelah itu, aku mengenakan pakaian lengkapku lagi. Di sepanjang sisa jalan, aku diapit oleh tiga orang, Rio, Aris dan Nanang, Rio menarikku dipangkuannya dan menikmati payudaraku dari luar, sampai pakaian yang aku kenakan jadi kusut. Sementara Aris dan Nanang bergantian memacu penisnya dimulutku. Mereka tidak menunggangiku karena waktu yang tidak memungkinkan. Hanya Nanang yang sempat berejakulasi di dalam mulutku, Aris tidak. Setengah jam kemudian kami tiba di bumi perkemahan Malang, tempat pesta seks kami berikutnya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;baca juga yg ini &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=693g%2Fqo8d6o%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=Hb%2FR%2BQn1ffA%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-5520401938807548976?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/5520401938807548976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=5520401938807548976' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/5520401938807548976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/5520401938807548976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/10/chapter-2-road-to-malang.html' title='Chapter 2: Road to Malang'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEqmeR2AVI/AAAAAAAAAFM/gz9t6_fxHfQ/s72-c/shl4izsq.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-4832359365225562351</id><published>2010-10-21T22:28:00.000-07:00</published><updated>2010-10-21T23:11:55.046-07:00</updated><title type='text'>Petualangan Aida</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEh7Sqr8jI/AAAAAAAAAFE/fZNinReJeFI/s1600/20656_101684499866413_1000007459117.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEh7Sqr8jI/AAAAAAAAAFE/fZNinReJeFI/s320/20656_101684499866413_1000007459117.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530739119894557234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Aida namaku, mahasiswi 20 tahun di salah satu universitas di Surabaya. Aku cenderung supel, senang tersenyum, periang dan aktif. Kata temanku aku adalah gadis kedua idola kelasku setelah Yungky, temanku. Aku berkulit putih dengan bibir tebal yang sensual, rambutku kupotong pendek sebahu sehingga leher kencang dan jenjangku dapat terlihat indah. Aku sangat menjaga pakaianku, meski cukup sulit menemukan pakaian yang tidak menonjolkan payudaraku yg berukuran 36B. Kesalahanku adalah aku terlalu supel dan cepat dekat dengan laki-laki tanpa memikirkan bahwa mungkin saja mereka memiliki niat jahat. dan itulah yang terjadi. Siang itu teman akrab sekelasku (yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri) yang bernama Taufik mampir ke kostku. seperti biasanya, saat siang keadaan kostku sangatlah sepi. saat itu aku sedang tidak ada kuliah, jadi aku sendiri di kost. Taufik mengucapkan salam dan akupun membalasnya. Lalu kami ngobrol di ruang tamu yg letaknya tidak jauhdari kamarku (kamarku paling depan). Setelah duduk, Taufik menyerahkan bungkusan yang ternyata berisi juice alpukat, kesukaanku. “tumben bawa ginian?” tanyaku. “ada acara apa nih?” “nggak, cuman tadi abis ke warung juice sama Yogi dan faruk” jawabnya santai.Akupun membuka minuman itu dan meminumnya. Taufik lantas mengeluarkan buku pelajaran dan duduk di sampingku sambil memintaku mengajarinya. Beberapa menit kemudian aku merasa agak gerah, langsung saja kuhabiskan es juice pemberian Mas taufik. “panas ya?” kata mas Taufik, aku cuma mengangguk.Rasa gerah itu lama-lama berubah menjadi sebuah perasaan yg aneh, tiba-tiba saja jantungku berpacu kencang. “Da… kamu dah putus sama si Johan ya?” tanya mas Taufik. aku hanya mengangguk pelan sambil berusaha memfokuskan pikiran.Tiba-tiba tangan mas taufik menyentuh pundakku dan menarikku ke pundaknya. Entah apa yang ada dalam pikirkanku saat itu tapi badanku sangat lemas dan sulit digerakkan. Belum habis heranku, tiba-tiba terasa gatal di sekitar kemaluanku, kemaluanku teras panas, dan aku dapat merasakan putingku mulai mengeras.Tanpa menunggu jawabanku, mas Taufik sudah mencium pipiku dan lalu semakin mendekat ke bibirku hingga akhirnya dia melumat bibirku. aku tidak bisa bergerak aku hanya memalingkan wajah begitu mas Taufik menghentikan cumbuannya. Tanpa banyak kata tangan Mas Taufik turun ke payudaraku yg masih terbungkus pakaianku dan mulai meremasnya. “jangan…” kataku lemas, tanganku mencoba menahan tangannya namun tidak bertenaga sama sekali… sedangkan di vaginaku terasa semakin panas dan gatal, putingku terasa semakin mengeras. Perasaan aneh yang nikmat mulai terasa seiring dengan remasan remasan Mas Taufik di dadaku. Aku mencoba &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;menggerakkan diriku tapi benar-benar&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;tidak mampu. Mas Taufik meneruskan remasannya sambil tangan satunya mencopoti kancing depan kemejaku. Dalam hitungan menit, tangannya menyelusup ke dalam bajuku dan terus ke dalam Bra-ku, kini Mas Taufik menyentuh payudaraku langsung. Tanpa sadar aku mendesah lirih dan badanku terangkat saat Mas Taufik menyentuh dan mulai meremas payudaraku secara langsung. Kembali bibirku dilumatnya dan semakin ganas, aku mulai terbawa. Tanpa sadar aku membalas ciumannya, melupakan bahwa ini semua tidak benar. jari jemarinya memilin-milin kecil putingku hingga aku benar-benar&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;terangsang. Tanpa bicara dia lalu mengeluarkan payudara kananku dari sarangnya lalu mendekatkan wajahnya ke payudaraku. “engg…”&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;hanya itu yang keluar dari bibirku saat Mas Taufik mulai mengulum puting kananku, menghisapnya kencang dan menjilatinya, mataku terpejam pasrah saat Mas Taufik memainkan lidahnya dan menghisap puting kananku. Hanya nikmat yang ada di dalam kepalaku hingga aku tak sadar saat mas Taufik membuka resleting jeansku.Rasa nikmat itu semakin hebat seiring dengan erangan tertahanku saat Mas Taufik menyusupkan tangannya dan memainkan jemarinya di kemaluanku, aku benar-benar basah di bawah sana… mataku semakin terpejam, nafasku semakin tak beraturan. Ini memang bukan pertama kalinya tubuhku disentuh lelaki, satu-satunya lelaki yang pernah menyentuhku adalah mantan kekasihku Johan, namun aku belum pernah bersetubuh dengannya. Aku memang tipikal yang mudah terangsang. Dan dengan begini, Mas Taufik menjadi orang kedua yang menyentuh tubuhku. Perlahan tapi pasti Mas Taufik menanggalkan jeansku hingga selutut, lalu menurunkan celana dalamku. kini tangannya semakin leluasa bermain-main di permukaan bibir vaginaku, sesekali menyentuh klitorisku, membuatku semakin merasakan nikmat. Wajahku semakin memerah karena terangsang. “jangan disini” ujar Mas Taufik tiba-tiba. “nanti kelihatan orang, kita ke kamarmu saja” Dan tanpa basa-basi lagi Mas Taufik menuntunku (yang sudah sangat lemas dan terangsang) ke dalam kamarku.Kamarku tidak memiliki daun pintu, hanya ditutup kain kelambu, itu kamar paling depan dan akses ke ruang tamu paling cepat, itu sebabnya aku memilih kamar itu, meski tidak ada pintunya. soalnya teman-temanku sering datang berkunjung. Di kamar, Mas Taufik tidak menunggu lama, dia merebahkanku di ranjang dan mulai menanggalkan jeansku dan menarik lepas celana dalamku , hingga dia dapat melihat dengan jelas vaginaku yg sudah basah. Kemejaku di singkap dan Bra-ku dinaikkan sehingga kedua payudaraku juga terpampang jelas, dia mengecup dan memainkan lidahnya di payudaraku, menghisap-hisap putingku hingga aku lebih sering lagi mendesah. Beberapa menit melakukan itu, dia melepas celana panjangnya berikut CDnya. Dan inilah pertama kalinya aku menyaksikan penis laki-laki, meski pernah telanjang di depan Johan, aku belum pernah melihat penis Johan. Mas Taufik meraih tanganku,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menuntunnya ke kemaluannya dan memintaku mengocoknya. Aku belum tau harus bagaimana jadi yang aku lakukan malah meremas-remasnya. Tak lama kemudian Mas Taufik naik ke ranjang,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;meregangkan kedua kakiku dan menggesek-gesekkan kemaluannya ke vaginaku, aku merasa sangat nikmat, detik berikutnya dia mulai mengarahkan penisnya dan melakukan penetrasi. “AAGGHH!!!” aku tersentak karena sakit yang luar biasa! tiba-tiba kesadaranku pulih! aku mendorong tubuh Mas Taufik yang menindihku, tapi dia malah menahanku dengan menindihkan tubuhnya padaku!. “Sakit!!” ujarku sambil meringis menahan sakit, penis itu terasa masuk perlahan dan semakin dalam, mencoba merenggut kehormatanku. “jangan!! sakit!! sudah mas! jangan!” pintaku sambil meronta dan menggeleng-gelengkan kepalaku. “Sssa..AAKKHH!!!….” Dan satu hentakan berikutnya terasa sangat menyakitkan, Mas Taufik terus menekan-nekankan penisnya hingga benar-benar amblas. Aku menangis meringis menahan sakit sambil terus berusaha mendorong tubuh Mas Taufik yang menindihku. Tanpa banyak kata, Mas Taufik mulai menarik kembali penisnya dan membenamkannya lebih dalam lagi. aku kembali tersentak. “Hmmmpphh!!” desahku menahan sakit. Mas Taufik melakukannya berulang-ulang sambil terus menahan tubuhku yang berontak, dia menggejotku semakin cepat dan cepat, tiba-tiba tirai pintu kamarku terbuka, kontan aku terkejut sambil menoleh dan aku&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;melihat dua teman sekelasku yang lain Yogi dan Faruk masuk ke kamarku. “bisa juga ternyata Aida dientot” komentar Yogi sambil tersenyum melihat Taufik yang menggenjotku makin keras. Aku mulai menangis sambil mengerang-erang merasakan sakitnya tusukan demi tusukan penis Mas Taufik. “hebat kamu fik, bisa juga Aida kamu pake“ tambah Faruk.Aku meronta tapi tak ada tenaga, Taufik mempercepat gerakannya, Yogi dan faruk duduk di kursi kecil di tepi ranjangku, menyaksikan Taufik yang semakin kencang menggenjotku, tiba-tiba ada suara langkah dari ruang tamu, lantas terdengar suara wanita dewasa, Ibu Kost! pikirku setengah panik, aku berusaha menahan desahan dan eranganku sebisa mungkin. Mengetahui itu, Mas Taufik bukannya memperlambat malah mempercepat genjotannya. Untung saja setelah itu terdengar langkah menjauh disusul pintu ditutup. Ibu kost menutup pintu rumah kost.Rasa sakitnya mulai berkurang dan berganti dengan sensasi geli nikmat yang aneh. Sepertinya vaginaku sudah bisa beradaptasi dengan penis Mas Taufik. Namun genjotan kasar Mas Taufik membuatku tidak bisa menikmati, apalagi Yogi dan Faruk dengan santainya menonton live show ini. “Enggh…” erangku saat tiba-tiba Mas Taufik mencabut penisnya dan mengeluarkan cairan putih kental di atas perutku.Aku berusaha bangkit tapi Yogi dan faruk (yang entah kapan mereka melepas pakaian mereka) menekan tubuhku hingga aku terbaring kembali. “jangan…. jangan… yog…. sudah…” ucapku sambil menangis lemas.Tubuhku sudah sangat lemas dan entah mengapa rasanya libidoku masih tinggi. “habis kamu perawani” ucap Yogi sembari sambil melihat bercak darah di vaginaku. Aku hanya terisak dan kembali mengerang saat penis Yogi yang lebih kecil dari punya Taufik membelah bibir vaginaku. “Emmh…ssempitnya memekmu Da…” ujar Yogi sambil menggerakkan penisnya keluar masuk perlahan, menikmati gesekan-gesekan dinding vaginaku. Aku masih belum berhenti menangis. “jangan dibuang didalam” ujar Taufik (yang sudah kembali berpakaian) “siapa tau dia dalam kondisi subur” tambahnya sambil ngeloyor keluar kamar.Faruk yang dari tadi meremas-remas payudaraku mulai mendudukkanku dan menanggalkan kemejaku diikuti Bra ku. Kini aku benar-benar bugil total di depan mereka. Dengan penis Yogi mengaduk-aduk liang vaginaku. “Ooh… cantiknya kamu Da…”&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ujar Yogi sambil mempercepat genjotannya. Kali ini aku merasakan kenikmatan yang tadi tidak kudapatkan saat kehormatanku diambil Mas Taufik. Aku mendesah lirih, seiring dengan genjotan dan nafas Yogi yang terdengar sangat berat.Yogi menggenjotku makin kencang, penisnya keluar masuk dengan cepat, tubuhku sampai sedikit terguncang. Tanpa bicara, Faruk menempelkan penis besar dan panjangnya ke bibirku dan memaksaku mengoralnya. aku menolak, tapi dia menekan terus, hingga akhirnya penisnya bisa masuk, dia menggoyangkan penisnya searah. “ooh… enak mulutmu Da… pake lidah Da…” ujar Faruk tanpa memperdulikan penolakanku dan terus memompa mulutku. Sementara dibawah sana Yogi terus menggenjotku.Tiba-tiba Yogi mencabut penisnya dan memberi isyarat pada Faruk, mereka berganti posisi. Aku benar-benar pasrah saat Faruk melesakkan penisnya ke vaginaku, ukurannya sangat besar hingga akumerasa ngilu, kembali aku menangis…saat keperawananku direnggut, aku digilir tiga orang sekaligus!!. Yogi mendekatkan penisnya ke mulutku, mengocoknya dan memasukkanya ke mulutku dengan paksa. “HMMPPHH!!!” jeritku tertahan saat dengan tiba-tiba kurasakan penis Yogi menyemburkan cairannya. Aku berusaha melepaskan penisnya dari mulutku tapi Yogi menahan kuat kepalaku dan malah memasukkan penisnya semakin dalam. Apalagi saat itu Faruk memutar-mutarkan penisnya di dalam vaginaku, membuat aku tak bisa berkosentrasi. Yogi membiarkan penisnya cukup lama hingga terpaksa aku menelan seluruh spermanya. Rasa asin dan aneh menempel di lidahku. Setelah yakin aku sudah menelan semua spermanya dia mencabut penisnya dari mulutku dan duduk di kursi sambil melihat Faruk yang mengerjaiku.Faruk mengangkat kedua kakiku dan menyandarkannya di bahunya lalu memasukkan penisnya hingga amblas seluruhnya!. Penis faruk jauh lebih panjang dan lebih besar dibandingkan penis Yogi maupun Mas Taufik membuat tubuhku tersentak. “Auungghh!!!!….”erangku saat Faruk melesakkan seluruh penisnya. Faruk mulai menggenjotku pelan tapi pasti. Membuat ngilu di vaginaku berangsur-angsur berubah menjadi rasa nikmat. Kenikmatan-kenikmatan itu semakin terasa setiap Faruk melesakkan penisnya. “Aach… sssh… mmmh….” Erangku dengan mata terpejam menikmati genjotan Faruk. Aku benar-benar lupa kalau ini adalah perkosaan. Aku terbuai dengan genjotan-genjotan penis Faruk. Kenikmatan itu semakin terasa hingga… “NGGGHHHHHHHHOOHHH!!” aku menjerit tertahan, tubuhku terlonjak, kakiku jatuh dari bahu Faruk dan aku memeluk Faruk, gelombang itu datang lagi dan aku tanpa sadar mencengkeram bahu Faruk hingga terluka.Beberapa detik aku terpejam, rasa hangat terasa di liang vaginaku. Setelah itu badanku melemas. Faruk mempercepat genjotannya. “engh… hh…hhh…hhhh….” Nafasku yang benar-benar lemas saat Faruk menggenjotku. Tidak lama kemudian Faruk membalikkan tubuhku dan mengangkat punggungku hingga aku bertumpu pada dua siku tanganku. Dengan kasar Faruk melesakkan penisnya dari belakang, tangannya menggenggam pinggangku dan menhadikannya tumpuan dari pompaan penisnya ke vaginaku. Rasa nikmat itu muncul lagi…. “Oouchh…ssh…. Aaahh..ahha..ach…” aku menikmati kenikmatan pompaan penis Faruk yang semakin cepat. Bunyi alat kelamin kami yang beradu semakin terdengar kencang. Faruk menindihku dari belakang. Aku yang telungkup dan dia semakin brutal memasukkan penis panjangnya itu dari belakang. “eengh…sseh…sssh…MMMMPPHH!!!!….” tubuhku bergetar. Aku mencapai orgasme keduaku. Faruk membiarkanku menikmati orgasmeku sebelum kembali memompaku dengan kasar. Tulang-tulangku rasanya seperti dilolosi… aku sudah benar-benar lemas. “AAAAGGHH!!” jeritku saat satu Faruk menghentakkan penisnya dalam satu hentakan keras dan dalam. Faruk menggeram dan sedetik kemudian kurasakan penisnya berdenyut… Aku terlambat bereaksi, saat aku sadar apa yang akan terjadi, saat itu penis Faruk sudah bergetar dan menyemburkan cairan-cairannya. Membuat vaginaku terasa hangat. Aku tersentak dan kontan mulai menangis… Aku tak bisa membayangkan kalau harus hamil!!. “mending kamu langsung cuci&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di kamar mandi biar sperma itu keluar deh Da…” ujar Faruk santai sambil mencabut penisnya.Aku terisak semakin keras dan segera berlari keluar kamar menuju kamar mandi. Cairan kental putih terlihat menetes dari vaginaku. Taufik keheranan melihatku berlari telanjang ke kamar mandi sambil menangis. Aku tak peduli, aku langsung jongkok dan menyiram&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;vaginaku dengan shower hingga aku yakin semua cairan sperma Faruk benar-benar keluar. Saat aku kembali ke kamar, mereka bertiga sudah ada di ruang tamu. Untunglah saat itu sedang liburan kuliah, jadi semua anak kost sedang pulang kampung. Aku masuk ke dalam kamarku dan menangis sejadi-jadinya. “Orgasme dua kali ya Da??”&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Taufik bicara dari pintu kamarku. Aku tidak menghiraukannya dan terus terisak dengan tangisanku. Lalu kurasakan Mas Taufik duduk di ranjangku dan menarik tubuh telanjangku hingga menghadapnya. “Nih…” katanya sambil tersenyum dan menunjukkan sebuah video di HPnya. ASTAGA!! Rupanya Yogi tadi merekamku saat digauli oleh Faruk. Apalagi dia sengaja mengclose-up wajahku saat aku orgasme!!!. Aku berusaha merebut HP itu tapi Mas Taufik dengan cekatan melemparnya ke Yogi yang juga sudah berada di kamar. “kalau ga mau keluargamu tahu lebih baik diam dan besok layani kami lagi” ujar Mas Taufik dengan nada mengancam. “lagipula aku kan belum ngerasain isepanmu Da..” tambahnya sambil beranjak pergi diikuti Yogi dan Faruk. Aku hanya bisa menangis dan menangis, vaginaku terasa panas dan ngilu. Setelah insiden itu, aku harus siap untuk dipakai mereka lagi. yang paling aku sesalkan adalah jumlah mereka terus bertambah dan berganti-ganti saat menggilirku, aku jadi budak seks mereka.. Ternyata bukan hanya aku korban mereka, satu sahabat baikku Yungky (pacar Taufik sendiri) diperawani dan digarap oleh cowok satu kelas saat berlibur di Villa Malang dulu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;yang dibawah lebih HOT&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=693g%2Fqo8d6o%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=Hb%2FR%2BQn1ffA%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-4832359365225562351?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/4832359365225562351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=4832359365225562351' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/4832359365225562351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/4832359365225562351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/10/petualangan-aida.html' title='Petualangan Aida'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEh7Sqr8jI/AAAAAAAAAFE/fZNinReJeFI/s72-c/20656_101684499866413_1000007459117.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-4129210245066357042</id><published>2010-10-21T21:37:00.000-07:00</published><updated>2010-10-21T22:03:29.797-07:00</updated><title type='text'>Sensasi Seks Keroyokan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEbDKKGCXI/AAAAAAAAAE8/tsahF1HXuEg/s1600/gbje2hvq.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEbDKKGCXI/AAAAAAAAAE8/tsahF1HXuEg/s320/gbje2hvq.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530731558467930482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gara-gara terjebak nafsu untuk berselingkuh, malah membuatku ketagihan. Dulu aku puas ngeseks hanya dengan satu pria. Sekarang, aku lebih puas dengan ngeseks ramai-ramai. Bukan lagi dengan satu pria tentunya, melainkan lima pria sekaligus, aku baru puas.Aku seorang wanita berumur 30 tahun, ibu dari dua orang anak. Tentunya statusku nikah dengan seorang suami. Kami telah terikat perkawinan selama tujuh tahun. Aku nikah setelah berhasil meraih gelar kesarjanaanku di kota Bandung.Suamiku normal-normal saja, demikian juga dengan hubungan seksku. Aku melakukannya sekitar 2 atau 3 kali seminggu dengan suamiku. Namun semuanya berubah ketika aku mengalami suatu hal yang tidak kuduga sebelumnya pada tiga bulan yang lalu. Ternyata kemampuan seksku lebih dari yang kuduga sebelumnya.Aku biasa dipanggil Ratih. Tinggi badanku sekitar 156 cm dengan berat 49 kg. Ukuran BH-ku 34C, pinggulku yang agak besar berukuran 100 cm semakin menonjol dengan pinggangku yang hanya 58 cm itu. Walaupun dari rahimku telah terlahir dua orang anakku, bodyku sih oke-oke saja. Hampir tidak ada perubahan yang mencolok.Kembali pada kejadian yang gila. Mula-mula aku bertemu temanku, Merry saat aku sedang berbelanja di sebuah mall. Ia adalah sobatku sewaktu di SMA dulu. Saat itu ia bersama dua orang teman laki-lakinya, yang langsung dikenalkannya kepadaku. Mereka bernama Yanto dan Andi. Mereka ternyata adalah teman-teman yang enak diajak bicara. Akhirnya kami pun menjadi akrab. Siang itu kami melanjutkan obrolan sambil makan di sebuah restoran.Setelah pertemuan itu, ternyata Yanto sering menelepon ke rumahku walaupun ia sudah tahu bahwa aku ini seorang istri dengan dua orang anak. Dalam pembicaraan telepon, ia memang sering mengeluarkan rayuan gombalnya kepadaku tapi tetap ia menjadi teman bicara yang enak.Ia berusaha mengajakku makan siang dengan gigihnya. Hal itu yang membuatku menyerah juga. Akhirnya aku menyetujuinya juga. Syaratnya, makan siangnya harus ramai-ramai.Aku, Merry, Yanto, dan Andi bertemu di tempat yang sudah kami sepakati bersama. Bersama kedua teman cowok kami, ikut serta pula tiga orang teman mereka yang lain: Eko, Benny, dan Adi. Mereka semua rata-rata berusia delapan tahun lebih tua daripada aku dan Merry.Kami makan siang bersama di sebuah restoran yang ada fasilitas karaokenya. Kami makan dengan ramainya sambil berkaraoke. Memang aku pun senang berkaraoke. “Ayo, Rat… nyanyi lagi…” mereka menyemangatiku kala aku melantunkan lagu. Ternyata kelima cowok keren itu merupakan teman yang enak untuk gaul. Wawasan mereka luas dan menyenangkan. Akhirnya kami cepat menjadi akrab. Ternyata, baru kusadari &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;nanti bahwa inilah kekeliruanku….Seminggu kemudian aku diundang lagi, kali ini oleh Andi, untuk makan siang dan berkaraoke lagi. Tanpa pikir panjang dan tanya-tanya lagi, aku pun langsung menyetujuinya. Aku bolos masuk kantor setelah makan siang, lalu pergi ke tempat karaoke bersama mereka.Nah, di saat itulah terjadi sesuatu yang tidak kuduga. Ternyata aku dibawa ke tempat karaoke yang khusus untuk berkaraoke saja. Bukannya sebuah restoran. Tempatnya berupa sebuah kamar tertutup dengan kursi panjang. Kali ini Merry pun tidak ikut. Jadi hanya aku dengan kelima cowok itu.Karena sudah telanjur masuk ke sana, akhirnya kucoba menenangkan diri. Walaupun aku agak deg-degan juga pada awalnya. Kenyataannya, akhirnya suasana menjadi seru ketika secara bergantian kami berkaraoke.Aku pun dipesankan minuman whisky-cola yang membuat badanku jadi hangat. Akhirnya mereka meminta berdansa denganku saat salah satu di antara mereka bernyanyi. Saat melantai itulah, lama-kelamaan mereka berani merapatkan dadanya ke tubuhku dan menekan serta menggesek-gesek payudaraku.Anehnya, aku malah diam dan mencoba menikmati apa yang mereka perbuat kepadaku, yang lama-lama membuatku terbakar dan menikmati permainan ini. Mereka bergantian berdansa denganku. “Ratih, badanmu hot sekali,” ujar Yanto berbisik di telingaku sambil bibirnya mencium belakang telingaku, membuatku merinding nikmat… Tangannya lalu tanpa malu-malu lagi meremas payudaraku. Aku pun terangsang hebat…. “Aahhh… jangaaannnn…” kataku ketika Yanto dengan beraninya membuka kancing blusku dan menyusupkan tangannya ke dalamnya… Tangannya meremas dan memilin puting payudaraku dengan semakin hotnya… Aku sebenarnya masih menyimpan sedikit rasa malu karena semua aksi kami ditonton oleh yang lainnya dengan tatapan penuh nafsu….Anehnya, seperti dibius, tubuhku tidak berontak. Tanganku sama sekali tidak berusaha melepaskan tangan Yanto yang terus menggerayangi payudaraku yang kini terbuka lebar… “Mmmhhh…” rintihku penuh kenikmatan. Hanya itu yang ternyata sanggup keluar dari bibirku…Yanto akhirnya mengulum bibirku dan menindih rapat-rapat tubuhku di atas sofa.Aku benar-benar lupa diri ketika jari-jemari Yanto bergerilya di dalam celana dalamku. Ia terus menggelitik bibir lubang vaginaku yang sudah basah dan rasanya menebal itu. Spontan yang lainnya pun ikut-ikutan. Dengan liar akhirnya kelima cowok itu mengerubuti tubuhku.Akhirnya, tahu-tahu tubuhku sudah bugil tanpa sehelai benang pun dan digeluti bersama oleh mereka. Yantolah yang lebih dahulu menusukkan senjatanya ke dalam lubang kemaluanku. Lalu Adi memasukkan senjatanya ke dalam mulutku. Andi mengisap puting kiri payudaraku sambil membimbing tangan kiriku untuk mengelus-elus senjatanya. Sementara itu Eko mengisap puting yang sebelahnya sambil melakukan hal yang sama pula terhadap tangan kananku. Terakhir, Benny menggosok-gosokkan senjatanya ke wajahku. “Aacchhh….” aku mendapat orgasme pertama ketika Yanto sedang asyik-asyiknya menggenjot tubuhnya di atas tubuhku. Spontan, kedua tanganku meremas penis Andi dan Eko yang ada dalam genggamanku dengan keras…. Aku sendiri tak bisa mengeluarkan lenguhan kenikmatanku secara lepas karena penis Adi yang hangat itu dengan serunya terus bermain di mulutku.Adi yang tahu aku baru saja orgasme hanya menyeringai kepadaku. Tampaknya ia pun semakin semangat memompa mulutku…. “Ratiih…” desah Yanto menggeliat ketika memuntahkan maninya di dalam lubangku. Hangat dan terasa kental memenuhi lubang kemaluanku. Dipegangnya pantatku erat-erat supaya semua spermanya masuk ke dalam tubuhku…. Adi tambah semangat mengocok senjatanya di dalam mulutku.Setelah Yanto selesai, posisinya langsung diganti Benny yang sejak tadi hanya mengosok-gosokkan senjatanya yang panjang dan besar di wajahku.Langsung ditancapkannya ke dalam lubangku yang hangat, sudah penuh dan licin dengan cairan milik Yanto. Benny begitu semangatnya menyetubuhiku. “Mmmmphh, aghhh….” tubuhku bergetar menggeliat.Bayangkan… payudaraku dihisap putingnya oleh Eko dan Andi seperti dua bayi besar. Sementara lubang kemaluanku mulai dihunjam oleh senjata Benny dengan ganasnya. Di mulutku, Adi akhirnya menyemprotkan cairannya dengan deras dan langsung kuhisap kuat-kuat. “Aaaacchhh….” air mani Adi yang terasa hangat asin seperti kuah oyster masuk ke dalam tenggorokanku.Bersamaan dengan itu, Benny juga menyemprotkan maninya di lubang vaginaku. Multiorgasme…. Aku sudah mendapatkannya tiga atau empat kali dan masih ada Eko dan Andi yang belum kebagian menyemprotkan cairannya.Tubuh Adi dan Benny berkelojotan dan akhirnya terhempas.Andi menggantikan posisi Adi. Penisnya yang bengkok ke atas terasa penuh di mulutku. Eko menepis Benny dari atas tubuhku. Untuk yang ketiga kalinya, lubang vaginaku dimasuki oleh orang yang berbeda…. Ternyata senjata milik Eko lah yang paling panjang dan besar. Aku khawatir kalau penis Eko agak susah untuk masuk ke dalam vaginaku.Syukurlah, ternyata tak sesulit yang kubayangkan karena lubang vaginaku telahpenuh dengan cairan dari dua orang yang terdahulu.Benar saja, terasa sangat mantap dan nikmat ketika senjata Eko menggesek lubangku yang sudah terasa panas dan semakin tebal rasanya. Napasku sampai terengah-engah dibuatnya… “Rat…. iseeepp yang kuaaattt….” ternyata Andi tidak kuat dengan isapan mulutku. Ia akan segera mencapai klimaks. Aku pun segera mematuhi perintahnya dengan mengisapnya lebih kuat lagi….Penis Andi pun memuncratkan cairan maninya di dalam mulutku. Terasa air mani Andi lebih strong aromanya, lebih hangat, lebih kental, dan lebih banyak memenuhi mulut dan tenggorokanku. Aku sampai agak gelagapan karena mulutku jadi penuh dan hampir tersedak…. Namun aku berusaha untuk tenang… Pelan-pelan kutelan sperma Andi yang membludak. Sementara bibirku tetap mencengkram penis Andi supaya tak lepas…. Setelah penis Andi kering benar dan mulai mengkerut, barulah aku melepaskannya…. Ia pun lalu tergeletak di atas kepalaku.Sekarang tinggal aku dan Eko…. Eko pun lalu mengubah posisinya menjadi ‘missionary position’. Sambil penisnya terus mengocok kemaluanku, tubuhnya pun menindih tubuhku. Wajah kami pun berhadap-hadapan dekat sekali… Sambil terus beraktivitas, Eko tersenyum padaku. Rat, kamu hebat sekali…” katanya.Aku pun tersenyum malu. “Oh, Eko…” bisikku. Lalu seperti sepasang kekasih, kami pun saling berciuman bibir.Tak lama kemudian, Eko juga menggeliat menyemburkan cairannya ke dalam lubang kemaluanku. Tubuhku terasa lemas tetapi bergetar kuat mengiringi muncratnya cairan Eko. Eko semakin mendorong pangkal pahanya ke pangkal pahaku supaya cairannya masuk semua ke tubuhku… Rasanya aku sudah orgasme enam kali ketika akhirnya Eko menggelepar dan terbaring tepat di samping tubuhku. Kami pun lalu berbaring telentang sambil berpelukan dan menikmati hasil persetubuhan kami….Selesailah pertempuran besar antara aku dan kelima cowok siang itu di ruang karaoke. Walaupun ber-AC, namun udara saat itu tetap terasa panas. Badan kami bercucuran keringat. Apalagi aku, karena selain basah oleh keringatku sendiri, juga bercampur dengan keringat kelima cowok yang barusan menyetubuhiku…. belum lagi dengan tumpahan air mani mereka yang berceceran di seluruh bagian tubuhku….Setelah itu, semuanya terdiam. Tak ada satu pun di antara kami yang saling bercakap. Beberapa cowok tertidur karena kelelahan. Akhirnya, beberapa puluh menit kemudian, kami pun berbenah-benah.Celakanya, di kamar itu tidak ada kamar mandi. Akhirnya, aku hanya mengelap cairan kelima lelaki yang memenuhi lubang vaginaku dan menetes ke pahaku dengan bra dan celana dalamku saja. Lalu aku memakai bra dan celana dalamku yang agak basah dan lengket itu. Disusul dengan blouse, rok serta blazer yang tadinya bertebaran di lantai. Yang membuatku senang, Eko ikut membantuku berpakaian. Paling tidak, aku merasa dihargai dan tidak sekedar menjadi pemuas nafsu mereka…. Mereka pun segera memakai kembali baju dan celananya.Jam lima sore, kami keluar dari karaoke itu. Berarti empat jam sudah kami berada di dalamnya karena kami masuk pada pukul satu siang. Sedangkan aku sendiri digilir oleh mereka lebih dari dua jam nyaris non-stop. Waah, aku kagum juga dengan daya tahanku…. walaupun rasanya kakiku pegal-pegal dan ngilu. Begitu juga selangkanganku dan mulutku…. Waktu melewati meja kasir rasanya aku malu juga. Walaupun kasir wanita itu tidak tahu apa yang terjadi di dalam tapi wajahku tetap terasa memerah. Make up ku telah berantakan dan aku bisa dengan jelas mencium kalau minyak wangiku telah berubah menjadi bau aroma air mani….Kasir wanita itu tersenyum kepadaku. Mungkin ia bisa mengendus baunya… atau malah mungkin ia sedang membayangkan kejadian yang baru saja kualami. Sementara itu, di paha dan kakiku terasa mani mereka merembes mengalir keluar dari lubang vaginaku. Untung sesampainya di rumah, suamiku belum pulang… Cepat-cepat aku ke kamar mandi membersihkan tubuh dan pakaianku.Ternyata, malamnya suamiku menagih jatahnya juga… Untung aku sudah membersihkan badanku dan menyemprotkan minyak wangi untuk menghilangkan aroma sperma kelima cowok itu… Walaupun komentar suamiku membuatku deg-degan, mudah-mudahan ia tidak curiga….&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-4129210245066357042?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/4129210245066357042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=4129210245066357042' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/4129210245066357042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/4129210245066357042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/10/sensasi-seks-keroyokan.html' title='Sensasi Seks Keroyokan'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEbDKKGCXI/AAAAAAAAAE8/tsahF1HXuEg/s72-c/gbje2hvq.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-6326203767502168424</id><published>2010-10-21T21:32:00.000-07:00</published><updated>2010-10-21T21:37:03.703-07:00</updated><title type='text'>Pesta Seks Antara Vonny dan Nadya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEUW1p3DEI/AAAAAAAAAE0/4QGkVDtK0Ts/s1600/anna-friel-anna-chapman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEUW1p3DEI/AAAAAAAAAE0/4QGkVDtK0Ts/s320/anna-friel-anna-chapman.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530724199980010562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelumnya aku minta maaf bila ada kata-kata dari aku yang  kurang tepat, jadi aku mohon maaf yah. Aku adalah seorang mahasiswa dari universitas swasta di Bandung. Pada saat aku SMU, aku dikenal sebagai lelaki yang “abuy” (anak buaya), memang sih kata cewek-cewek atau mantan-mantan cewekku, saya tipe cowok yang romantis, dengan body yang sangat mendukung.Sebelumnya aku minta maaf bila ada kata-kata dari aku yang kurang tepat, jadi aku mohon maaf yah. Aku adalah seorang mahasiswa dari universitas swasta di Bandung. Pada saat aku SMU, aku dikenal sebagai lelaki yang “abuy” (anak buaya), memang sih kata cewek-cewek atau mantan-mantan cewekku, saya tipe cowok yang romantis, dengan body yang sangat mendukung.Pada waktu aku kelas 3 SMU menjelang Ebtanas, aku belajar bersama teman wanita yang bernama Vonny dan Nadya, ketika itu aku berlajar bersama, dan tidak sedikit pun aku berpikir untuk bermacam-macam dengan mereka berdua. Memang sih banyak cowok-cowok yang “sirik” padaku, karena aku bisa dekat dengan mereka berdua, yang termasuk seleb di sekolah **** (edited) di kotaku, yang penting itu sekolah swasta terkenal di Bandung. Pada waktu itu acara belajar itu dilakukan oleh kami bertiga di rumah Vonny. Pada waktu itu jam menunjukkan sekitar pukul 18:00, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju rumah Vonny. Hujan turun deras sekali, dan mengakibatkan aku terpaksa berhenti untuk menunggu hujan tersebut (maklum ketika itu aku memakai motor). Tapi apa boleh buat, karena aku sudah mempunyai janji dengan mereka berdua untuk belajar bersama, yah.. aku berani berkorban meski hujan itu belum reda.Dan akhirnya aku pun sampai di rumah Vonny dengan basah kuyup. Tiba-tiba Vonny keluar dari rumahnya karena mendengar suara motorku, maklum ketika itu aku memakai motor NSR yang cukup berisik untuk didengar. Tiba-tiba pun Vonny menghampiriku untuk membukakan pagar, agaraku bisa masuk, dan secara otomatis Vonny pun menjadi basah kuyup, dan terlihatlah olehku pemandangan yang menggiurkan. BH-nya yang terlihat jelas olehku,&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; dan kuperkirakan ukurannya cukup besar (36B) dan dia waktu itu memakai BH berwarna hitam, jadi terlihat jelas olehku. Setelah itu aku pun masuk ke rumahnya, dan permisi ke Vonny untuk ke toilet untuk membersihkan badanku akibat hujan tadi. Ketika aku mandi terdengar Vonny mengetuk pintu dan memanggilku untuk memberikan handuk, aku pun membuka pintu dan mengambil handuk tersebut. Setelah selesai mandi aku keluar dengan hanya memakai handuk saja. Aku mencari Vonny untuk meminjam pakaian kakaknya yang kebetulan sedang di luar kota. Aku melihat-lihat rumahnya, dan kurasakan tidak ada satu orang pun di rumahnya. Cuek saja, aku pikir. Dan aku pun dikagetkan oleh suara seseorang yang memanggilku, ketika kulihat, dia adalah Nadya, yang entah kapan datangnya. Kemudian dia memberikan baju kepadaku, aku sempat kaget dibuatnya, karena aku tidak tahu dia kapan datangnya. Aku pun kembali ke kamar mandi untuk memakai baju ini. Dan ketika aku sedang ganti baju, tiba-tiba Vonny masuk, dan terkejut sekali karena menduga aku sudah tidak ada di dalam (maklum pintu kamar mandi lupa saya kunci). Vonny berkata dengan wajah panik, “Sorry yah Yon,” dan dia langsung beranjak keluar dan aku pun melanjutkan memakai pakaian itu.Setelah selesai, aku pun beranjak dari situ. Aku keluar ke arah ruang tamu dan melihat mereka sedang bersiap-siap untuk memulai belajar bersama. Aku sempat melihat wajah Vonny yang sedikit canggung. Setelah itu aku duduk dan mengeluarkan buku yang telah kubawa. Setelah beberapalama belajar, entah apa yang merasuki otakku ini sehingga membuat si “Joni” berdiri. Pada saat itu Vonny minta maaf padaku atas kejadian tadi, dan dengan berbisik dia agar tidak memberitahu pada siapapun juga, aku pun mengiyakannya. Ketika itu Nadya mengajak untuk menonton VCD yang baru dipinjamnya untuk melepas suntuk dalam belajar, dan kami pun menuju kamar Vonny. Kami bertiga pun mulai menonton film tersebut. Setelah beberapa lama kami menonton, terlihatlah suatu adegan yang “hot”, kami betiga hanya diam saja, sambil berpandang-pandangan. Aku melihat Nadya yang sudah mulai kegelisahan, mungkin karena melihat adegan tersebut, dan terlihat Vonny yang dari tadi diam saja, tetapi dia seperti mulai terangsang oleh adegan tersebut.Aku pun melirik ke arah Vonny, dan tanpa dia sadari dia mengusap-ngusap ke arah kemaluannya, dan sedikit-sedikit berdesah kecil, “Sshh.. ahh..” hal ini membuat si “Joni” beranjak dari tempatnya. Timbul hatiku untuk mengerjai mereka berdua. Aku menggeserkan posisi dudukku ini untuk mendekatkan ke mereka berdua. Aku pun memberanikan diri untuk mengelus-elus pahanya yang montok dan putih mulus itu. Dia pun hanya diam saja, seakan akan menikmati elusan itu. Nadya melihat dan ikut terangsang juga, ketika itu Nadya nekad untuk mendekat padaku, dan tiba-tiba dia mengecup bibirku dengan hangat, dan aku pun membalas dengan manis ciumannya. Ciumannya yang sangat lembut itu membuatku semakin membabi buta. Aku pun meremas dada Nadya yang masih terbungkus oleh BH, dan Nadya pun sangat menikmatinya. Tiba-tiba aku mendengar desahan dari Vonny, “Ssshh.. ahh.. puaskan aku malam ini, Yon.. pleassee, aku udah nggak tahannich.” Aku menyuruh mereka membuka pakaiannya satu persatu. Mereka pun dengan cepat membuka pakaiannya. Lalu Nadya melucuti pakaianku, dan ketika membuka celanaku mereka terbelalak, karena melihat punyaku itu yang cukup besar (18 cm). Dengan cepat Vonny melahap penisku yang sudah tegang dari tadi. Saat Vonny melahap penisku itu, aku terus menjilati puting susu Nadya yang sudah mulai mengeras, dan Nadya menggelinjang keenakan. Saat itu aku menyuruh Nadya untuk terlentang di ranjang, kini aku mulai menjilati kemaluannya yang sudah mengeluarkan bau yang harum dari kemaluannya. Aku terus menjilatinya dengan buas, dengan sedikit-sedikit aku mengocok-ngocok dengan jariku, dan dia pun menikmatinya. Dia menyuruhku untuk memasukkannya ke vaginanya, “Ayo Yonn, masukin dong itunya, aku udah nggak sabaran nunggunya,” aku berkata, “Iya sayang, sabar yah..” tiba-tiba Vonny melepaskan kemaluanku itu dari dalam mulutnya dan membimbing batanganku itu masuk ke dalam liang milik Nadya yang sudah basah sejak tadi. “Bless.. bless.. bless” batanganku pun masuk setengahnya, dan aku menggoyangkan maju-mundur secara perlahan-lahan dengan bantuan Vonny yang terus memelukku dan menciumku itu. Tiba-tiba Nadya menjerit kesakitan karena batang kemaluanku itu terlalu besar untuk masuk ke dalam liang senggama miliknya. Aku terus berusaha, dan akhirnya batangku itu pun berhasil amblas semuanya di dalam, dan terasa olehku cairan hangat yang keluar dari kemaluan Nadya. “Ahh.. ahh.. ah.. Nadya..”Setalah 20 menit aku melakukannya bersama Nadya, sekarang giliran Vonny yang sudah tak tahandengan horny-nya itu. Aku pun mulai memasukkan ke liang Vonny yang sangat menggodaitu, “Bless.. bless..” amblaslah sudah batanganku itu di dalamnya.  “Ah ah ah..” desahnya. Aku merasakan dia sudah akan orgasme, tapi memang benar dia mendesah, “Yonn.. aa.. kuu maa.. uu.. keeluarr..” Lalu aku berkata, “Tahan yah say.. bentar lagi, aku pun maukeluar nich..” Dan setelah beberapa lama dia pun orgasme, dan mengeluarkan cairan hangat yang terasa olehku. Segera setalah itu aku pun mempercepat goyanganku itu dan.. “Creett.. croott.. creett..” aku memuntahkan seluruh maniku itu di mulut Vonny dan Nadya. Mereka berdua sangat menikmatinya. Kami bertiga pun terkulai lemas di tempat tidur.Vonny dan Nadya bekata kepadaku, “Thanks yah sayang, aku belum pernah merasakan seperti ini Yon.. emang kamu sangat hebat untuk melakukan hal ini,” aku pun bekata, “Iya sayang,” sambil aku mengecup bibir mereka berdua. Karena hari sudah larut malam aku pun bergegas untuk pulang dan pamit kepada mereka. Setelah kejadian itu kami sering melakukannya, baik di rumah maupun di hotel. Sekian cerita dariku ini. Bila anda berkesan, anda dapat berkenalan denganku melalui e-mail. Terima kasih atas nilai yang anda berikan lewat cerita ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-6326203767502168424?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/6326203767502168424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=6326203767502168424' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/6326203767502168424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/6326203767502168424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/10/pesta-seks-antara-vonny-dan-nadya.html' title='Pesta Seks Antara Vonny dan Nadya'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TMEUW1p3DEI/AAAAAAAAAE0/4QGkVDtK0Ts/s72-c/anna-friel-anna-chapman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-8642541606252387277</id><published>2010-10-07T18:59:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T03:42:50.459-07:00</updated><title type='text'>-- INCEST --</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Chijaunet%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Chijaunet%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Chijaunet%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;script src="http://kumpulblogger.com/dam.php?b=131861" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;					&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini bermula pada saat gue masih berumur 17 taon, saat itu gue masih duduk di bangku SMA. Waktu itu gue akuin kalo gue emang tergolong anak yg bandel, gue seneng banget nongkrong/ngumpul sama anak-anak yang usianya jauh diatas gue. Itu semua berakibat pada umur segitu gue udah ngerasain sex bebas. Sampai pada suatu hari (hari sabtu)..., waktu gue baru bangun tidur telepon rumah gue bunyi dan saat itu seperti biasanya dirumah engga ada orang selain gue dan nyokap gue. Dengan terpaksa walaupun mata masih lima watt gue jalan ke ruang tengah buat ngangkat telepon. Ternyata dari cewek gue...langsung aja rasa ngantuk gue ilang sama sekali, berhubung dari semalem gue udah ngerencanain kegiatan yang mantaf punya dengan cewek gue itu. Ngobrol punya ngobrol engga taunya cewek gue ngasih kabar bahwa pada hari itu dia ada acara dengan keluarganya keluar kota katanya sih arisan keluarga dan dia mau engga mau harus ikut. Walaupun dengan segala macam rayuan dia tetap bilang kalo engga bisa jalan ama gue hari itu, dengan kesal telepon gue banting yang ada dipikran gue saat itu...ilang deh rencana yang udah gue buat semaleman, padahal gue udah ngebayangin malem ini bakalan ngelonin body cewek gue yang aduhai.... Abis teleponan gue berniat nyari rokok gue ke kamar dan sekalian bermaksud buat tidur lagi...abis kesel sih!. Baru beberapa langkah telepon udah bunyi lagi...gue pikir ini pasti dari cewek gue lagi. Pas gue angkat ternyata dari kakaknya nyokap gue, berhubung gue lagi bad mood gue bilang aja kalo nyokap gue masih tidur. Tante gue akhirnya hanya kasih tau kalo acara jalan ama nyokap gue dibatalin dan minta tolong untuk disampein. Abis itu gue engga jadi ngambil rokok gue dikamar tapi gue langsung menuju ke kamar nyokap buat ngasih tau perihal telepon tadi. Waktu gue buka pintu kamar gue lihat nyokap gue sedang duduk di ranjang sambil sandaran di bantal dan nyokap kelihatan sedang merem sambil tangannya maninin nonoknya sendiri pake alat yang mirip seperti kontol beneran. Waktu itu gue kaget setengah mati takut kalo nyokap gue marah...tapi keliatannya nyokap gue juga kaget bercampur malu. Dia langsung ngeberesin bajunya yang acak-acakan dan peralatannya di masukin kelaci tempat tidur. Sambil masih kaget gue bialng aja... "Mah tadi ada telpon dari tante Avin katanya acara hari ini batal!". Gue lihat nyokap gue udah bisa netralisir keadan dan bilang "Oh...Gitu toh...ya udah engga apa-apa Jim, makasih deh...!" &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Setelah itu gue langsung aja beranjak menuju ke pintu untuk segera keluar dari kamar nyokap. Tapi baru beberapa langkah gue denger nyokap manggil gue..."Jim...kamu mau nolongin Mamah engga sayang...?". "Nolong apaan sih Mah? pasti Jimmy mau dong..!", sambil gue balik badan. "Sini dulu dong, duduk disini samping Mamah...!" kata nyokap. Dengan masih agak bingung gue duduk juga disamping nyokap gue. Trus nyokap gue bilang..."Jim...kamu kan tadi udah liat Mamah lagi ngapain kan...!, abis Papah kamu udah lama engga pulang sih Jim, kamu pasti ngerti lah...!!". "Iya Mah...Jimmy ngerti koq'" jawab gue. "Trus Jim...Mamah kayaknya lagi nanggung nih..!Kamu bisa tolong mamah sebentar kan?", tanya nyokap gue lagi. "Maksud mamah apa nih...Jimmy belon ngerti Mah...?", gue belagak bego. "Kamu Mamah ajarin deh! nanti juga kamu ngerti gampang koq Jim...!". Abis itu nyokap gue langsung ngelepas dasternya dan dibalik itu dia ternyata udah engga pake apa-apa lagi...!!alias bugil...(gile juga yah nyokap gue). Gue kaget bukan main tetapi berhubung pingin tau juga gue diem aja sambil memperhatikan bentuk tubuh nyokap gue, ternyata body nyokap gue masih dua tingkat diatas body cewek gue. Body nyokap gue kelihatan udah mateng bener, teteknya masih kenceng dengan puting yang tegak menantang. &lt;script src="http://kumpulblogger.com/dam.php?b=131861" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;					&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;Jembut yang lebat namun ditata dengan rapi berbentuk segitiga sehingga bagi yang melihatnya merupakan suatu pemandangan yang menggiurkan. Tanpa gue sadarin kontol gue udah ngaceng dan berhubung gue cuma pake celana pendek tipis doang maka jelas terlihat. Dan rupanya hal ini disadari oleh Nyokap gue, "Nah kan kamu udah mulai terangsang...jadi kayaknya makin gampang aja nih Jim...?", kata nyokap gue sambil usaha untuk ngelepasin semua baju gue. "Tapi Mah...nanti apa kata orang...?", sahut gue sekenanya. "Kan engga ada yang ngeliat Jimmy...dan ngapain juga kita harus kasih tau ke orang-orang...cukup kamu sama Mamah aja...!", Nyokap gue ngasih penjelasan. Setelah baju sama celana pendek gue lepas maka gue cuma pake celana kolor doang, dan gue lihat Nyokap gue ngasih kode ke gue untuk ngelepasin yang satu itu juga. Tapi gue masih ragu "Kan malu Mah...", kata gue. "Malu sama siapa sih Jim...kan cuma sama Mamah aja masa sih kamu malu...ya udah Mamah yang lepasin yah...?", abis bilang gitu nyokap gue ngeplorotin celana dalem gue dan ngelempar ke kolong ranjang. Setelah CD gue lepas maka kontol gue yag dari tadi udah ngaceng berat langsung nunjuk ke muka nyokap gue. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Wah punya kamu lumayan juga nih...Jim, kayaknya sih sama dengan punya Papah kamu nih...!", sambil ngomong gitu nyokap gue ngelus-ngelus kontol gue dengan lembut. Perasaan gue saat itu kayaknya gimana...gitu...gue engga tau lagi harus berbuat apa, jadi gue diemin aja sambil mencoba nikmatin apa yang diperbuat nyokap gue. Abis itu nyokap langsung jilat palkon gue yang udah berdenyut-denyut engga karuan, sambil sesekali ngelamot abis batang kontol gue yang lumayan gede. Selang beberapa menit nyokap gue nyuruh gue untuk naik ke ranjang, maka kita berdua segera beranjak dari lantai kamar ke atas ranjang nyokap gue yang empuk dan luas. Nyokap gue langsung ambil posisi celentang dengan kedua pahanya dikangkangin lebar-lebar sambil bilang..,"Jim...coba kamu sini...jilatin tetek Mamah dong...!". Berhubung gue udah dirasuki oleh birahi yang tinggi ditambah memang seharusnya hari ini gue ngelakuin ini dengan cewek gue sendiri dan acara itu ternyata gagal total, maka gue langsung aja menghampiri tetek nyokap gue yang masih kelihatan kencang dan padat walaupun tidak begitu besar tapi cukup proposional dengan ukuran tubuhnya. Gue lantas ambil inisiatif untuk menjilati bagian putingnya dulu sambil sesekali menggigit gemas (dalam urusan begini gue udah bukan beginer lagi). Usaha ini ternyata menimbulkan rangsangan buat nyokap gue ini terbukti dengan terdengar rintihan nikmat dari mulut nyokap gue, "Shhhhh....uuuhhhh...shhssshhhsss....aduh...Jim...". Ternyata tetek nyokap gue memang masih kencang dan bertambah kencang setelah gue lamot abis. Setelah puas dengan tetek gue mulai turun ke bagian bawah yaitu ke bagian nonok nyokap gue. Gue mulai dari arah jembut yang berbentuk segitiga terus turun ke arah itilnya yang udah mulai nyembul keluar, semua gue jilat abis sampe engga ada yang kelewat. Suara nyokap gue yang tadinya cuma rintihan berubah menjadi teriakan, "Aaaahhhh....waaawww...Jim...aduhhhh...Jim...kamu pinter banget sih....ahhhh....shhhhh...!"."Udah Jim....ahhh..Mamah udah engga tahan nih...!!", kata nyokap gue lagi. ya udah, abis itu gue bangun dan langsung gue arahin kontol gue ke arah lobang vagina yang udah basah mendekati banjir. Gue masukin pelan-pelan...dan terasa hangat, bleeep...masuk sudah kontol gue ke dalem nonok nyokap gue. Walaupun terasa sedikit agak longgar dibanding punya cewek gue tapi ranggsangan yang gue terima lebih besar dan ini semua menambah nikmat yang tidak ada bandingnya. Pelan-pelan gue maju mundurin kontol gue sesuai dengan gerakan yang dilakukan nyokap gue, makin lama gerakan gue makin cepat dan gue rasain tubuh nyokap gue bergetar hebat sambil kedua tangannya meremas pantat gue kenceng banget. Gue tau kalo nyokap gue udah orgasme dan itu pun ditandai denga erangan hebat..."Aaaawww.....ahhhh....Jimmyyyyyy.....aduuuuhhhh....Mamah engga tahan Jim.....aaahhhhhhh........", gue ngerasa kontol gue dibanjiri oleh cairan yang membuat makin licin dan kayaknya gue juga udah engga tahan. "Mahhhh....Jimmy udah mau keluar nihhhhh.....ahhh.....,keluarin di dalem apa diluar Mah.....?", tanya gue. "Udah keluarin di dalem aja Jim...engga apa-apa koq....!", jawab nyokap sambil ngelus ngelus pantat gue.&lt;br /&gt;Dengan cepat gue gesekin kontol gue dan akhirnya muncratlah peju gue di dalem nonok nyokap gue, "Creeet...creeeet.....creeeet....aaaahhhhhhh, Mah enak banget nih....", ujar gue setelah muncratin peju gue banyak banget.  "Iya sayang...Mamah juga enak koq....", balas nyokap dengan lembut di kuping gue. "Tuh...Jim gampang kan...udah gitu enak lagi!!", kata nyokap gue setelah kita berdua tidur berdampingan sambil menyeka keringat yang keluar dari tubuh masing masing. "Jimmy makasih banyak yah...sayang...yah...!", kata nyokap gue sambil mengecup pipi gue lembut banget, abis berkata begitu dia langsung bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan dengan air dari shower. Sambil masih tiduran gue, jadi berpikir apa yang gue lakuin dengan nyokap gue ini bener apa salah...tapi ini semua awalnya kan diluar kehendak gue sendiri jadi akhirnya gue putusin "What the hell lah...". Semenjak saat itu gue jadi rutin ngelakuin itu sama nyokap gue dan kita udah bikin jadwal tetap disesuaikan dengan jadwal kepulangan bokap gue, dan itu semua yang ngatur nyokap gue sendiri. Hubungan dengan cewek gue masih berlanjut tapi itu cuma sekedarnya, cuma buat pelampiasan kalo bokap gue pulang dan libido gue lagi tinggi. Yang jelas setelah saat itu gue cuma pingin ngentot sama nyokap gue sendiri karena rasanya lebih nikmat dibanding dengan yang lain.  Sekian cerita dari gue, sekarang gue udah berusia 25 taon dan udah kerja di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang komputer.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-8642541606252387277?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/8642541606252387277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=8642541606252387277' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/8642541606252387277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/8642541606252387277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/10/incest.html' title='-- INCEST --'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-1653416955586287586</id><published>2010-10-04T00:50:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T03:43:30.016-07:00</updated><title type='text'>Tri, Pembantu Binal</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_0"&gt;kompleks&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1"&gt;perumahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_2"&gt;ibuku&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_3"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_4"&gt;terkenal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_5"&gt;sebagai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_6"&gt;pembantu&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_7"&gt;genit&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_8"&gt;ganjen&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_9"&gt;centil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_10"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_11"&gt;sebagainya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_12"&gt;Dia&lt;/span&gt; sering &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_13"&gt;gonta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_14"&gt;ganti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_15"&gt;pacar&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_16"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_17"&gt;baru&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_18"&gt;berumur&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_19"&gt;kurang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_20"&gt;lebih&lt;/span&gt; 22 &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_21"&gt;tahun&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_22"&gt;Bodynya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_23"&gt;bagus&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_24"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_25"&gt;payudara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_26"&gt;berukuran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_27"&gt;kira&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_28"&gt;kira&lt;/span&gt; 34D &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_29"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_30"&gt;pantat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_31"&gt;bulat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_32"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_33"&gt;padat&lt;/span&gt;. Yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_34"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_35"&gt;menggairahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_36"&gt;adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_37"&gt;cara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_38"&gt;berpakaiannya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_39"&gt;Dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_40"&gt;kerap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_41"&gt;mengenakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_42"&gt;kaos&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_43"&gt;ketat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_44"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_45"&gt;celana&lt;/span&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;model &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_46"&gt;ABG&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_47"&gt;sekarang&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_48"&gt;memperlihatkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_49"&gt;pinggul&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_50"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_51"&gt;pusar&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_52"&gt;Wajahnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_53"&gt;cukup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_54"&gt;manis&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_55"&gt;bibirnya&lt;/span&gt; sensual &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_56"&gt;sekali&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_57"&gt;Tugas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_58"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_59"&gt;adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_60"&gt;menjaga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_61"&gt;anak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_62"&gt;majikannya&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_63"&gt;masih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_64"&gt;kecil&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_65"&gt;kecil&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" more=""&gt;id="SPELLING_ERROR_66"&gt;Kalau&lt;/span&gt; sore &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_67"&gt;hari&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_68"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_69"&gt;selalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_70"&gt;mengajak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_71"&gt;anak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_72"&gt;majikannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_73"&gt;berjalan&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_74"&gt;jalan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_75"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_76"&gt;disuapi&lt;/span&gt;. Nah, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_77"&gt;aku&lt;/span&gt; sering &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_78"&gt;sekali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_79"&gt;berpapasan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_80"&gt;dengannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_81"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_82"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_83"&gt;sedang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_84"&gt;mengasuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_85"&gt;Nabila&lt;/span&gt; (&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_86"&gt;anak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_87"&gt;bungsu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_88"&gt;pasangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" more=""&gt;tempat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_90"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_91"&gt;bekerja&lt;/span&gt;). &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_92"&gt;Nabila&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_93"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_94"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_95"&gt;anak&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_96"&gt;lucu&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_97"&gt;sehingga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_98"&gt;kadang&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_99"&gt;kadang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_100"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_101"&gt;berhenti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_102"&gt;sebentar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_103"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_104"&gt;mencubit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_105"&gt;pipinya&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_106"&gt;Suatu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_107"&gt;kali&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_108"&gt;seperti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_109"&gt;biasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_110"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_111"&gt;bertemu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_112"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_113"&gt;Tri&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_114"&gt;sedang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_115"&gt;mengasuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_116"&gt;Nabila&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_117"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_118"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_119"&gt;berhenti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_120"&gt;sebentar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_121"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_122"&gt;mencubit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_123"&gt;pipinya&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_124"&gt;Tiba&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_125"&gt;tiba&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_126"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_127"&gt;nyeletuk&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_128"&gt;Kok&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_129"&gt;cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_130"&gt;Nabila&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_131"&gt;dicubit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_132"&gt;Pak&lt;/span&gt;?"&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_133"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_134"&gt;sedikit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_135"&gt;terkesiap&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_136"&gt;Haah&lt;/span&gt;?" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_137"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_138"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_139"&gt;memandang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_140"&gt;kepada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_141"&gt;Tri&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_142"&gt;Dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_143"&gt;sedang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_144"&gt;menatapku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_145"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_146"&gt;kerlingan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_147"&gt;genit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_148"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_149"&gt;tersenyum&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_150"&gt;menggoda&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_151"&gt;Habis&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_152"&gt;kalau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_153"&gt;aku&lt;/span&gt; cubit &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_154"&gt;pipi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_155"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_156"&gt;Tri&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_157"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_158"&gt;takut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_159"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_160"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_161"&gt;marah&lt;/span&gt;," &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_162"&gt;kataku&lt;/span&gt;. "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_163"&gt;Kalau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_164"&gt;cubitnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_165"&gt;pelan&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_166"&gt;pelan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_167"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_168"&gt;nggak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_169"&gt;marah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_170"&gt;kok&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_171"&gt;Pak&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_172"&gt;&lt;script src="http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=131861&amp;amp;onlytitle=1" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;Malah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_173"&gt;seneng&lt;/span&gt;," &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_174"&gt;sahut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_175"&gt;Tri&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_176"&gt;Kurang&lt;/span&gt; ajar &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_177"&gt;anak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_178"&gt;ini&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_179"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_180"&gt;membatin&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_181"&gt;tapi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_182"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_183"&gt;tergoda&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_184"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_185"&gt;memancingnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_186"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_187"&gt;jauh&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_188"&gt;Kalau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_189"&gt;cuma&lt;/span&gt; cubit &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_190"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_191"&gt;enggak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_192"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_193"&gt;Tri&lt;/span&gt;." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_194"&gt;kataku&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_195"&gt;Terus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_196"&gt;maunya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_197"&gt;apa&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_198"&gt;Emang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_199"&gt;berani&lt;/span&gt;?" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_200"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_201"&gt;malah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_202"&gt;menantang&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_203"&gt;Benar&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_204"&gt;benar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_205"&gt;ganjen&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_206"&gt;anak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_207"&gt;ini&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_208"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_209"&gt;maunya&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_210"&gt;cium&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_211"&gt;bibir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_212"&gt;kamu&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_213"&gt;seksi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_214"&gt;itu&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_215"&gt;boleh&lt;/span&gt;?" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_216"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_217"&gt;bertanya&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_218"&gt;Dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_219"&gt;malah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_220"&gt;balik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_221"&gt;bertanya&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_222"&gt;Cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_223"&gt;cium&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_224"&gt;Enggak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_225"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_226"&gt;kalau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_227"&gt;cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_228"&gt;cium&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_229"&gt;Astaga&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_230"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_231"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_232"&gt;keterlaluan&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_233"&gt;Tri&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_234"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_235"&gt;kan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_236"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_237"&gt;punya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_238"&gt;isteri&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_239"&gt;emang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_240"&gt;kamu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_241"&gt;masih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_242"&gt;mau&lt;/span&gt;?" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_243"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_244"&gt;bertanya&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_245"&gt;Yaa&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_246"&gt;jangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_247"&gt;sampai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_248"&gt;isteri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_249"&gt;Pak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_250"&gt;Irwan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_251"&gt;tahu&lt;/span&gt; dong. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_252"&gt;Masak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_253"&gt;cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_254"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_255"&gt;Enny&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_256"&gt;aja&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_257"&gt;boleh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_258"&gt;ngerasain&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_259"&gt;Pak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_260"&gt;Irwan&lt;/span&gt;." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_261"&gt;balas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_262"&gt;Tri&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_263"&gt;Anda&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_264"&gt;pernah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_265"&gt;membaca&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_266"&gt;pengalamanku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_267"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_268"&gt;cerita&lt;/span&gt; '&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_269"&gt;Enny&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_270"&gt;Pembantu&lt;/span&gt; Yang Sexy' &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_271"&gt;pasti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_272"&gt;ingat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_273"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_274"&gt;Enny&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_275"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_276"&gt;agak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_277"&gt;kaget&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_278"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_279"&gt;mendengar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_280"&gt;ucapan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_281"&gt;Tri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_282"&gt;Rupanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_283"&gt;Enny&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_284"&gt;curhat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_285"&gt;sama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_286"&gt;Tri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_287"&gt;Tapi&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_288"&gt;kepalang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_289"&gt;tanggung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_290"&gt;pikirku&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_291"&gt;Jadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_292"&gt;benar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_293"&gt;nih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_294"&gt;kamu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_295"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_296"&gt;Tri&lt;/span&gt;?" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_297"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_298"&gt;memastikan&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_299"&gt;Kamu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_300"&gt;bisanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_301"&gt;kapan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_302"&gt;Tri&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_303"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_304"&gt;sih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_305"&gt;kapan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_306"&gt;aja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_307"&gt;bisa&lt;/span&gt;," &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_308"&gt;jawabku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_309"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_310"&gt;melirik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_311"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_312"&gt;toketnya&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_313"&gt;bagus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_314"&gt;itu&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_315"&gt;Saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_316"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_317"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;id="SPELLING_ERROR_318"&gt;pake&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_319"&gt;kaos&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_320"&gt;ketat&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_321"&gt;tipis&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_322"&gt;sehingga&lt;/span&gt; bra &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_323"&gt;hitamnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_324"&gt;membayang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_325"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_326"&gt;memperlihatkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_327"&gt;lekuk&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_328"&gt;sangat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_329"&gt;mengairahkan&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_330"&gt;Pembaca&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_331"&gt;terus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_332"&gt;terang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_333"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_334"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_335"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_336"&gt;sudah&lt;/span&gt; "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_337"&gt;Konak&lt;/span&gt;". &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_338"&gt;Penisku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_339"&gt;kurasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_340"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_341"&gt;mengeras&lt;/span&gt;."Ya &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_342"&gt;sudah&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_343"&gt;nanti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_344"&gt;malam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_345"&gt;aja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_346"&gt;Pak&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_347"&gt;kebetulan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_348"&gt;Bapak&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_349"&gt;Ibu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_350"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_351"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_352"&gt;Bogor&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_353"&gt;anak&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_354"&gt;anak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_355"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_356"&gt;diajak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_357"&gt;semua&lt;/span&gt;." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_358"&gt;kata&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_359"&gt;Tri&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_360"&gt;Oke&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_361"&gt;nanti&lt;/span&gt; jam &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_362"&gt;berapa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_363"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_364"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_365"&gt;rumahmu&lt;/span&gt;?" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_366"&gt;tanyaku&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_367"&gt;Yaa&lt;/span&gt;, jam &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_368"&gt;delapanan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_369"&gt;deh&lt;/span&gt;," &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_370"&gt;jawab&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_371"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_372"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_373"&gt;membusungkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_374"&gt;dadanya&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_375"&gt;Dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_376"&gt;tahu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_377"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_378"&gt;sedang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_379"&gt;memperhatikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_380"&gt;toketnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_381"&gt;Nafsuku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_382"&gt;menggelegak&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_383"&gt;Kamu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_384"&gt;nantang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_385"&gt;benar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_386"&gt;sih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_387"&gt;Tri&lt;/span&gt;, ya &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_388"&gt;sudah&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_389"&gt;nanti&lt;/span&gt; jam &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_390"&gt;delapan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_391"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_392"&gt;dateng&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_393"&gt;Awas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_394"&gt;nanti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_395"&gt;kamu&lt;/span&gt; ya." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_396"&gt;ancamku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_397"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_398"&gt;tersenyum&lt;/span&gt;.Eh, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_399"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_400"&gt;malah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_401"&gt;menjawab&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_402"&gt;Asal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_403"&gt;Pak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_404"&gt;Irwan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_405"&gt;kuat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_406"&gt;aja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_407"&gt;nanti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_408"&gt;malam&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_409"&gt;Sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_410"&gt;mengedipkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_411"&gt;matanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_412"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_413"&gt;bibirnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_414"&gt;membuat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_415"&gt;gerakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_416"&gt;mengecup&lt;/span&gt;. Ya &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_417"&gt;ampuunn&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_418"&gt;bibirnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_419"&gt;benar&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_420"&gt;benar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_421"&gt;seksi&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_422"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_423"&gt;menyabarkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_424"&gt;diri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_425"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_426"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_427"&gt;menggigit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_428"&gt;bibir&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_429"&gt;menggemaskan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_430"&gt;itu&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_431"&gt;Kalau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_432"&gt;gitu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_433"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_434"&gt;pulang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_435"&gt;dulu&lt;/span&gt; ya &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_436"&gt;Tri&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_437"&gt;sampai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_438"&gt;nanti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_439"&gt;malam&lt;/span&gt; ya." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_440"&gt;kataku&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_441"&gt;Benar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_442"&gt;yaa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_443"&gt;Jangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_444"&gt;boong&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_445"&gt;lho&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_446"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_447"&gt;tunggu&lt;/span&gt; ya &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_448"&gt;sayang&lt;/span&gt;.." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_449"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_450"&gt;membalas&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_451"&gt;Malamnya&lt;/span&gt;, jam &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_452"&gt;delapan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_453"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_454"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_455"&gt;berada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_456"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_457"&gt;depan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_458"&gt;pagar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_459"&gt;rumah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_460"&gt;Tri&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_461"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_462"&gt;tepat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_463"&gt;rumah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_464"&gt;majikannya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_465"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_466"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_467"&gt;menungguku&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_468"&gt;Dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_469"&gt;membukakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_470"&gt;pintu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_471"&gt;pagar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_472"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_473"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_474"&gt;langsung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_475"&gt;masuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_476"&gt;setelah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_477"&gt;melihat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_478"&gt;situasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_479"&gt;aman&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_480"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_481"&gt;ada&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_482"&gt;melihat&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_483"&gt;Kami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_484"&gt;masuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_485"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_486"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_487"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_488"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_489"&gt;langsung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_490"&gt;mengunci&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_491"&gt;pintu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_492"&gt;depan&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_493"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_494"&gt;memakai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_495"&gt;celana&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_496"&gt;sangat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_497"&gt;pendek&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_498"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_499"&gt;kaos&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_500"&gt;ketat&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_501"&gt;Kulitnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_502"&gt;cukup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_503"&gt;mulus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_504"&gt;walaupun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_505"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_506"&gt;terlalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_507"&gt;putih&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_508"&gt;namun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_509"&gt;dibandingkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_510"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_511"&gt;Enny&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_512"&gt;masih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_513"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_514"&gt;putih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_515"&gt;Tri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_516"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_517"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_518"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_519"&gt;membuang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_520"&gt;waktu&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_521"&gt;langsung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_522"&gt;kudekap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_523"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_524"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_525"&gt;kuserbu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_526"&gt;bibirnya&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_527"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_528"&gt;sudah&lt;/span&gt; lama &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_529"&gt;sekali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_530"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_531"&gt;incar&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_532"&gt;Bibir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_533"&gt;kami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_534"&gt;berpagutan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_535"&gt;lidah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_536"&gt;kami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_537"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_538"&gt;membelit&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_539"&gt;dipadu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_540"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_541"&gt;nafas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_542"&gt;kami&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_543"&gt;memburu&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_544"&gt;Tiba&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_545"&gt;tiba&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_546"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_547"&gt;melepaskan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_548"&gt;ciuman&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_549"&gt;kami&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_550"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_551"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_552"&gt;memegang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_553"&gt;kedua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_554"&gt;pipiku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_555"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_556"&gt;menatapku&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_557"&gt;lalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_558"&gt;berkata&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_559"&gt;manja&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_560"&gt;Pak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_561"&gt;Irwan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_562"&gt;kalau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_563"&gt;Pak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_564"&gt;Irwan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_565"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_566"&gt;ngewe&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_567"&gt;sama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_568"&gt;Tri&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_569"&gt;ada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_570"&gt;syaratnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_571"&gt;Pak&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_572"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_573"&gt;bingung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_574"&gt;juga&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_575"&gt;Apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_576"&gt;syaratnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_577"&gt;Tri&lt;/span&gt;?" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_578"&gt;tanyaku&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_579"&gt;Pak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_580"&gt;Irwan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_581"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_582"&gt;panggil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_583"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_584"&gt;Mbak&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_585"&gt;terus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_586"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_587"&gt;panggil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_588"&gt;Pak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_589"&gt;Irwan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_590"&gt;Yayang&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_591"&gt;Gimana&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_592"&gt;Mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_593"&gt;nggak&lt;/span&gt;?" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_594"&gt;tanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_595"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_596"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_597"&gt;tangannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_598"&gt;turun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_599"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_600"&gt;dadaku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_601"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_602"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_603"&gt;meremas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_604"&gt;dadaku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_605"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_606"&gt;gemas&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_607"&gt;Pembaca&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_608"&gt;ini&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_609"&gt;mengherankan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_610"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_611"&gt;seorang&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_612"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_613"&gt;berusia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_614"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_615"&gt;atas&lt;/span&gt; 40 &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_616"&gt;tahun&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_617"&gt;punya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_618"&gt;isteri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_619"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_620"&gt;anak&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_621"&gt;jabatanku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_622"&gt;cukup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_623"&gt;tinggi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_624"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_625"&gt;kantor&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_626"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_627"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_628"&gt;pembantu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_629"&gt;rumah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_630"&gt;tangga&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_631"&gt;berumur&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_632"&gt;baru&lt;/span&gt; 22 &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_633"&gt;tahun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_634"&gt;mencoba&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_635"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_636"&gt;menguasaiku&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_637"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_638"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_639"&gt;merasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_640"&gt;senang&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_641"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_642"&gt;mengangguk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_643"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_644"&gt;menjawab&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_645"&gt;Iya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_646"&gt;Mbak&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_647"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_648"&gt;mau&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_649"&gt;Sementara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_650"&gt;itu&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_651"&gt;penisku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_652"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_653"&gt;ereksi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_654"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_655"&gt;maksimal&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_656"&gt;Sekarang&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_657"&gt;Yayang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_658"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_659"&gt;nurut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_660"&gt;apa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_661"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_662"&gt;bilang&lt;/span&gt; ya." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_663"&gt;perintah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_664"&gt;Tri&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_665"&gt;maksudku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_666"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_667"&gt;Tri&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_668"&gt;Lalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_669"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_670"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_671"&gt;menuntunku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_672"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_673"&gt;kamarnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_674"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_675"&gt;bagian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_676"&gt;belakang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_677"&gt;rumah&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_678"&gt;Kami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_679"&gt;masuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_680"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_681"&gt;kamar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_682"&gt;itu&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_683"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_684"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_685"&gt;menutup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_686"&gt;pintu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_687"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_688"&gt;sekarng&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_689"&gt;dia&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_690"&gt;memeluk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_691"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_692"&gt;menyerbu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_693"&gt;bibirku&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_694"&gt;Kembali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_695"&gt;kami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_696"&gt;berpagutan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_697"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_698"&gt;berdiri&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_699"&gt;lidah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_700"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_701"&gt;belit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_702"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_703"&gt;gelora&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_704"&gt;nafsu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_705"&gt;kami&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_706"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_707"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_708"&gt;kembali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_709"&gt;melepaskan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_710"&gt;ciuman&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_711"&gt;kami&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_712"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_713"&gt;berkata&lt;/span&gt;," &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_714"&gt;Yaang&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_715"&gt;kamu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_716"&gt;jongkok&lt;/span&gt; dong." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_717"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_718"&gt;menurut&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_719"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_720"&gt;berjongkok&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_721"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_722"&gt;depan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_723"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_724"&gt;Tri&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_725"&gt;Lepasin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_726"&gt;celana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_727"&gt;Mbak&lt;/span&gt; Yang, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_728"&gt;pelan&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_729"&gt;pelan&lt;/span&gt; ya &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_730"&gt;Yaang&lt;/span&gt;.""&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_731"&gt;Iya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_732"&gt;Mbak&lt;/span&gt;." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_733"&gt;cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_734"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_735"&gt;kata&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_736"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_737"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_738"&gt;keluarkan&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_739"&gt;Lalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_740"&gt;akupun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_741"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_742"&gt;menurunkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_743"&gt;celana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_744"&gt;pendeknya&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_745"&gt;tinggal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_746"&gt;ditarik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_747"&gt;saja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_748"&gt;kebawah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_749"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_750"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_751"&gt;memakai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_752"&gt;celana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_753"&gt;olahraga&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_754"&gt;Perlahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_755"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_756"&gt;tampak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_757"&gt;pemandangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_758"&gt;indah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_759"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_760"&gt;depan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_761"&gt;mataku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_762"&gt;persis&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_763"&gt;Pembaca&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_764"&gt;memeknya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_765"&gt;gundul&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_766"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_767"&gt;bulu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_768"&gt;sedikitpun&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_769"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_770"&gt;montok&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_771"&gt;sekali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_772"&gt;bentuknya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_773"&gt;Warnanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_774"&gt;kemerahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_775"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_776"&gt;diatasnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_777"&gt;terlihat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_778"&gt;clitnya&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_779"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_780"&gt;montok&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_781"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_782"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_783"&gt;melibarkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_784"&gt;pahanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_785"&gt;sedikit&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_786"&gt;sehingga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_787"&gt;memeknya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_788"&gt;agak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_789"&gt;terkuak&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_790"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_791"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_792"&gt;mendongakkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_793"&gt;wajahku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_794"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_795"&gt;tangannya&lt;/span&gt;.Dan &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_796"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_797"&gt;bertanya&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_798"&gt;Gimana&lt;/span&gt; Yang? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_799"&gt;Bagus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_800"&gt;nggak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_801"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_802"&gt;Mbak&lt;/span&gt;?""&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_803"&gt;Iya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_804"&gt;Mbak&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_805"&gt;Bagus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_806"&gt;banget&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_807"&gt;Tembem&lt;/span&gt;." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_808"&gt;jawabku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_809"&gt;tersendat&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_810"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_811"&gt;menahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_812"&gt;nafsu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_813"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_814"&gt;diriku&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_815"&gt;Yayang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_816"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_817"&gt;cium&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_818"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_819"&gt;Mbak&lt;/span&gt;?" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_820"&gt;tanyanya&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_821"&gt;Mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_822"&gt;Mbak&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_823"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_824"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_825"&gt;menunggu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_826"&gt;diperintah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_827"&gt;dua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_828"&gt;kali&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_829"&gt;Langsung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_830"&gt;kuserbu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_831"&gt;Memek&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_832"&gt;sangat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_833"&gt;indah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_834"&gt;itu&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_835"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_836"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_837"&gt;menaikkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_838"&gt;sebelah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_839"&gt;kakinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_840"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_841"&gt;atas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_842"&gt;tempat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_843"&gt;tidur&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_844"&gt;sehingga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_845"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_846"&gt;terbuka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_847"&gt;ruang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_848"&gt;bagiku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_849"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_850"&gt;mencium&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_851"&gt;keharuman&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_852"&gt;memeknya&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_853"&gt;Mula&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_854"&gt;mula&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_855"&gt;hidungku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_856"&gt;menyentuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_857"&gt;kelembaban&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_858"&gt;memeknya&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_859"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_860"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_861"&gt;menghirup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_862"&gt;keharuman&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_863"&gt;memabokkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_864"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_865"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_866"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_867"&gt;Tri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_868"&gt;Kususupkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_869"&gt;hidungku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_870"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_871"&gt;jepitan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_872"&gt;daging&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_873"&gt;kenikmatan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_874"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_875"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_876"&gt;Tri&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_877"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_878"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_879"&gt;mengerang&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_880"&gt;Aahh&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_881"&gt;Yayaanngg&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_882"&gt;Terusin&lt;/span&gt; Yang."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_883"&gt;Lalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_884"&gt;kukecup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_885"&gt;memeknya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_886"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_887"&gt;penuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_888"&gt;kelembutan&lt;/span&gt;. Dan &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_889"&gt;perlahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_890"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_891"&gt;keluarkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_892"&gt;lidahku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_893"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_894"&gt;menjelajahi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_895"&gt;bibir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_896"&gt;memeknya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_897"&gt;Kugerakkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_898"&gt;lidahku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_899"&gt;perlahan&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_900"&gt;lahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_901"&gt;kesekeliling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_902"&gt;memeknya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_903"&gt;Tanganku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_904"&gt;meremas&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_905"&gt;remas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_906"&gt;pantatnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_907"&gt;Sesekali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_908"&gt;lidahku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_909"&gt;menyapu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_910"&gt;klitnya&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_911"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_912"&gt;kujepit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_913"&gt;klitnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_914"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_915"&gt;kedua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_916"&gt;bibirku&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_917"&gt;Tubuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_918"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_919"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_920"&gt;mengejang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_921"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_922"&gt;mendesah&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_923"&gt;Aarrgghh&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_924"&gt;Yayaanngg&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_925"&gt;Ennaakk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_926"&gt;Yaanngg&lt;/span&gt;.."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_927"&gt;Kedua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_928"&gt;tangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_929"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_930"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_931"&gt;meremas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_932"&gt;rambutku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_933"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_934"&gt;menekan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_935"&gt;kepalaku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_936"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_937"&gt;belahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_938"&gt;pahanya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_939"&gt;Wajahku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_940"&gt;terbenam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_941"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_942"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_943"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_944"&gt;Tri&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_945"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_946"&gt;hampir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_947"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_948"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_949"&gt;bernafas&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_950"&gt;Yaanngg&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_951"&gt;Tunggu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_952"&gt;Yaang&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_953"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_954"&gt;nggak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_955"&gt;kuat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_956"&gt;berdiri&lt;/span&gt; Yang."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_957"&gt;Lalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_958"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_959"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_960"&gt;merebahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_961"&gt;tubuhnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_962"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_963"&gt;kasur&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_964"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_965"&gt;melepaskan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_966"&gt;kaos&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_967"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_968"&gt;branya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_969"&gt;Dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_970"&gt;terlentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_971"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_972"&gt;kasur&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_973"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_974"&gt;berdiri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_975"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_976"&gt;ingin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_977"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_978"&gt;melepas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_979"&gt;baju&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_980"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_981"&gt;celanaku&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_982"&gt;Jangan&lt;/span&gt; Yang, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_983"&gt;kamu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_984"&gt;jangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_985"&gt;buka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_986"&gt;baju&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_987"&gt;dulu&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_988"&gt;Jilatin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_989"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_990"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_991"&gt;dulu&lt;/span&gt; Yang." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_992"&gt;perintah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_993"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_994"&gt;Tri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_995"&gt;Lagi&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_996"&gt;lagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_997"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_998"&gt;nurut&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_999"&gt;Lalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1000"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1001"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1002"&gt;kembali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1003"&gt;menekan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1004"&gt;kepalaku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1005"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1006"&gt;selangkangannya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1007"&gt;Kuteruskan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1008"&gt;kegiatan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1009"&gt;mulut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1010"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1011"&gt;lidahku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1012"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1013"&gt;pesona&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1014"&gt;kewanitaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1015"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1016"&gt;Tri&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1017"&gt;sangat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1018"&gt;indah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1019"&gt;kurasa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1020"&gt;Kumasukkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1021"&gt;lidahku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1022"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1023"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1024"&gt;memeknya&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1025"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1026"&gt;kuputar&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1027"&gt;putar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1028"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1029"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1030"&gt;memeknya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1031"&gt;Dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1032"&gt;menggelinjang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1033"&gt;kenikmatan&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1034"&gt;Rambutku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1035"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1036"&gt;berantakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1037"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1038"&gt;diremas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1039"&gt;terus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1040"&gt;oleh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1041"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1042"&gt;Tri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1043"&gt;Sekitar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1044"&gt;sepuluh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1045"&gt;menit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1046"&gt;kujilati&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1047"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1048"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1049"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1050"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1051"&gt;memberinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1052"&gt;kenikmatan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1053"&gt;sorgawi&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1054"&gt;Akhirnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1055"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1056"&gt;menjerit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1057"&gt;tertahan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1058"&gt;tubuhnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1059"&gt;mengejang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1060"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1061"&gt;tangannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1062"&gt;menjambak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1063"&gt;sprei&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1064"&gt;Aauugghh&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1065"&gt;Yaanngg&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1066"&gt;Mbakk&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1067"&gt;Kkeeluaarr&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1068"&gt;Yaanngg&lt;/span&gt;" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1069"&gt;rintihnya&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1070"&gt;Pantat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1071"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1072"&gt;pingulnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1073"&gt;bergerak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1074"&gt;memutar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1075"&gt;dengan&lt;/span&gt; liar &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1076"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1077"&gt;tiba&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1078"&gt;tiba&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1079"&gt;berhenti&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1080"&gt;Sshh&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1081"&gt;Oogghh&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1082"&gt;Yaanngg&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1083"&gt;Ennaakk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1084"&gt;banggeett&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1085"&gt;Yaangg&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1086"&gt;Kusedot&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1087"&gt;seluruh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1088"&gt;cairan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1089"&gt;membanjir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1090"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1091"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1092"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1093"&gt;Tri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1094"&gt;Rasanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1095"&gt;gurih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1096"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1097"&gt;wanginya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1098"&gt;harum&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1099"&gt;sekali&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1100"&gt;Kurasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1101"&gt;becek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1102"&gt;sekali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1103"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1104"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1105"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1106"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1107"&gt;itu&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1108"&gt;Setelah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1109"&gt;berisitirahat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1110"&gt;kurang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1111"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1112"&gt;sepuluh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1113"&gt;menit&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1114"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1115"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1116"&gt;bangun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1117"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1118"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1119"&gt;membuka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1120"&gt;pakaianku&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1121"&gt;Sekarang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1122"&gt;giliran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1123"&gt;kamu&lt;/span&gt; Yang. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1124"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1125"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1126"&gt;gigitin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1127"&gt;kamu&lt;/span&gt;" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1128"&gt;perintahnya&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1129"&gt;Setelah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1130"&gt;semua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1131"&gt;pakaianku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1132"&gt;lepas&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1133"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1134"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1135"&gt;memandang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1136"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1137"&gt;penisku&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1138"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1139"&gt;pusing&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1140"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1141"&gt;tadi&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1142"&gt;Dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1143"&gt;menggenggam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1144"&gt;penisku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1145"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1146"&gt;gemas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1147"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1148"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1149"&gt;mengocoknya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1150"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1151"&gt;lembut&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1152"&gt;Kemudian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1153"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1154"&gt;disuruhnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1155"&gt;telentang&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1156"&gt;lalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1157"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1158"&gt;mendekatkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1159"&gt;kepalanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1160"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1161"&gt;penisku&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1162"&gt;Dikecupinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1163"&gt;kepala&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1164"&gt;penisku&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1165"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1166"&gt;lidahnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1167"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1168"&gt;menjelajahi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1169"&gt;bagian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1170"&gt;atas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1171"&gt;penisku&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1172"&gt;Astaga&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1173"&gt;permainan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1174"&gt;lidah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1175"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1176"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1177"&gt;luar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1178"&gt;biasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1179"&gt;sekali&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1180"&gt;Dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1181"&gt;sekejap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1182"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1183"&gt;dibuatnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1184"&gt;melayang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1185"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1186"&gt;angkasa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1187"&gt;Kenikmatan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1188"&gt;diberikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1189"&gt;melalui&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1190"&gt;lidah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1191"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1192"&gt;mulutnya&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1193"&gt;membuatku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1194"&gt;mendesah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1195"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1196"&gt;menggelepar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1197"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1198"&gt;karuan&lt;/span&gt;. Dari &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1199"&gt;bagian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1200"&gt;kepala&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1201"&gt;lalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1202"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1203"&gt;batang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1204"&gt;penisku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1205"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1206"&gt;bijiku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1207"&gt;semua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1208"&gt;dijilatinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1209"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1210"&gt;penuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1211"&gt;nafsu&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1212"&gt;Sesekali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1213"&gt;bijiku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1214"&gt;dimasukkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1215"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1216"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1217"&gt;mulutnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1218"&gt;Sampai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1219"&gt;terbalik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1220"&gt;mataku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1221"&gt;merasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1222"&gt;nikmatnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1223"&gt;Ujung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1224"&gt;lidahnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1225"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1226"&gt;menyapu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1227"&gt;bahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1228"&gt;menusuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1229"&gt;anusku&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1230"&gt;Kurasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1231"&gt;listrik&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1232"&gt;menyengat&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1233"&gt;Kemudian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1234"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1235"&gt;merayap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1236"&gt;naik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1237"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1238"&gt;badanku&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1239"&gt;mengangkangiku&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1240"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1241"&gt;mengarahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1242"&gt;penisku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1243"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1244"&gt;memeknya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1245"&gt;Perlahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1246"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1247"&gt;menurunkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1248"&gt;pantatnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1249"&gt;Kurasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1250"&gt;penisku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1251"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1252"&gt;melakukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1253"&gt;penetrasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1254"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1255"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1256"&gt;belahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1257"&gt;memeknya&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1258"&gt;sangat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1259"&gt;montok&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1260"&gt;itu&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1261"&gt;Agak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1262"&gt;susah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1263"&gt;pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1264"&gt;awalnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1265"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1266"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1267"&gt;tembem&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1268"&gt;sekali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1269"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1270"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1271"&gt;Tri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1272"&gt;Setelah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1273"&gt;masuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1274"&gt;semua&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1275"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1276"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1277"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1278"&gt;menaik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1279"&gt;turunkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1280"&gt;pantatnya&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1281"&gt;Aauugghh&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1282"&gt;Mbak&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1283"&gt;Enak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1284"&gt;Mbak&lt;/span&gt;." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1285"&gt;rintihku&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1286"&gt;Iya&lt;/span&gt; Yang, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1287"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1288"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1289"&gt;ngerasain&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1290"&gt;enak&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1291"&gt;Adduuhh&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1292"&gt;Kontol&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1293"&gt;kamu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1294"&gt;enak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1295"&gt;banget&lt;/span&gt; Yang."Dan &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1296"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1297"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1298"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1299"&gt;melakukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1300"&gt;putaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1301"&gt;pinggulnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1302"&gt;Pantatnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1303"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1304"&gt;lagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1305"&gt;turun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1306"&gt;naik&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1307"&gt;melainkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1308"&gt;pinggulnya&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1309"&gt;berputar&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1310"&gt;Ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1311"&gt;benar&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1312"&gt;benar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1313"&gt;membuat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1314"&gt;sensasi&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1315"&gt;luar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1316"&gt;biasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1317"&gt;nikmatnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1318"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1319"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1320"&gt;sangat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1321"&gt;pintar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1322"&gt;memutar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1323"&gt;pinggulnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1324"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1325"&gt;mengimbangi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1326"&gt;gerakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1327"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1328"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1329"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1330"&gt;menusuk&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1331"&gt;nusukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1332"&gt;penisku&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1333"&gt;Tapi&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1334"&gt;Yaanngg&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1335"&gt;Kamu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1336"&gt;diem&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1337"&gt;aja&lt;/span&gt; ya &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1338"&gt;Yaangg&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1339"&gt;Biar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1340"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1341"&gt;aja&lt;/span&gt; yang muter."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1342"&gt;Akupun&lt;/span&gt; diam &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1343"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1344"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1345"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1346"&gt;semakin&lt;/span&gt; liar &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1347"&gt;memutar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1348"&gt;pinggulnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1349"&gt;Tidak&lt;/span&gt; lama &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1350"&gt;kemudian&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1351"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1352"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1353"&gt;menghentikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1354"&gt;putaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1355"&gt;pinggulnya&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1356"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1357"&gt;kurasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1358"&gt;memeknya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1359"&gt;menyedot&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1360"&gt;penisku&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1361"&gt;Serasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1362"&gt;dipilin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1363"&gt;oleh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1364"&gt;gumpalan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1365"&gt;daging&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1366"&gt;hangat&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1367"&gt;kenyal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1368"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1369"&gt;kesat&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1370"&gt;Lalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1371"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1372"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1373"&gt;mengerang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1374"&gt;keras&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1375"&gt;Yaanngg&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1376"&gt;Aarrgghh&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1377"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1378"&gt;keluar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1379"&gt;laggii&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1380"&gt;Yaanngg&lt;/span&gt;.."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1381"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1382"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1383"&gt;rebah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1384"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1385"&gt;atas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1386"&gt;tubuhku&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1387"&gt;sementara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1388"&gt;memeknya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1389"&gt;terus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1390"&gt;menyedot&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1391"&gt;penisku&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1392"&gt;Luar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1393"&gt;biasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1394"&gt;sekali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1395"&gt;rasanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1396"&gt;memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1397"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1398"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1399"&gt;ini&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1400"&gt;Kemudian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1401"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1402"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1403"&gt;memberi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1404"&gt;perintah&lt;/span&gt; agar &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1405"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1406"&gt;bergantian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1407"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1408"&gt;atas&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1409"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1410"&gt;menurut&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1411"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1412"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1413"&gt;melepaskan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1414"&gt;penisku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1415"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1416"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1417"&gt;memeknya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1418"&gt;kami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1419"&gt;berubah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1420"&gt;posisi&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1421"&gt;Sekarang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1422"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1423"&gt;berada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1424"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1425"&gt;atas&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1426"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1427"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1428"&gt;melingkarkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1429"&gt;kakinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1430"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1431"&gt;kakiku&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1432"&gt;sehingga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1433"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1434"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1435"&gt;leluasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1436"&gt;bergerak&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1437"&gt;Rupanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1438"&gt;ini&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1439"&gt;diinginkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1440"&gt;oleh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1441"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1442"&gt;Tri&lt;/span&gt;, agar &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1443"&gt;aku&lt;/span&gt; diam &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1444"&gt;saja&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1445"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1446"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1447"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1448"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1449"&gt;menggerakkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1450"&gt;pinggulnya&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1451"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1452"&gt;kurasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1453"&gt;daging&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1454"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1455"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1456"&gt;memeknya&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1457"&gt;melakukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1458"&gt;gerakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1459"&gt;menyedot&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1460"&gt;memijit&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1461"&gt;memutar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1462"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1463"&gt;entah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1464"&gt;gerakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1465"&gt;apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1466"&gt;namanya&lt;/span&gt;. Yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1467"&gt;pasti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1468"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1469"&gt;merasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1470"&gt;jepitan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1471"&gt;Memek&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1472"&gt;sangat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1473"&gt;kuat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1474"&gt;namun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1475"&gt;enak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1476"&gt;sekali&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1477"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1478"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1479"&gt;dapat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1480"&gt;menggerakkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1481"&gt;penisku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1482"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1483"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1484"&gt;memeknya&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1485"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1486"&gt;merasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1487"&gt;sperti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1488"&gt;perahu&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1489"&gt;berada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1490"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1491"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1492"&gt;lautan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1493"&gt;bergelora&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1494"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1495"&gt;ada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1496"&gt;badai&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1497"&gt;dahsyat&lt;/span&gt;. Dan &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1498"&gt;semakin&lt;/span&gt; lama &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1499"&gt;gelombang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1500"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1501"&gt;semakin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1502"&gt;kuat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1503"&gt;menggoncang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1504"&gt;perahu&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1505"&gt;Nafas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1506"&gt;kami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1507"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1508"&gt;memburu&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1509"&gt;keringat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1510"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1511"&gt;mengucur&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1512"&gt;membasahi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1513"&gt;tubuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1514"&gt;kami&lt;/span&gt;. Dan &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1515"&gt;kurasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1516"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1517"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1518"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1519"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1520"&gt;berdenyut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1521"&gt;keras&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1522"&gt;lagi&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1523"&gt;bersamaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1524"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1525"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1526"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1527"&gt;merasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1528"&gt;desakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1529"&gt;lahar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1530"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1531"&gt;diriku&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1532"&gt;menuntut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1533"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1534"&gt;keluar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1535"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1536"&gt;tubuhku&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1537"&gt;Putaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1538"&gt;pinggul&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1539"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1540"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1541"&gt;semakin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1542"&gt;menggila&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1543"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1544"&gt;akupun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1545"&gt;membantu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1546"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1547"&gt;bergoyang&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1548"&gt;Oogghh&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1549"&gt;Yaanngg&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1550"&gt;Mbaakk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1551"&gt;nnggaakk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1552"&gt;kkuatt&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1553"&gt;laaggi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1554"&gt;Yaanngg&lt;/span&gt;.." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1555"&gt;erang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1556"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1557"&gt;Tri&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1558"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1559"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1560"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1561"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1562"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1563"&gt;menahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1564"&gt;lagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1565"&gt;desakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1566"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1567"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1568"&gt;itu&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1569"&gt;Iyaa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1570"&gt;mbaakk&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1571"&gt;Aakkuu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1572"&gt;juggaa&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1573"&gt;Aarrgghh&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1574"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1575"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1576"&gt;dapat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1577"&gt;meneruskan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1578"&gt;kata&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1579"&gt;kataku&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1580"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1581"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1582"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1583"&gt;muncratlah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1584"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1585"&gt;cairan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1586"&gt;kenikmatanku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1587"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1588"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1589"&gt;memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1590"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1591"&gt;Tri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1592"&gt;Bersamaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1593"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1594"&gt;itu&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1595"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1596"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1597"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1598"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1599"&gt;mengejang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1600"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1601"&gt;memelukku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1602"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1603"&gt;kuatnya&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1604"&gt;Sshh&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1605"&gt;Oouugghh&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1606"&gt;Enaak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1607"&gt;baannggett&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1608"&gt;Yaangg&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1609"&gt;Kami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1610"&gt;merasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1611"&gt;nikmat&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1612"&gt;tiada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1613"&gt;duanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1614"&gt;saat&lt;/span&gt; air &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1615"&gt;mani&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1616"&gt;kami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1617"&gt;bercampur&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1618"&gt;menjadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1619"&gt;satu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1620"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1621"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1622"&gt;memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1623"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1624"&gt;Tri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1625"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1626"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1627"&gt;mencium&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1628"&gt;bibirku&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1629"&gt;akupun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1630"&gt;membalasnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1631"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1632"&gt;penuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1633"&gt;gairah&lt;/span&gt;. Dan.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1634"&gt;Kamipun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1635"&gt;terkulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1636"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1637"&gt;berdaya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1638"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1639"&gt;terhempas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1640"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1641"&gt;atas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1642"&gt;tubuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1643"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1644"&gt;Tri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1645"&gt;Nafas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1646"&gt;kami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1647"&gt;tinggal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1648"&gt;satu&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1649"&gt;satu&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1650"&gt;Seprai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1651"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1652"&gt;kasur&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1653"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1654"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1655"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1656"&gt;basah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1657"&gt;sama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1658"&gt;sekali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1659"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1660"&gt;keringat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1661"&gt;dan&lt;/span&gt; air &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1662"&gt;mani&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1663"&gt;kami&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1664"&gt;meluap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1665"&gt;keluar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1666"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1667"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1668"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1669"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1670"&gt;saking&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1671"&gt;banyaknya&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1672"&gt;Yayaanngg&lt;/span&gt;.." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1673"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1674"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1675"&gt;memanggilku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1676"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1677"&gt;mesranya&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1678"&gt;Iya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1679"&gt;mbaakk&lt;/span&gt;." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1680"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1681"&gt;menjawab&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1682"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1683"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1684"&gt;kalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1685"&gt;mesranya&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1686"&gt;Kamu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1687"&gt;hebat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1688"&gt;deh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1689"&gt;Yaang&lt;/span&gt;." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1690"&gt;kata&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1691"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1692"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1693"&gt;sambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1694"&gt;mengecup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1695"&gt;bibirku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1696"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1697"&gt;lembut&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1698"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1699"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1700"&gt;hebat&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1701"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1702"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1703"&gt;enak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1704"&gt;banget&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1705"&gt;deh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1706"&gt;Mbak&lt;/span&gt;." &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1707"&gt;kataku&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1708"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1709"&gt;Tri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1710"&gt;tersenyum&lt;/span&gt;, "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1711"&gt;Yayang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1712"&gt;suka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1713"&gt;sama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1714"&gt;memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1715"&gt;Mbak&lt;/span&gt;?" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1716"&gt;tanyanya&lt;/span&gt;."&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1717"&gt;Suka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1718"&gt;banget&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1719"&gt;Mbak&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1720"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1721"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1722"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1723"&gt;nyedot&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1724"&gt;gitu&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1725"&gt;Nanti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1726"&gt;boleh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1727"&gt;lagi&lt;/span&gt; ya &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1728"&gt;Mbak&lt;/span&gt;?" &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1729"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1730"&gt;merayunya&lt;/span&gt;. "&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1731"&gt;Pasti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1732"&gt;boleh&lt;/span&gt; Yang. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1733"&gt;Memek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1734"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1735"&gt;emang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1736"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1737"&gt;Yayang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1738"&gt;kok&lt;/span&gt;." Kata &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1739"&gt;Mbak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1740"&gt;Tri&lt;/span&gt;.Dan &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1741"&gt;malam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1742"&gt;itu&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1743"&gt;kami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1744"&gt;melakukannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1745"&gt;sebanyak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1746"&gt;tiga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1747"&gt;kali&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1748"&gt;sampai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1749"&gt;kudengar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1750"&gt;adzan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1751"&gt;subuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1752"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1753"&gt;mesjid&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1754"&gt;terdekat&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1755"&gt;Lalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1756"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1757"&gt;keluar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1758"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1759"&gt;rumah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1760"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1761"&gt;setelah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1762"&gt;melihat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1763"&gt;bahwa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1764"&gt;situasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1765"&gt;aman&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1766"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1767"&gt;pulang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1768"&gt;ke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1769"&gt;rumahku&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-1653416955586287586?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/1653416955586287586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=1653416955586287586' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/1653416955586287586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/1653416955586287586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/10/tri-pembantu-binal.html' title='Tri, Pembantu Binal'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-7296701349248152847</id><published>2010-10-03T23:36:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T03:56:34.165-07:00</updated><title type='text'>Rini Si Ayam Kampus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TLrWR36aEwI/AAAAAAAAAEs/mXbqDDvJEXM/s1600/20070912_5a9d01308be3bc500e5aCEyBXgqVAvGb.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TLrWR36aEwI/AAAAAAAAAEs/mXbqDDvJEXM/s320/20070912_5a9d01308be3bc500e5aCEyBXgqVAvGb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5528967095105753858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt;&lt;/style&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"&gt;Malam itu seusai rapat organisasi, aku segera menstart motorku untuk pulang. Rasanya pengin sekali segera sampai di rumah, makan, lalu tidur. Tetapi baru saja sampai di gerbang depan kampus seseorang menyapaku, dan ketika aku toleh arah suara itu ternyata Rini, anak fakultas ekonomi. Ngapain anak ini sendirian di gerbang? “Belum pulang, Rin?”“Belum Den, habis nungguin bis lewat, lama amat.” Jawabnya sambil berkedip-kedip genit.“Bis lewat ditungguin, gue antar deh?”“Bener situ mau nganterin?”“Yah, pokoknya nggak gratis. Situ tau sendiri deh.” Ujarku menggoda.“Ah, bisa aja.”Rini mencubit kecil pinggangku lalu segera naik ke boncengan. Tangannya melingkat erat di pinggangku, lalu melajulah motor di ramainya jalanan. Lama-kelamaan si Rini malah menempelkan dadanya di punggungku. Tau nggak, rasanya benar-benar empuk dan hangat. Wuih, terasa bener kalau dia nggak pake beha. Sebagai laki-laki normal, wajar dong kalo batang penisku tiba-tiba menegang.“Den, gimana kalo kita mampir ke taman kota? Aku dengar ada dangdutan di sana.” Bisik Rini dekat di telinga kiriku.“Seleramu dangdut juga ya?”Rini kembali mencubit pinggangku, tapi kemudian mengelus-elus dadaku. Tengkukku mulai merinding. Ada maunya nih anak, pikirku waktu itu. Mungkin aku sedang dihadapkan salah satu ayam kampus, nih. OK, siapa takut!Aku segera membelokkan sepeda motor ke taman kota. Lalu mencari tempat yang agak remang tapi cukup strategis untuk menikmati isi panggung yang terletak di tengah taman kota itu. Panggung yang kira-kira berukuran 6×6 meter itu tampak meriah dikelilingi ratusan pengunjung. Irama dangdut menggema memekakkan telinga.“Den, sini dong? Sini, duduk sama aku.”Aku duduk di belakang Rini yang masih duduk di boncengan motorku. Gadis itu nampaknya asyik benar mengikuti irama dangdut. Sedang aku lebih tertarik memelototi tubuh penyanyinya dibanding suaranya yang menurutku biasa saja.Beberapa orang penyayi bergoyang hot membangkitkan gelora birahi para pria yang memandangnya, termasuk aku. Pandanganku beralih kepada Rini. Sayang aku hanya bisa memandang ubun-ubunnya saja. Aroma wangi menebar dari rambutnya yang bisa dibilang bagus, aroma yang eksotik. Kalau saja ada kesempatan, desahku.“Den, kok diam saja? Belum pernah lihat orang goyang ya?”“Bukannya gitu, cuman gila aja mandang tuh cewek. Berani bener joget kayak gitu,”“Ah, segitu saja. Coba kemarikan tanganmu!”Aku mengulurkan tangan kananku. Astaga, gadis itu memasukkan tanganku di balik bajunya sehinga tanganku benar-benar bisa merasakan kegemukan dadanya. Keringat dinginku tiba-tiba merembes, dadaku bergemuruh.“Rin, apa-apaan kamu ini?” Ujarku lirih tanpa menarik kembali tanganku.“Kamu nggak suka ya?” Tanya Rini kalem.“Engh.. Bukannya &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;begitu..anu” Jawabku tergagap.“Aku tau kamu suka. Aku juga suka Den, jadi nggak ada masalah kan?” Kata Rini menoleh ke padaku. “I..iya sih.”Yah, begitulah. Akhirnya aku punya kesempatan. Tanganku membelai-belai dada Rini dengan bebasnya. Mempermainkan putingnya dengan gemas, kupelintir kesana kemari. Gadis itu bukannya kesakitan, tapi malah mendesah-desah kegirangan. Aku sendiri sudah nggak tahu berapa kali menelan ludah. Rasanya ingin memelintir puting itu dengan mulutku. Rupanya tangan kiriku mulai iri, lalu segera menyusul tangan kananku menerobos masuk di balik baju Rini. Meremas-remas kedua “Den, Deni.. tangan-tanganmu benar-benar nakal. Hoh.. aduh.. geli Den,” Desah Rini menjambak rambutku yang cukup gondrong.“Rin, aku suka sekali.. bagaimana kalau kita..”“Uhg.. heeh, iya.. aku mau.”Aku segera menghentikan kegiatanku mengobok-obok isi baju Rini. Lalu kami segera menuju sebuah hotel yang tak jauh dari taman kota. Tiada kami peduli dengan beberapa pasang mata yang memandangi kami dengan sejuta pikiran. Masa bodoh, yang penting aku segera bisa mengencani Rini.Segera aku bayar uang muka sewa kamar, lalu kami melenggang ke kamar 51. Rini yang sedari tadi memeluk tubuhku kini tergeletak di atas springbed. Matanya yang sayu bagai meminta, tangannya melambai-lambai. Aku langsung saja membuka kancing bajuku hingga bertelanjang dada.“Den.. sudah lama aku inginkan kamu,”“Oya? Kenapa tak bilang dari dulu?” Ujarku sambil melepas kancing baju Rini.Benarlah kini tampak, dua bukit kenyal menempel di dadanya. Tangan Rini membelai-belai perutku. Rasanya geli dan uh.. lagi-lagi aku merinding. Kutekan-tekan kedua putingnya, bibir gadis itu mengulum basah. Matanya yang semakin memejam membuat birahiku semakin terkumpul menyesakkan dada.“Den.. ayo.. kamu tak ingin mengulumnya? Ayo masukkan ke mulutmu.”“Heh.. iya, pasti!”Aku segera mengangkangi Rini lalu berjongkok diatasnya, lalu menunduk mendekati dadanya. Kemudian segera memasukkan bukit kenyal itu ke dalam mulutku. Aku hisap putingnya perlahan, tapi semakin aku hisap rasanya aku pingin lebih sehingga semakin lama aku menghisapnya kuat-kuat. Seperti dalam haus yang sangat. Ingin rasanya aku mengeluarkan isi payudara Rini, aku tekan dan remas-remas bukit gemuk itu penuh nafsu. Rini merintih-rintih kesakitan.“Den.. hati-hati dong, sakit tahu! Perlahan.. perlahan saja Ok? Heh.. Yah, gitu.. eeh hooh..”Busyet, baru menghisap payudara kiri Rini saja spermaku sudah muncrat. Batang penisku terasa berdenyut-denyut sedikit panas. Rini bergelinjangan memegangi jeans yang aku pakai, seakan ingin aku segera melorotnya. Tapi aku belum puas mengemut payudara Rini. Aku pingin menggilir payudara kanannya. Tapi ketika pandanganku mengarah pada bukit kanan Rini, wuih! Bengkak sebesar buah semangka. Putingnya nampak merah menegang, aku masih ingin memandanginya.“Ayo Den, yang adil dong..” Katanya sambil menyuguhkan payudara kanannya dengan kedua tangannya.Aku memegangi payudara kanan Rini, mengelusnya perlahan membuat Rini tersenyum-senyum geli. Ia mendesah-desah ketika aku pelintir putingnya ke kanan dan ke kiri. Lalu segera mencomot putingnya yang tersipu dengan mulutku. Puting itu tersendal-sendal oleh lidahku.“Deni.. dahsyat banget, uaohh.. enak.. ayo Den.. teruss..”Rini menceracau tak karuan, tangannya menjambak-jambak rambut gondrongku. Kakinya bergelinjang-gelinjang kesana kemari. Binal juga gadis ini, pikirku. Aku berpindah menyamping, menghindari sepakan kaki Rini. Jangan sampai penisku terkena sepakan kakinya, bisa kalah aku nanti. Justru dengan menyamping itulah Rini semakin bebas. Bebas membuka resleting jeans yang dipakainya. Tapi dasar binal! Gerakannya yang tak karuan membuat kami berguling jatuh di lantai kam“Gimana sih, Rin? Jangan banyak gerak dong!” Ujarku sedikit kesal.“Habis kamu ganas banget sih..” Hiburnya dengan tatapan menggoda.Untuk mengobati kekesalan hatiku Rini segera membuka semua pakaiannya tanpa kecuali. Jelaslah sudah tubuh mungil Rini yang mempesona. Air liurku segera terbit, inginnya mengganyang tubuh mungil itu.Tubuhnya yang meliuk-liuk semampai, dua payudaranya yang nampak ranum bengkak sebesar buah semangka, perutnya yang langsing bagai berstagen tiap hari, ahh.. Lalu, bagian kewanitaannya! Uhh, pussy itu cukup besar dengan bulu-bulu basah yang menghiasinya. Pahanya yang sekal membuatku ingin mengelusnya, dan betisnya yang mulus nan langsat.. ehmm.. Maka dengan tergesa-gesa aku melucuti pakaianku, tanpa terkecuali!“Wah! Pistolmu besar Den!” Kata Rini yang segera berjongkok dan meremas gemas batang penisku yang sudah sangat tegang.“Auh.. jangan begitu, geli kan?” Jawabku menepis tangannya.“Jangan malu-malu, pistol sebesar ini, pasti ampuh.”Rini terus saja membelai-belai batang penisku yang ukurannya bisa dibilang mantap. Semakin lama batang penisku semakin menegang, rasanya mau meledak saja. Tubuhku bagai tersiram air hangat yang kemudian mengalir di setiap sendi darahku.“Engh, auh..” Aku berdehem-dehem asyik saat Rini asyik memainkan jemari tangannya pada batang penisku.Telunjuk dan ibu jarinya membentuk lingkaran yang kemudian digerak-gerakkan keluar masuk batang penisku. Layaknya penisku bermain hula hop. Spermaku mencoba meyeruak keluar, tapi aku tahan dengan sekuat tenaga. Aku remas-remas rambut panjang Rini.Tapi kemudian Rini yang semakin gemas segera memasukkan batang keperkasaanku itu ke dalam liang mulutnya. Lalu dia mengemutnya bagai mengemut es lilin.“Ehg.. ehmm.. ”Terdengar suara desisan Rini bagai sangat menikmati batang penisku, begitupun aku. Bagaimana tidak, bibir tebal Rini segera melumat kulit penisku, lalu lidah Rini menjilat-jilat ujungnya. Nafasku serasa putus, keringatku merembes dari segala arah. Sedang Rini bagai kesetanan, terus saja menciptakan sejuta keindahan yang siap diledakkan.Crot.. crot.. Tak ada yang bisa menahannya lagi. Spermaku keluar menyembur ke liang mulut Rini. Gadis itu nampak sedikit tersedak, beberapa sperma muncrat keluar mulutnya dan kemudian membasahi pangkal penisku.“Ehmm.. ehmm.. keluarkan teruss.. ehmm,” Ujar Rini dengan mulut yang penuh dengan cairan spermaku.Srup, srup, ia meminumnya dengan semangat sambil tangannya menggelayut di pahaku. Ujung penisku dikenyot-kenyot membuat geloraku makin berdenyut-denyut.Karena tak tahan maka tak ayal lagi aku segera menubruknya. Menindih tubuh mungilnya lalu melahap bibir nakalnya. Lidah kami bergelut di dalam, menggigit-gigit gemas dan penuh nafsu. Tak peduli Rini merintih-rintih. Entah karena aku terlalu rakus mengganyang bibirnya, atau berat menahan tindihanku. Yang pasti rintihan Rini terdengar sangat merdu di telingaku.Maka setelah puas mencumbui bibirnya aku segera beralih kepada pussy-nya. Benda keramat itu entah sudah berapa kali kebobolan, aku tak peduli. Kali ini ganti kau yang kukerjain, pikirku.Langsung saja aku lebarkan paha Rini sehingga jelas pussy berumput yang sangat basah itu. Jemariku memainkan daging gemuk itu. menyusuri perbukitan yang berlorong. Lalu memelintir klitorisnya ke kanan dan ke kiri. Surr.. menyembur lagi cairan kewanitaan Rini. Bening menetes diantara jemariku.“Den.. tunggu apa.. ayo dong..”“Aku datang sayang.”Wajahku segera mendekat ke pussy Rini. Lalu tanganku sedikit membuka si pussy sehingga aku bisa menikmati goa kenikmatan itudengan mataku walau hanya sebentar. Srup, srup, aku jilati pussy basah itu. Lidahku sengaja mencari-cari lubang yang mungkin bisa kutembus. Lidahku semakin ke dalam. Mempermainkan klitorisnya yang kenyal. Tanganku pun menyempurnakan segalanya. Bermain-main di payudara Rini yang semakin tegang, mengeras. Sayup-sayup terdengar suara erangan.“Ayouhh Den, masukk, aku tak tahan lagi..”Suara gadis itu terdengar lemah, mungkin sudah keletihan. Aku pun sudah cukup puas beranal ria. So, tunggu apa lagi?? Aku meminta Rini untuk menungging. Gadis itu menurut dengan wajah letih namun penuh semangat. Kemudian aku segera memasukkan penisku ke lubang kawinnya. Mudah. Sekali hentakan sudah masuk. Lalu kucabut dan kumasukkan berkali-kali. Lalu kubiarkan terbenam di dalam beberapa menit.“Eghh..” Rini menahan rasa nikmat yang kemudian tercipta.Tubuhnya sedikit mengejang tapi kemudian bergoyang-goyang mengikuti gerakan penisku. Aku segera mengocok penisku dengan kekuatan penuh. Dan kemudian.. kembali spermaku muncrat keluar memenuhi lubang kawin Rini.Beberapa saat kami saling menikmati kenikmatan itu. darahku seakan berhenti mengalir seperti ada hawa panas yang menggantikan aliran darahku. Seluruh persendian terasa tegang, tapi kemudian seperti ada rasa kepuasan yang tak bisa terucapkan.Hingga kemudian aku mencabut kembali batang penisku dari pussy Rini. Gadis itu kembali terlentang di lantai kamar hotel. Sedang aku segera menghempaskan tubuhku di atas kasur. Dinginnya lantai kamar yang menyentuh jemari kakiku tak bisa mengalahkan panasnya suasana kamar itu. Bau keringat kami berbaur.Namun tiba-tiba batang penisku yang sudah mulai mengendur tersentuh kulit halus wanita. Ketika aku mendongakkan wajah ternyata Rini yang telah duduk di depan kakiku sambil mengelus-elus batang penisku.“Den, kamu hebat banget. Aku benar-benar puas.”"Ehng.. kamu juga. Sekarang kamu mau minta apa??”Gadis itu masih diam sambil terus mempermainkan batang penisku. Gawat, bisa-bisa bangun lagi batang penisku. Bisa perang lagi nih, dobel dong tarifnya.Aku minta.. minta lagi deh,” Kata Rini yang kemudian kembali mengenyot batang penisku.“Waduh, bisa-bisa lembur nih!”, pikirku.&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-7296701349248152847?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/7296701349248152847/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=7296701349248152847' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/7296701349248152847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/7296701349248152847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/10/rini-si-ayam-kampus.html' title='Rini Si Ayam Kampus'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_t-tJXQ_e_QM/TLrWR36aEwI/AAAAAAAAAEs/mXbqDDvJEXM/s72-c/20070912_5a9d01308be3bc500e5aCEyBXgqVAvGb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-5166644942772111264</id><published>2010-09-06T20:06:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T03:49:03.026-07:00</updated><title type='text'>MBAK IRA SUSTER CANTIKKU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya sedang dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Saya masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu. Dan dalam urusan asmara, khususnya "bercinta" saya sama sekali belum memiliki pengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini. Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak tahu siapa namanya. Ira adalah seorang suster rumah sakit dimana saya dirawat.  Karena terjangkit gejala pengakit hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari. Selama itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku terlalu sibuk dengan usahapertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah sakit, saya lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan teman-temanku datang membesukku saja. Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan. Saya mulai dapat duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri.  Padahal sebelumnya, jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya sangat berat dan lemah sekali.  Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap. Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Namun, saya benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku untuk mandi sampai demamku benar-benar turun. Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang kuanggap paling cantik dan paling baik dimataku itu masuk ke kamarku. "Ada apa Dik?" tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali. Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan menggiurkan. "Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya sudah boleh mandi hari ini mbak?", tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar. Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini.  Dia masih muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang khas itupun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.  "Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah boleh dimandiin apa belum", jelasnya ramah. Mendengar kalimatnya untuk "memandikan", saya merasa darahku seolah berdesir keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu. "Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih, pasti mikir yang ngga-ngga ya. hi hi hi". Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus kuakui sempat mengeras sekali tadi.  Saya cuma tersenyum menahan malu dan menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut. "Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja.  Ngga mikir macem-macem kok", elakku sambil melihat senyumannya yang semakin manis itu.  "Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket mbak bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak kerja disini. Tapi mbak bener-bener ngga berani kalau pak dokter belum mengijinkannya", lanjut Mbak Ira lagi seolah memancing gairahku. "Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan ambil keputusa" jawabku serius, saya tidak mau terlihat "nakal" dihadapan suster cantik ini.  Lagi pula saya belum pengalaman dalam soal memikat wanita. Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku.  "Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket", lanjutnya sambil membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak.  Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang. Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah pikirku saat itu. Mbak Ira kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur. Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani  &lt;!-- Begin BidVertiser code --&gt;&lt;br /&gt;&lt;SCRIPT LANGUAGE="JavaScript1.1" SRC="http://bdv.bidvertiser.com/BidVertiser.dbm?pid=346744%26bid=856761" type="text/javascript"&gt;&lt;/SCRIPT&gt;&lt;br /&gt;&lt;noscript&gt;&lt;a href="http://www.bidvertiser.com"&gt;affiliate program&lt;/a&gt;&lt;/noscript&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End BidVertiser code --&gt; sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat.  Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini. Fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas pundakku seperti sedang memijat.  Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung kontolku karena terangsang. Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan.Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali melihat kontolku yang ereksi. "Iya Mbak..", jawabku sambil berusaha menenangkan diri, sayapun membalikkan tubuhku.  Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu.  Kucoba menekan perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata. Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya benar-benar terangsang sekali, apalagi saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku.  "Ahh, geli dan enak banget", pikirku. "Wah, kok jadi keras ya? he he he", saya kaget mendengar ucapannya ini. "Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?"  Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar terangsang. Kontolku langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin berani, dia sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan jari telunjuknya.  Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku. "Ahh, geli Mbak. Jangan digituin", kataku menahan malu.  "Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini", lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya. aya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan.  Disatu isi saya ingin terus di"kerjain" oleh mbak Ira, satu sisi saya merasa malu dan takut ketahuan orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk. "Dik Iwan sudah punya pacar?", tanya mbak Ira kepadaku. "Belum Mbak", jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan berbicara. "Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?", tanyanya lagi. "Belum mbak" jawabku lagi. "hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih", lanjutnya centil. Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya "main" apaan yang saya pikirkan barusan. Pasti dia berpikir saya benar-benar "nakal" pikirku saat itu. "Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus, Dik Iwan mau main-main sama Mbak ya? Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong. Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya. Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku.Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya. Ahh, geli Mbak"m rintihku keenakan. Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani membalas ciumannya. Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu. Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri. "Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bisa gawat", katanya. Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar. Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu. Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai saya telangjang bulat. Kemudian dia sendiripun melepas topi susternya, digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat dibalik Bra-nya yang berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan wanita, namun mbak Ira benar-benar pintar membimbingku. Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam berciuman. Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku, kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali menggigitnya. "Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih", desahnya seolah geram sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya. Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya. Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas kulumanku di putingnya, kini kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Ira memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap selangkanganku, dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya. "Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh... ahh..", desahku menahan agar tidak menyemburkan maniku cepat-cepat. Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya sendiri, digosok-gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri. Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali. Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas posisi kakiku. Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah, sementara saya sibuk menggelitik memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki. "Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget", desahnya keras. Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir didengar orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga. "Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget", pintaku karena memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti adegan film BF yang biasa kutonton. "Ih.. kamu nakal yah", jawabnya sambil tersenyum. Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin oleh cairan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum pernah kurasakan sebelumnya. Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar, kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya, disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar. "Ahh.. ahh..", saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu. Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali disekeliling kepala kontolku didalam mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali. Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah tahu bahwa saya akan segera keluar", Mbak Ira menghisap semakin kencang, disedot dan terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat enak sekali. "AHH.. AHH.. Ahh.. ahh", teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Ira. Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih, sampai`kontolku melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian eragam dengan kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira. Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas "panas" yang dilakukan mbak Ira. Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda. Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Ira tampak semakin terangsang juga. Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam memeknya, dan digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan satunya lagi memainkan puting susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu. "Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..", canda mbak Ira sambil mendekati diriku. Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat kontolku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya. "Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe", agak kecewa saya mendengar tolakannya ini. Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit terakhir ini. Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih asyik "bermain" di dalam sana. Dihisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat mengalir dari keningnya, sementara mulutnya terlihat sibuk menghisap kontolku sampai pipinya terlihat kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Ira sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia juga sambil memainkan memeknya sendiri. Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya. Dia merintih, "Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar", teriaknya sambil mempercepat gosokan tangannya. "Sini mbak, saya mau menjilatnya", jawabku spontan, karena teringat adegan film BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme dengan bernafsu. Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku. "Nih.. cepet hisap Wan, hisap..", desahnya seolah memelas. Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontolku. Aku benar-benar menikmati pengalaman indah ini. Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memeknya.Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet diantara bulu-bulu jembutnya. Kuhisap dan kusedot sambil memainkan lidahku di seputar kelentitnya. "Ahh.. ahh..", desah mbak Ira disaat terakhir berbarengan dengan cairan hangat yang mengalir memenuhi hidung dan mulutku, hampir muntah saya dibuatnya saking banyaknya cairan yang keluar dan tercium bau amis itu.Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian sayapun orgasme untuk kedua kalinya. Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti membawaku terbang ke langit ke tujuh. Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk diatas pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku yang sudah lemas. Kami sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling merahasiakan kejadian ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja. Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu saya sempat menjalin hubungan gelap dengan Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama SMA saya dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan sekedar esek-esek. Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih kerja di Rumah sakit itu. Saya jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubunganku dengannya tidak lain hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering merasa "horny" menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Mbak Ira. Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi hidupku, paling tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar fantastis menurutku...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-5166644942772111264?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/5166644942772111264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=5166644942772111264' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/5166644942772111264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/5166644942772111264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/09/mbak-ira-suster-cantikku.html' title='MBAK IRA SUSTER CANTIKKU'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-1454223316048915097</id><published>2010-09-02T10:46:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T00:20:20.203-07:00</updated><title type='text'>Wanita Hamil Penggoda</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTera%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTera%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTera%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-language:EN-US;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hallo, saya adalah pendatang baru untuk masalah kiriman cerita situs 17tahun. Saya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di selatan Jakarta. Salam kenal untuk warga situs 17tahun. Awal cerita saya dimulai saat saya menghadiri sebuah acara pemberian penghargaan, di sana saya datang bersama teman saya, sebut saja Hamdan. Saya diperkenalkan oleh teman saya kepada salah satu tamu yang hadir di acara tersebut, dan ternyata setelah dipertegas. Seminggu setelah perkenalan tersebut, saya ditawari untuk menggarap proyek perayaan Hari Ulang Tahun oleh teman yang mengenalkan saya dengan DB, memang bidang saya adalah entertaiment. Teman saya yang mengenalkan saya namanya Shebi. Singkat kata, saya terima proyek yang diberikan oleh Shebi. Dan ternyata yang punya kerjaan itu adalah DB, untuk perayaan ulang tahunnya yang ke 34.Saya pun dipertemukan oleh Shebi dengan DB di rumah DB yang terlihat cukup megah. Saya dan Shebi menunggu DB yang sedang mandi di ruang keluarga. Di sana saya ngobrol cukup banyak dengan Shebi (yang perlu pembaca ketahui, Shebi sedang hamil 7 bulan). Obrolan berlangsung santai dan sampai menyerempet ke masalah kehidupan seks Shebi, ternyata Shebi yang memiliki tinggi 170 cm, ukuran BH 38, dan m size ini memiliki libido seks yang cukup tinggi. "Dra.. coba kamu pegang perutku, sepertinya jabang bayiku ini ingin berkenalan denganmu deh..!" kata Shebi. Ah kamu bisa saja Sheb..!" kata saya yang belum tahu arti sinyal dari Shebi itu. "Kalau nggak percaya, coba saja kamu pegang perutku ini..!" ujar Shebi yang kali ini memaksa tangan saya untuk memegang perutnya yang sudah terlihat buncit. Dan benar, sepertinya ada yang bergerak-gerak dari dalam perutnya. "Dra.. kamu pernah ngerasain begituan dengan orang hamil..?" ujar Shebi yang membuat saya kaget. "Mmm.. mm, belum tuh Sheb..""Memangnya enak apa rasanya..?" tanya saya keheranan."Wah endang loh rasanya.." "Itu kuketahui dari suami dan brondong-brondongku.." ujar Shebi yang membuat saya tersentak tambah kaget. "Mmm.. begitu.." kata saya agak sedikit sok tenang, meskipun tegangan tubuh sudah agak naik. "Kok jawabannya cuma segitu, apa kamu nggak mau nyobain..?" ucap Shebi yang sedikit kesal karena tanggapan saya hanya sebatas itu, sedang posisi kami sudah semakin dekat. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Shebi menarik sedikit ke atas long dress yang dikenakannya, dan terlihat paha mulus yang sedikit memperlihatkan timbunan lemak di sisi-sisinya dan sedikit CD hitam. Saya pun terdiam sejenak, lalu saya pegang kepala dan menatapnya serta meyakinkannya. "Sheb.., bukannya aku tidak ingin mencoba tawaran yang spektakuler ini, tetapi kamu harus lihat kita ini dimana..? Tetapi bila kamu tawari aku di posisi yang tepat, tentulah aku tak akan menolak..!" kata saya mencoba menenangkan suasana yang semakin panas itu. Saya sadar bahwa kami datang ke tempatnya DB dalam rangka suatu kerjaan, dan aku termasuk orang yang menjunjung tinggi profesionalisme. "Aku tau apa yang kamu khawatirkan Dra.." balas Shebi sambil menutup bibir saya dengan jari telunjuknya."Kau harus tau bahwa DB itu penganut seks bebas, dan tentu doi tak akan marah kalau kita bercinta di sini, dan lagi pula di sini tidak ada orang lain selain DB.." kata Shebi mencoba meyakinkan saya sambil perlahan mengangkat kaos yang saya pakai ke atas, dan jarinya bermain di atas puting saya sambil memainkan lidahnya sendiri membasahi bibirnya yang sudah basah. Mendengar perkataannya yang meyakinkan dan juga ditambah dengan perlakuannya yang mencoba merangsang birahi saya, saya semakin yakin akan situasi yang ada. Saya pun mulai berani untuk meraba dada Shebi yang besar tanpa membuka pakaian yang melekat di tubuhnya. Shebi pun bertambah liar dengan menyusupkan tangannya mencari batang kemaluan saya yang sudah menegang sejak tadi. Sambil memilin putingnya tanpa membuka pakaiannya, tangan kiri saya pun bergerak Sampai di tempat yang saya tuju, tangan kiri saya pun meraba dari luar CD Shebi, dan terasa ada yang basah dan lengket di sana. Lalu bibir kami pun saling mendekat dan terjadi perciuman yang cukup lama. Kami pun terlihat sudah semakin berkeringat. Kemudian tangan yang berada di daerah sensitif Shebi pun sepertinya mulai aktif melorotkan CD hitam Shebi, dan saya merasakan sentuhan bulu-bulu lebat yang sepertinya tertata rapih. Shebi pun telah sukses mengocok penisku"Achh.., achh.. kamu pintar Dra..! Truuss.. Draa..!" Shebi pun terlihat sudah tidak dapat mengontrol ucapan dan intensitas suaranya. Shebi meluruskan tubuhnya di atas sofa sambil mengocok senjata kemaluan saya. Mendapat perlawanan yang demikian nafsunya, saya pun merubah posisi menjadi 69. Saya di bawah dan Shebi di atas. Ternyata benar kata orang, kemaluan orang yang sedang hamil itu gurih rasanya. 15 menit berlalu dalam posisi 69. "Dra.. please..! Masukin sekarang Say..!" pinta Shebi yang sudah tidak kuasa lagi menahan gejolak nafsunya. Mendengar itu saya tidak langsung menuruti, tetapi saya tetap saja mengigit, menjilat, meludahi liang kewanitaannya, terutama klitoris-nya yang sudah mengkilap karena basah. "Dra.., kamu jahat..!" teriak Shebi diikuti dengan melelehnya air kemaluan Shebi yang cukup banyak dari liang senggama Shebi, yang menandakan Shebi sudah mencapai orgasmenya. Saya jilat habis cairan kental yang keluar itu sampai tidak tersisa. Senjata kejantanan saya yang terhenti bergerak itu dikulum oleh Shebi. Karena orgasmenya, Shebi mengulum kemaluan saya hingga menjadi merah. Lalu dengan bantuan tangan, saya masukkan kembali senjata saya itu ke dalam mulutnya. "Aawww..!" saya berteriak karena batang kemaluan saya tergigit Shebi, "Kamu nakal ya..?" kata saya sambil menarik batang kejantanan saya dari mulutnya, lalu mengarahkannya ke vagina Shebi. Saya tidak langsung memasukkannya, tetapi memainkannya terlebih dulu di bibir vaginanya sampai Shebi sendiri yang memajukan pantatnya agar batang kemaluan saya dapat langsung masuk, tetapi tetap saja saya tahan agar tidak masuk."Dra.., kamu jahat..!" ujar Shebi kesal. "Habis kamu duluan yang mulai..!" jawab saya. Tanpa kami sadari, ternyata pertempuran kami dari tadi sudah ada yang mengawasi, yaitu DB yang entah dari kapan dia sudah ada di dekat kami dengan mengunakan daster tanpa BH. Pemandangan itu kami ketahui karena daster DB sudah ada di bawah kakinya. Karena saya merasa sudah tidak tahan, akhirnya saya mulai memasukkan penis saya perlahan tapi pasti ke liang senggama Shebi. Memang awalnya sulit, tetapi karena Shebi minta untuk terus dipaksa, ya akhirnya masuk semua. "Achh.. achh..!" teriak Shebi dengan wajah memerah entah karena nafsu atau karena sakit. Ternyata liang kemaluan orang yang sedang hamil itu lebih hangat dibandingkan kemaluan wanita normal. Karena sempit dan hangatnya liang senggama Shebi, membuat saya tidak dapat bertahan lama, meskipun goyangan Shebi tidak terlalu "hot", tetapi tetap saja rasanya lebih asyik dari liang kemaluan wanita yang tidak hamil. "Sheb.. aku mau keluar..!" kata saya ditengah-tengah nikmatnya persetubuhan kami. "Aku.. keluarkan di mana Say..?" tanya saya menambahkan. "Terserah kau saja Dra..!" jawab Shebi yang ternyata juga sudah orgasme kembali. Akhirnya karena lebih enak, saya keluarkan cairan panas itu di dalam vaginanya, "Cret.. cret.. cret..!" mungkin sampai tujuh kali air mani saya tersembur di dalam liang senggama Shebi. "Ohh.., ternyata kalian di sini sudah nyolong start ya..?" ujar DB yang membuka pembicaraan. "Abis kita udah nggak tahan Mba..!" jawab Shebi. "Trus gimana proyek ultah-ku..?" tanya DB sambil memakai dasternya kembali yang tadi dilepaskan ke bawah, karena DB dari tadi menyaksikan pergulatan kami sambil bermasturbasi. "Kalau masalah itu tenang, di sini sudah ada ahlinya, tinggal kucuran dananya saja, konsepnya sudah Indra susun kok..!" jawab Shebi sambil menahan saya untuk mengeluarkan penis saya dari liang senggamanya. "Ooo.., ok aku percaya.." kata DB, "Tapi biar Indra istirahat dong..! Masa kamu monopoli sendiri itu batang..!" jawab DB sambil mengambil wine yang ada di mini bar, lalu duduk di sana, memperhatikan kami yang akhirnya mengambil pakaian kami masing-masing. "Dra.., kamu besok bisa ambil dananya di sini.." kata DB. "Lo nggak mau nyobain punyanya Indra..?" celetuk Shebi, "Ntar nyesel..?" tambahnya. "Jangan sekarang deh, abis tanggung, sebentar lagi Bapak mau jemput gue.." jawab DB. "Ooo.." jawab Shebi yang sepertinya mengetahui bahwa DB kalau main itu tidak cukup kalau hanya 3 atau 4 ronde saja. "Ya sudah, kami pamit dulu deh kalau gitu, biar besok si Indra saja yang datang ke sini sendiri.." kata Shebi. Saya yang dari tadi diam saja hanya manggut tanda setuju untuk datang lagi esok. "Tapi besok kamu datangnya malam saja ya..!" pinta DB."Ooo.., sekalian kamu cobain ya..?" pancing Shebi sambil tersenyum. "Apa kamu mau ikutan Sheb..?" tanya DB. "Nggak ah, abis main sama lo harus lama, gue takut kandungan gue bermasalah lagi.""Kalau dokter gue bilang nggak apa-apa sich gue ok aja, tapi kalau kebanyakan digenjot nanti bocor lagi..!" kata Shebi sambil tertawa. "Ya udah ngga pa-pa, tapi kamu pasti datang kan Dra..?" tanya DB. "Ya.." jawab saya singkat. "Ya sudah kita cabut ya..?" ujar Shebi ke DB."Ya, ok lah..""Bye, Dra jangan lupa ya atau kontrak kita batal nich..!" sambil mencubit dagu saya.Begitulah kisah saya dengan Shebi, pembaca tunggu saja kisah saya dengan DB, artis ibu kota yang terkenal sampai sekarang masih singgle di edisi selanjutnya. Terima kasih atas perhatian rekan pembaca sekalian.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-1454223316048915097?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/1454223316048915097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=1454223316048915097' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/1454223316048915097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/1454223316048915097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/09/wanita-hamil-penggoda.html' title='Wanita Hamil Penggoda'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-848618587642646371</id><published>2010-09-01T23:09:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T02:58:42.451-07:00</updated><title type='text'>Titipan Khusus</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Namaku Karina, usiaku 17 tahun dan aku adalah anak kedua dari pasangan Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi sekitar 168 cm dan berat 50 kg. Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B. Dalam keluargaku, semua wanitanya rata-rata berbadan seperti aku, sehingga tidak seperti gadis-gadis lain yang mendambakan tubuh yang indah sampai rela berdiet ketat. Di keluarga kami justru makan apapun tetap segini-segini saja. Suatu sore dalam perjalanan pulang sehabis latihan cheers di sekolah, aku disuruh ayah mengantarkan surat-surat penting ke rumah temannya yang biasa dipanggil Om Robert. Kebetulan rumahnya memang melewati rumah kami karena letaknya di kompleks yang sama di perumahan elit selatan Jakarta. Om Robert ini walau usianya sudah di akhir kepala 4, namun wajah dan gayanya masih seperti anak muda. Dari dulu diam-diam aku sedikit naksir padanya. Habis selain ganteng dan rambutnya sedikit beruban, badannya juga tinggi tegap dan hobinya berenang serta tenis. Ayah kenal dengannya sejak semasa kuliah dulu, oleh sebab itu kami lumayan dekat dengan keluarganya. Kedua anaknya sedang kuliah di Amerika, &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;sedang istrinya aktif di kegiatan sosial dan sering pergi ke pesta-pesta. Ibu sering diajak oleh si Tante Mela, istri Om Robert ini, namun ibu selalu menolak karena dia lebih senang di rumah. Dengan diantar supir, aku sampai juga di rumahnya Om Robert yang dari luar terlihat sederhana namun di dalam ada kolam renang dan kebun yang luas. Sejak kecil aku sudah sering ke sini, namun baru kali ini aku datang sendiri tanpa ayah atau ibuku. Masih dengan seragam cheers-ku yang terdiri dari rok lipit warna biru yang panjangnya belasan centi diatas paha, dan kaos ketat tanpa lengan warna putih, aku memencet bel pintu rumahnya sambil membawa amplop. Ayah memang sedang ada bisnis dengan Om Robert yang pengusaha kayu, maka akhir-akhir ini mereka giat saling mengontak satu sama lain. Karena ayah ada rapat yang tidak dapat ditunda, maka suratnya tidak dapat dia berikan sendiri. Seorang pembantu wanita yang sudah lumayan tua keluar dari dalam dan membukakan pintu untukku. Sementara itu kusuruh supirku menungguku di luar. Ketika memasuki ruang tamu, si pembantu berkata, “Tuan sedang berenang, Non. Tunggu saja di sini biar saya beritahu Tuan kalau Non sudah datang.” “Makasih, Bi.” jawabku sambil duduk di sofa yang empuk. Sudah 10 menit lebih menunggu, si bibi tidak muncul-muncul juga, begitu pula dengan Om Robert. Karena bosan, aku jalan-jalan dan sampai di pintu yang ternyata menghubungkan rumah itu dengan halaman belakang dan kolam renangnya yang lumayan besar. Kubuka pintunya dan di tepi kolam kulihat Om Robert yang sedang berdiri dan mengeringkan tubuh dengan handuk. “Ooh..” pekikku dalam hati demi melihat tubuh atletisnya terutama bulu-bulu dadanya yang lebat, dan tonjolan di antara kedua pahanya. Wajahku agak memerah karena mendadak aku jadi horny, dan payudaraku terasa gatal. Om Robert menoleh dan melihatku berdiri terpaku dengan tatapan tolol, dia pun tertawa dan memanggilku untuk menghampirinya. “Halo Karin, apa kabar kamu..?” sapa Om Robert hangat sambil memberikan sun di pipiku.Aku pun balas sun dia walau kagok, “Oh, baik Om. Om sendiri apa kabar..?” “Om baik-baik aja. Kamu baru pulang dari sekolah yah..?” tanya Om Robert sambil memandangku dari atas sampai ke bawah. Tatapannya berhenti sebentar di dadaku yang membusung terbungkus kaos ketat, sedangkan aku sendiri hanya dapat tersenyum melihat tonjolan di celana renang Om Robert yang ketat itu mengeras. “Iya Om, baru latihan cheers. Tante Mella mana Om..?” ujarku basa-basi. “Tante Mella lagi ke Bali sama teman-temannya. Om ditinggal sendirian nih.” balas Om Robert sambil memasang kimono di tubuhnya. “Ooh..” jawabku dengan nada sedikit kecewa karena tidak dapat melihat tubuh atletis Om Robert dengan leluasa lagi. “Ke dapur yuk..!” “Kamu mau minum apa Rin..?” tanya Om Robert ketika kami sampai di dapur. “Air putih aja Om, biar awet muda.” jawabku asal. Sambil menunggu Om Robert menuangkan air dingin ke gelas, aku pindah duduk ke atas meja di tengah-tengah dapurnya yang luas karena tidak ada bangku di dapurnya.“Duduk di sini boleh yah Om..?” tanyaku sambil menyilangkan kaki kananku dan membiarkan paha putihku makin tinggi terlihat. “Boleh kok Rin.” kata Om Robert sambil mendekatiku dengan membawa gelas berisi air dingin. Namun entah karena pandangannya terpaku pada cara dudukku yang menggoda itu atau memang beneran tidak sengaja, kakinya tersandung ujung keset yang berada di lantai dan Om Robert pun limbung ke depan hingga menumpahkan isi gelas tadi ke baju dan rokku. “Aaah..!” pekikku kaget, sedang kedua tangan Om Robert langsung menggapai pahaku untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. “Aduh.., begimana sih..? Om nggak sengaja Rin. Maaf yah, baju kamu jadi basah semua tuh. Dingin nggak airnya tadi..?” tanya Om Robert sambil buru-buru mengambil lap dan menyeka rok dan kaosku. Aku yang masih terkejut hanya diam mengamati tangan Om Robert yang berada di atas dadaku dan matanya yang nampak berkonsentrasi menyeka kaosku. Putingku tercetak semakin jelas di balik kaosku yang basah dan hembusan napasku yang memburu menerpa wajah Om Robert. “Om.. udah Om..!” kataku lirih. Dia pun menoleh ke atas memandang wajahku dan bukannya menjauh malah meletakkan kain lap tadi di sampingku dan mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku dan tersenyum sambil mengelus rambutku. “Kamu cantik, Karin..” ujarnya lembut. Aku jadi tertunduk malu tapi tangannya mengangkat daguku dan malahan menciumku tepat di bibir. Aku refleks memejamkan mata dan Om Robert kembali menciumku tapi sekarang lidahnya mencoba mendesak masuk ke dalam mulutku. Aku ingin menolak rasanya, tapi dorongan dari dalam tidak dapat berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundak Om Robert, sedang tangannya sendiri meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang makin terangkat hingga terlihat Ciumannya makin buas, dan kini Om Robert turun ke leher dan menciumku di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Robert dan membukanya. Tanganku menelusuri dadanya yang bidang dan bulu-bulunya yang lebat, kemudian mengecupnya lembut. Sementara itu tangan Om Robert juga tidak mau kalah bergerak mengelus celana dalamku dari luar, kemudian ke atas lagi dan meremas payudaraku yang sudah gatal sedari tadi. Aku melenguh agak keras dan Om Robert pun makin giat meremas-remas dadaku yang montok itu. Perlahan dia melepaskan ciumannya dan aku membiarkan dia melepas kaosku dari atas. Kini aku duduk hanya mengenakan bra hitam dan rok cheersku itu. Om Robert memandangku tidak berkedip. Kemudian dia bergerak cepat melumat kembali bibirku dan sambil french kissing, tangannya melepas kaitan bra-ku dari belakang dengan tangannya yang cekatan. Kini dadaku benar-benar telanjang bulat. Aku masih merasa aneh karena baru kali ini aku telanjang dada di depan pria yang bukan pacarku. &lt;script src="http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=131861&amp;onlytitle=1" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;Om Robert mulai meremas kedua payudaraku bergantian dan aku memilih untuk memejamkan mata dan menikmati saja. Tiba-tiba aku merasa putingku yang sudah tegang akibat nafsu itu menjadi basah, dan ternyata Om Robert sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal. Uh.., jago sekali dia melumat, mencium, melumat. Tanpa kusadari, aku pun mengeluarkan erangan yang lumayan keras, dan itu malah semakin membuat Om Robert bernafsu. “Oom.. aah.. aah..!” “Rin, kamu kok seksi banget sih..? Om suka banget sama badan kamu, bagus banget. Apalagi ini..” godanya sambil memelintir putingku yang makin mencuat dan tegang. “Ahh.., Om.. gelii..!” balasku manja. “Sshh.. jangan panggil ‘Om’, sekarang panggil ‘Robert’ aja ya, Rin. Kamu kan udah gede..” ujarnya. “Iya deh, Om.” jawabku nakal dan Om Robert pun sengaja memelintir kedua putingku lebih keras lagi. “Eeeh..! Om.. eh Robert.. geli aah..!” kataku sambil sedikit cemberut namun dia tidak menjawab malahan mencium bibirku mesra. Entah kapan tepatnya, Om Robert berhasil meloloskan rok dan celana dalam hitamku, yang pasti tahu-tahu aku sudah telanjang bulat di atas meja dapur itu dan Om Robert sendiri sudah melepas celana renangnya, hanya tinggal memakai kimononya saja. Kini Om Robert membungkuk dan jilatannya pindah ke selangkanganku yang sengaja kubuka selebar-lebarnya agar dia dapat melihat isi vaginaku yang merekah dan berwarna merah muda.Kemudian lidah yang hangat dan basah itu pun pindah ke atas dan mulai mengerjai klitorisku dari atas ke bawah dan begitu terus berulang-ulang hingga aku mengerang tidak tertahan. “Aeeh.. uuh.. Rob.. aawh.. ehh..!” Aku hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Om Robert dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku berusaha berpegang pada atas meja untuk menopang tubuhku agar tidak jatuh ke depan atau ke belakang. Badanku terasa mengejang serta cairan vaginaku terasa mulai meleleh keluar dan Om Robert pun menjilatinya dengan cepat sampai vaginaku terasa kering kembali. Badanku kemudian direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah, sedang Om Robert melebarkan kedua kakinya dan siap-siap memasukkan penisnya yang besar dan sudah tegang dari tadi ke dalam vaginaku yang juga sudah tidak sabar ingin dimasuki olehnya. Perlahan Om Robert mendorong penisnya ke dalam vaginaku yang sempit dan penisnya mulai menggosok-gosok dinding vaginaku. Rasanya benar-benar nikmat, geli, dan entah apa lagi, pokoknya aku hanya memejamkan mata dan menikmati semuanya.“Aawww.. gede banget sih Rob..!” ujarku karena dari tadi Om Robert belum berhasil juga memasukkan seluruh penisnya ke dalam vaginaku itu. “Iyah.., tahan sebentar yah Sayang, vagina kamu juga sempitnya.. ampun deh..!” Aku tersenyum sambil menahan gejolak nafsu yang sudah menggebu. Akhirnya setelah lima kali lebih mencoba masuk, penis Om Robert berhasil masuk seluruhnya ke dalam vaginaku dan pinggulnya pun mulai bergerak maju mundur. Makin lama gerakannya makin cepat dan terdengar Om Robert mengerang keenakan.“Ah Rin.. enak Rin.. aduuh..!” “Iii.. iyaa.. Om.. enakk.. ngentott.. Om.. teruss.. eehh..!” balasku sambil merem melek keenakan. Om Robert tersenyum mendengarku yang mulai meracau ngomongnya. Memang kalau sudah begini biasanya keluar kata-kata kasar dari mulutku dan ternyata itu membuat Om Robert semakin nafsu saja. “Awwh.. awwh.. aah..!” orgasmeku mulai lagi.Tidak lama kemudian badanku diperosotkan ke bawah dari atas meja dan diputar menghadap ke depan meja, membelakangi Om Robert yang masih berdiri tanpa mencabut penisnya dari dalam vaginaku. Diputar begitu rasanya cairanku menetes ke sela-sela paha kami dan gesekannya benar-benar nikmat. Kini posisiku membelakangi Om Robert dan dia pun mulai menggenjot lagi dengan gaya doggie style. Badanku membungkuk ke depan, kedua payudara montokku menggantung bebas dan ikut berayun-ayun setiap kali pinggul Om Robert maju mundur. Aku pun ikut memutar-mutar pinggul dan pantatku. Om Robert mempercepat gerakannya sambil sesekali meremas gemas pantatku yang semok dan putih itu, kemudian berpindah ke depan dan mencari putingku yang sudah sangat tegang dar “Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterr..!” rintihku dan Om Robert serta merta meremas putingku lebih keras lagi dan tangan satunya bergerak mencari klitorisku. Kedua tanganku berpegang pada ujung meja dan kepalaku menoleh ke belakang melihat Om Robert yang sedang merem melek keenakan. Gila rasanya tubuhku banjir keringat dan nikmatnya tangan Om Robert di mana-mana yang menggerayangi tubuhku. Putingku diputar-putar makin keras sambil sesekali payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosok-gosok makin gila, dan hentakan penisnya keluar masuk vaginaku makin cepat. Akhirnya orgasmeku mulai lagi. Bagai terkena badai, tubuhku mengejang kuat dan lututku lemas sekali. Begitu juga dengan Om Robert, akhirnya dia ejakulasi juga dan memuncratkan spermanya di dalam vaginaku yang hangat. “Aaah.. Riin..!” erangnya. Om Robert melepaskan penisnya dari dalam vaginaku dan aku berlutut lemas sambil bersandar di samping meja dapur dan mengatur napasku. Om Robert duduk di sebelahku dan kami sama-sama masih terengah-engah setelah pertempuran yang seru tadi.“Sini Om..! Karin bersihin sisanya tadi..!” ujarku sambil membungkuk dan menjilati sisa-sisa cairan cinta tadi di sekitar selangkangan Om Robert.Om Robert hanya terdiam sambil mengelus rambutku yang sudah acak-acakan. Setelah bersih, gantian Om Robert yang menjilati selangkanganku, kemudian dia mengumpulkan pakaian seragamku yang berceceran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi. Setelah mencuci vaginaku dan memakai seragamku kembali, aku keluar menemui Om Robert yang ternyata sudah memakai kaos dan celana kulot, dan kami sama-sama tersenyum. “Rin, Om minta maaf yah malah begini jadinya, kamu nggak menyesal kan..?” ujar Om Robert sambil menarik diriku duduk di pangkuannya.“Enggak Om, dari dulu Karin emang senang sama Om, menurut Karin Om itu temen ayah yang paling ganteng dan baik.” pujiku. “Makasih ya Sayang, ingat kalau ada apa-apa jangan segan telpon Om yah..?” balasnya. “Iya Om, makasih juga yah permainannya yang tadi, Om jago deh.” “Iya Rin, kamu juga. Om aja nggak nyangka kamu bisa muasin Om kayak tadi.” “He.. he.. he..” aku tersipu malu. “Oh iya Om, ini titipannya ayah hampir lupa.” ujarku sambil buru-buru menyerahkan titipan ayah pada Om Robert. “Iya, makasih ya Karin sayang..” jawab Om Robert sambil tangannya meraba pahaku lagi dari dalam rokku.“Aah.. Om, Karin musti pulang nih, udah sore.” elakku sambil melepaskan diri dari Om Robert. Om Robert pun berdiri dan mencium pipiku lembut, kemudian mengantarku ke mobil dan aku pun pulang. Di dalam mobil, supirku yang mungkin heran melihatku tersenyum-senyum sendirian mengingat kejadian tadi pun bertanya. “Non, kok lama amat sih nganter amplop doang..? Ditahan dulu yah Non..?” Sambil menahan tawa aku pun berkata, “Iya Pak, dikasih ‘wejangan’ pula..” Supirku hanya dapat memandangku dari kaca spion dengan pandangan tidak mengerti dan aku hanya membalasnya dengan senyuman rahasia. He..he..he..&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-848618587642646371?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/848618587642646371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=848618587642646371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/848618587642646371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/848618587642646371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/09/titipan-khusus.html' title='Titipan Khusus'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-7950956178437532055</id><published>2010-09-01T23:08:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T00:21:12.666-07:00</updated><title type='text'>Tukang Jamu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Langsung saja, aku Jimmy (28). Di usia yang sudah hampir 30 ini, aku belum juga dapat kerja yang benar, ya setidaknya itu kata orangtuaku, padahal gelar Sarjana Pertanian sudah ada di genggamanku. Tapi, memang susah cari kerjaan di kota sebesar Surabaya. Akhirnya, awal tahun lalu aku memutuskan untuk merantau ke Kupang, NTT. Kebetulan, kakakku Bram punya kios sembako.“Udahlah Jim.., dari pada kamu nganggur, ke sini saja, bantu aku kelola bisnis kecil ini,” katanya waktu menelponku.Yah, maklumlah, Mas Bram itu pegawai negeri dilingkup Diknas, dan Mbak Is, istrinya juga guru SD, yang selalu sibuk mengajar. Jadi, aku pun mulai terbiasa menjaga kios sembako itu. Langgananku banyak, mulai dari yang tua hingga anak-anak. Soalnya, selain sembako, kini kios itu juga berisi berbagai keperluan sehari-hari. Pokoknya lengkap deh. Kakakku pun memujiku, soalnya sejak aku yang mengurusi, kios itu jadi maju, padahal aku baru 6 bulan disitu.Eh, cerita ini berawal saat aku mulai merasakan kecapaian mengurusi dagangan. Apalagi kiosnya sudah diperbesar. Sedangkan aku hanya dibantu oleh Nurce, pembantu rumah tangga kakakku, gadis 19 tahun yang asli Kupang itu.“Wah, aku pegel-pegel nih Nur.., minum obat apa ya yang bagus..?” tanyaku pada Nurce suatu siang.Nurce tidak langsung menjawab. Dia masih sibuk menata bungkusan Pepsodent ke dalam rak pajangan. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;“Ngg apa Kak.., Kakak pegel-pegel..?” Nurce balik bertanya.Memang anak itu selalu memanggilku dengan sebutan kakak, cukup sopan kok. “Saya tau tukang jamu yang bagus Kak, bisa dipanggil lagi. Kalau mau, besok saya panggilkan deh,” jawabnya.“Kok tukang jamu sih Nur..? Memang mujarab..?” tanyaku. “Betul Kak, bagus banget kok khasiatnya, dan banyak yang langganan. Popoknya Kakak lihat aja besok.”Nurce kembali sibuk dengan bungkusan Pepsodent yang belum habis tertata. Sehari pun berselang. Dan, betul saja kata Nurce, pagi itu aku kedatangan tamu. Namanya Mbak Sri, umurnya sekitar 30-35 tahunlah. Pakai kebaya khas tukang jamu gendong, ketat dan menampakkan lekukan tubuh yang masih sangat seksi dan terlihat sintal. “Selamat pagi Mass,” Mbak Sri sedikit mengagetkanku di depan pintu kios. “Oh.., pagi Mbak.., ada apa ya..?” tanyaku sambil membenahi karungan beras yang baru kuatur. “Ini pasti Mas Jimmy ya..? Ini lho, saya Mbak Sri. Saya diminta Nurce datang kesini, katanya Mas Jimmy-nya pingin nyobain Jamu pegelnya Mbak Sri,” jawabnya. “Ini ada jamu pegel dan jamu kuatnya sekalian Mas. Biar Mas Jimmy tambah seger dan perkasa,” katanya sambil langsung meracik jamu untukku, tanpa membiarkan aku bicara dulu.“Iya deh Mbak coba buatin..,” kataku. Wah, saat meracik jamuku itu, Mbak Sri duduknya jongkok di depanku yang duduk di atas kursi. Jelas saja mataku dapat melihat sempurnanya gundukan di dada Mbak Sri. Mungkin kalau dipakaikan Bra, ukurannya 36 atau lebih, terlihat kuning langsat dan segar, kayak jamunya. Aku terus menikmati pemandangan itu sambil berkhayal tentang bagian tubuh lainnya milik Mbak Sri.“Nah.., ini Mas, dicobain dulu jamunya,” Mbak Sri membuatku kaget lagi sambil menyodorkan segelas jamunya.Aku sempat terpana saat melihat wajah Mbak Sri dari dekat, benar-benar mulus. Rasanya tidak pantas deh si Mbak dapat kerjaan seperti ini, lebih pantas jadi istri pejabat. “Ngmm.. si Nurcenya dimana Mbak..?” aku pura-pura bertanya sambil menerima gelas jamu yang disodorkan.“Oh.. tadi langsung ke pasar. Katanya mau belanja buat masak menu makan siang,” jawab Mbak Sri.Aku pun langsung menengguk jamunya. Glek..glek..glek.. “Ahh.. agak pahit nih Mbak..”Kukembalikan gelas jamu itu. Lalu Mbak Sri menuangkan campuran gula merah penghilang pahit dan langsung kutenggak. “Gimana..? Udah hilang to pahitnya Mas..?” kata Mbak Sri sambil mencoba mengikat kembali kain penggendong jamu, Mbak Sri memberi tahu tarifnya.“Semuanya tiga ribu Mas, murah meriah,” katanya.Kubayar dengan pecahan lima ribuan.“Kembaliannya ambil aja Mbak.., jamunya enak,” kataku. Mbak Sri berterima kasih, tapi tidak langsung pergi.“Mas.., tolong angkatkan tempat jamu ini ke punggung saya ya..” pintanya.Duh.., kesempatan nih, aku langsung berpikir ngeres untuk melihat bukit di dada Mbak Sri dari belakang.“Ohh.. dengan senang hati Mbak..,” kataku. Perlahan kuangkat tempat jamu yang lumayan berat itu, lalu aku mencoba meletakkan pada lipatan kain di punggung Mbak Sri. Dan, mataku jelalatan ke dadanya. Wah, si Mbak nggak tahu kalau dadanya lagi diintip. Sekali lagi aku menarik nafas ketika melihat gundukan daging di dada Mbak Sri.“Sudah Mas..?”Aku sungguh kaget mendengar suara Mbak Sri, dan tanpa sadar tubuhku malah terjorok ke depan hingga kemaluanku yang sudah mengembang di balik celana menyentuh pantat Mbak Sri. Duhai.. lembut sekali bagian tubuh Mbak Sri itu. “Eh.., maaf Mbak..,” hanya itu kataku.&lt;span style="mso-tab-count: 1"&gt;         &lt;/span&gt;“Nggak apa kok,” jawabnya, lalu meninggalkanku di kios sendirian. Tidak lama kemudian Nurce pulang dari pasar dengan belanjaan yang lumayan banyak. “Kak Jim.. tolong donk..!” teriaknya waktu baru turun dari angkot.Aku bergegas ke arahnya dan membantunya mengangkat belanjaan. “Apa aja sih ini Nur..? Kok berat banget..?”“Ya belanjaan Kak.., buat seminggu sekalian biar nggak bolak-balik pasar,” jawab Nurce.Setelah menyusun belanjaan di lemari es, kami lalu kembali ke kios. “Gimana Kak, Mbak Sri sudah datang..?” tanya Nurce. “Udah..,” jawabku. “Wah, udah seger dong minum jamunya Mbak Sri..,” “He-eh..,” Tiba-tiba, entah mengapa aku merasa ada getaran aneh waktu aku menatap Nurce yang sedang jongkok membenahi rak pajangan. Aku jadi ingat pantatnya Mbak Sri. Apalagi Nurce pakai celana pendek kolor, wah aku benar-benar merasa ada getaran aneh nih. Cantik juga pembantu kakakku ini, tubuhnya yang agak bongsor dengan rambut panjang dan hitam serta kulit sawo matang tapi bersih. Huhh.., aku tergoda. “Eh.. Nur.., bisa pijetin Kakak nggak? Rasanya baru siip nih kalau abis minum jamu dipijitin,” kataku. “Sebentar ya Kak, saya beresin ini dulu,” jawab Nurce tanpa melihatku. Aku bangun dan mendekatinya, “Sudah deh, itunya nanti saja, lagian udah siang dan kiosnya kan sebentar lagi tutup,” kataku sambil menarik tangan Nurce. Nurce pun menuruti ajakanku. “Dimana pijitnya Kak..?” Nurce bertanya. “Di kamar Kakak saja ya,” jawabku sambil terus menariknya ke kamarku yang letaknya tepat di belakang kios. Setiba di kamar, aku langsung buka semua pakaianku, tinggal CD saja. Dan, Nurce pun tidak segan-segan lagi langsung mejijitiku dengan lotion. Nurce memang sangat akrab denganku, mungkin sudah menganggapku sebagai kakaknya, demikian aku. Tapi entahlah, hari ini aku benar-benar ingin bercinta dengannya. Apa karena oengaruh jamu ya..? Aku berbaring telentang dan Nurce memijiti kakiku. “Wah.., lama-lama kok panas ya Kak udaranya..?” kata Nurce yang masih memijiti kakiku. “Panas ya Nur..? Wah.., mana kipasnya rusak lagi. Ya udah, kamu buka baju aja seperti kakak, nggak apa-apa kok,” jawabku sekenanya. Wajah Nurce memerah, “Ah, Kakak.. Nurce kan malu kalau telanjang,” katanya tersipu. “Gini aja Nur.. nggak usah dibuka semuanya.. tinggalin BH sama CD kamu,” kataku seraya membantunya membuka baju dan celananya. Nurce mungkin sangat risih, tapi tidak berani menolak. Mungkin karena aku adik majikannya kali ya. Uppss.., betapa indah bagian dada Nurce bila tidak ada bajunya. Wah, mataku makin liar melihat daging tebal tertutup CD di selangkangan Nurce. Mulus juga nih anak. “Nah, enak kan..? Terusin deh pijitin Kakak. Sekarang agak ke atas ya Nur..! Bagian paha,” pintaku. “Iya deh Kak.. tapi jangan cerita siapa-siapa kalau Nurce telanjang gini di depan Kakak ya,” katanya. Nurce kembali memijitiku di bagian paha. Nah, kali ini aku benar-benar terangsang nih. Kemaluanku sudah sangat tegang. Aku lalu bangun dan kupegang tangan Nurce, “Gantian ya Nur, kamu Kakak pijitin,” pintaku pada Nurce. Nurce kaget, tapi tidak dapat menolak permintaanku. Dia pun kubaringkan telentang di kasurku. Aku mulai memolesi kakinya dengan lition, lalu naik ke betis dan paha. Begitu berulang-ulang. Nurce memejamkan matanya, mungkin malu. Tapi aku yakin Nurce menikmati pijatanku. Aku mulai memberanikan diri berlama-lama mengusap-usap pahanya, dan jari-jariku mulai nakal menggerayangi selangkangan paha bagian dalam Nurce. “Uhh Kak, geli Kak..,” kata Nurce seraya memegangi tanganku. “Nggak apa-apa Nur, cuma sebentar..,” jawabku. Aku sudah semakin tegang. Kini pijatan kualihkan ke tubuhnya. Awalnya hanya bagian perut, lalu menjalar hingga belahan dada. “Kak.. ihh.., geliih Kak..,” Nurce sedikit berteriak sambil ingin bangkit, tapi tubuhnya kutahan dengan dua tanganku di pundaknya. “Nur.., hmm.., kamu cantik Nur..,” kataku, dan aku langsung menyergap bibirnya yang ranum. “Emnngff.., Kak Jim.., ehmff.. ja.. nghann.. Kak..!” Nurce coba berontak, tapi aku lebih kuat. BH dan CD-nya dengan cepat luruh di tanganku. Kini Nurce bugil sama sekali. Aku terus menghujani tubuhnya dengan ciuman, hingga Nurce tidak mampu melawan lagi dan hanya menangis. Sejenak kuhentikan kekasaranku. “Kamu kenapa Nur..? Kamu nggak suka ya..?” tanyaku. “Kak.. Nurce takut Kak..,” isak tangis Nurce mulai mengeras. “Usstt.., nggak apa-apa sayang, Kak Jim cinta kamu,” rayuku. Mendengar rayuanku itu Nurce seakan terhipnotis, sehingga saat aku mulai kembali melakukan cumbuanku, Nurce diam saja dan menikmatinya. Jilatan-jilatan kuberikan di sekitar payudaranya hingga puting susunya mekar memerah. “Hnngg.., sstt Kak, ohh..!” Nurce mulai mendesah-desah. Kepalaku mulai turun ke arah kemaluan Nurce, dan jilatanku kembali menerpa belahan vaginanya. Astaga, indah sekali kemaluan Nurce, kupikir pastilah masih perawan. Bulu-bulu halus di sekitar kemaluannya menebarkan aroma yang sungguh khas, membuatku semakin liar menjilati. Kujilati terus bibir kemaluannya dan klitorisnya kuberi gigitan kecil, hingga Nurce tergelinjang. “Aduuhh ss.., Kakhh..!” jerit Nurce tertahan. Kini kubuka CD-ku dan memampangkan penisku yang sudah mekar dengan panjang 17 cm di hadapan Nurce. Nurce memandangi penisku dengan kagum. “Ihh besar ya Kak..? Itu nanti diapain sih Kak..?” lugu sekali pertanyaan Nurce. Aku jadi yakin kalau dia memang masih perawan. “Tenang ya Nur, ini nanti jadi enak di pepeknya kamu. Sekarang kamu diam dan nikmatin ya..!” kataku. Kembali kurebahkan tubuh Nurce telentang. Kini kucoba benamkan penisku ke vaginanya. “Akhh.., kok sakit Kak..?” “Tenang ayang, ini enak kok,” kutekan sekuatnya penisku dan, cleps.. “Auhhtt.., ngghmm Kakaak Jimmhh..,” rintih Nurce antara sakit dan nikmat. Penisku sudah setengah batang masuk ke liang perawannya. Benar-benar masih murni dan rapat. Aku lalu memompa perlahan pantatku hingga kemaluanku menggetarkan vagina Nurce. “Kaakh Jimm ennaak Kakhh, ohhss.. auhh.. Yahh, enakhh.. Kakkh..!” Nuce mulai kenikmatan. Cukup lama aku menyetubuhi pembantu kakakku itu, hingga akhirnya Nurce kejang-kejang karena orgasme, dan aku dan spermaku liar menyemprot ke dalam vagina Nurce secara bersamaan. “Kak Jimmy betul cinta saya..?” tanya Nurce masih berbaring di sampingku. Tentu sayang, kamu begitu mengairahkan.., jangan bilang ke Pak Bram ya kalau kita saling cinta,” bujukku. Sejak saat itu kami sering sekali melakukan hubungan seks, dan Nurce makin pintar saja. Apalagi setiap kali habis menenggak jamunya Mbak Sri, aku makin bergairah dan Nurce adalah labuhan nafsuku.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-7950956178437532055?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/7950956178437532055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=7950956178437532055' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/7950956178437532055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/7950956178437532055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/09/tukang-jamu.html' title='Tukang Jamu'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-3257651202502495548</id><published>2010-09-01T23:07:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T02:57:55.323-07:00</updated><title type='text'>Nikmatnya Ngeseks Dengan Pembantu</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Chijaunet%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Chijaunet%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Chijaunet%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namaku sebut saja Ryan, seorang mahasiswa sebuah PTS di kota S yang bertampang lumayan tampan dan suka dengan petualangan cinta dan seks. Aku punya pengalaman seks menarik yg ingin aku ceritakan. Waktu itu bulan juni-juli 2002 adalah saat liburan kuliah akupun yg selama kuliah indekost di kota S akhirnya pulang liburan di kota kelahiranku sekaligus kota kediaman kedua orang tuaku yaitu kota J. Oh ya aku adalah anak tunggal sebuah keluarga berada Ayahku seorang pengusaha sibuk sedangkan ibuku juga seorang wanita karier yg sibuk. Waktu pulang itu ternyata di rumahku ada seorang pembantu baru, namanya Lastri usianya 18 th ia rupanya mengantikan posisi pembantu sebelumnya yaitu mbok ijah 40 th yang diberhentikan oleh ibuku gara-gara kerjanya yg tidak benar. Lastri adalah gadis dari kampung,Ia hanya lulusan SD dan kerja menjadi pembantu di Kota untuk mencari nafkah dan membantu ekonomi keluarganya di kampung. Awalnya aku tidak terlalu memperdulikannya namun lama-lama aku perhatikan kalau Lastri lumayan cantik dan manis, kulitnya cukup bersih meski tidak semulus gadis-gadis cantik mahasiswi di kampusku. Tinggi lastri kira-kira 1,65 m, rambut lurus hitam hingga ke punggung, bodynya lumayan dan yang paling aku suka adalah ukuran buah dadanya yg kuperhatikan lumayan besar dan montok. Karena mulai sering memperhatikannya dan mulai tertarik denganya aku yang sudah terbiasa dengan gaya hidup free seks dengan pacar-pacarku sebelumnya jadi punya rencana untuk bisa meniduri pembantuku itu. Dan hari itu rencanaku akhirnya kesampaian juga. Hari itu kedua ortuku keluar kota mengurusi bisnis mereka masing-masing. Artinya saat itu rumah dalam keadan sepi karena hanya ada aku dan lastri yang ada di rumah. Siang itu setelah membuatkan aku minuman juss buah, aku mengajak ngobrol Lastri diruang keluarga, kebetulan saat itu pekerjaan lastri sudah tidak ada. Kami ngobrol sambil duduk melihat TV di atas hamparan karpet yg empuk. Aku menanyainya banyak hal mulai dari keadaan keluarganya di kampung dan lain sebagainya. Sambil ngobrol, aku yang sudah pengalaman menaklukkan hati cewek-cewek sejak SMU, terus menatap mata Lastri sewaktu ngobrol dan sesekali memuji kecantikan Lastri dan berkata mengapa gadis secantik dia mau menjadi pembantu. Lama-lama lastri mulai masuk dalam perangkapku, &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ia tersipu malu saat aku puji dan salah tingkah bila aku menatap tajam matanya. Aku berhasil mengakrabkan diri dengannya dan obrolan mengalir lancar lastri tidak sungkan lagi dan bisa aku ajak bercanda. Akupun mulai mengajaknya ngobrol soal pacar, menanyakan apakah ia pernah punya pacar atau apakah dia punya pacar di kampungnya. Saat dia berkata kalau di pernah sekali pacaran dan putus gara-gara pacarnya pergi ke malaysia sebagai TKI, aku menanyakan apa dia pernah ciuman dengan pacarnya itu apa belum. Dengan malu-malu dia mengaku pernah tapi cuma sekali dan itupun cuma cium pipi. Lalu dengan kepercayaan diri yang tinggi aku mengeser dudukku hingga lebih dekat dengannya. Aku terus menatapnya dan kulihat Lastri salah tingkah. Lalu aku meraih dan menarik dagunya dan kudekatkan bibirku kebibirnya sambil membisikkan pujian tentang kecantikannya. Saat itu seharusnya Lastri menyadari gelagat bahwa aku hendak menciumnya tapi dia diam saja membiarkan aku melakukannya. Akhirnya aku berhasil mengecup lembut bibir ranum pembantuku yg muda dan cantik itu. lastri diam saja tidak bereaksi saat aku mulai menggulum bibirnya. Namun saat tanganku mulai menjamah tubuhnya dan mulai meremas buah dadanya dia mulai mulai berusaha menepisnya."Jangan Mas Ryan.." katanya sambil berusaha meneepis tanganku yang mulai nakal menjamah dadanya. "Ayolah lastri, Ijinkan aku melakukannya aku sangat menyukaimu. bukankan kau juga suka padaku" bisikku sambil berusaha mencoba menciumi lehernya. "Mas Ryan jangan mas, nanti ketahuan nyonya saya bisa di pecat" katanya sambil mencoba mendorongku tapi tidak dengan sepenuh hati."Kamu tidak perlu takut, Ibuku pergi keluar kota dan baru pulang besok sedang Ayahku juga, Ayolah Lastri ini kesempatan kita" rayuku sambil terus berusaha mendaratkan ciumanku ke lehernya. Akhirnya lastri terbui rayuan dan ajakkanku. Aku memeluknya erat dan kulumat bibir ramunnya. Lastri yang semula pasif akhirnya mulai bereaksi membalas lumatan bibirku. puas melumat bibirnya ciumanku kualihkan ke lehernya dan terus turun. Dengan cekatan aku membuka bajunya dan BH-nya juga aku lepas. Kini bibir dan lidahku mulai bermain di dadanya. Hmm Payudara lastri ternyata benar-benar indah dan montok ukuran BH-nya kuperkirakan 36B dan punting susunya yang merah kecoklatan langsung aku lumat dan sesekali aku mainkan dengan lidahku yang basah. Lastri melenguh dan mengelinjang. Birahinya berhasil aku rangsang dan kini ia benar-benar ada dalam penguasaanku. Tubuhnya lalu aku rebahkan diatas hamparan karpet hingga aku makin leluasa menikmati gunung kembar di dadanya. Tangan kananku tidak tinggal diam menyimkap roknya dan mengerayangi paha mulusnya hingga hingaplah di selangkangannya yg masih terbungkus celana dalam. Aku juga mulai melucuti pakaianku sendiri dengan tangan kiriku. Saat itu aku tidak mau mengulur-ulur waktu, &lt;script src="http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=131861&amp;amp;onlytitle=1" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;aku langsung menarik celana dalamnya sementara roknya tidak aku lucuti hanya aku singkap keatas. saat itu akupun sudah telanjang bulat dan torpedo kebanggaanku sudah siap mendongak dengan gagahnya. Aku segra mengambil posisi diatas tubuh lastri yang telah aku telentangkan dengan kedua telapak kaiknya bertumpu di lantai karpet.Aku membimbing kepala penisku dan mengarahkannya ke liang surga milik Lastri. "Mas saya takut..." rintih lastri saat kepala torpedoku telah ku tempelkan di bibir kewanitaanya yang berbulu halus itu. "Ngak usah takut ngak sakit kok " bisikku mesra sambil mengecupnya. Selanjutnya aku mulai mendorong pelorku agar memasuki liang kewanitaan lastri yang masih liat dan kencang. Kulihat Lastri mengigit bibirnya sambil mengerang. Setelah bersusah payah akhirnya torpedoku berhasil menerobos masuk liang surga lastri. saat itu rasanya nikmat sekali lalu aku mulai menarik dan mendorong kejantannanku menjelajahi memeknya lastri. Lastri mengelinjang, mengerang dan sesekali merintih kesakitan. Aku telah memerawaninya aku lihat ada percikan darah membasahi batang torpedoku dan di sekitar liang kewanitaannya. "Ohhh...aduh mas ryan sakit oh.. sakit mas" rintih lastri saat aku makin bersemangat mengoyang pantatku maju mundur. Aku tahu kalau torpedoku yang ukuranya lumayan besar itu telah menyakiti kewanitaan lastri yang masih kencang dan sempit itu. "Tidak apa-apa nanti juga hilang sakitnya" bisikku sambil merem melek menikmati memeknya lastri yang serasa memijit dan meremas batang kejantananku. Sementara lastri merus merintih dan mengerang, Ia mengeleng kekanan dan ke kiri. Makin lama gerakan torpedoku makin lancar maju mundur menjelajahi liang surga lastri. Sementara rintihan Lastri mulai berubah menjadi lenguhan dan desahan, tanda kalau Dia mulai merasakan kenikmatan. Lastri terus mengerang, Ia mengoyangkan pinggulnya menyambut sodokan torpedoku yang terus menghunjam kewanitaanya. Kami sama-sama berpacu mengumbah birahi yg semakin membuncah. Beberapa saat kemudian desahan dan erangan Lastri semakin menjadi-jadi, tubuhnya mengelinjang dan bergetar hebat lalu mengejang. Saat itu aku merasakan liang vaginanya jadi makin basah. Rupanya Lastri telah mencapai puncak.Karena Lastri sudah orgasme Aku lalu menghentikan permainan. Ku cabut torpedoku dari liang kewanitaannya. Lalu aku memintaanya untuk melakukan oral seks. Awalnya Ia tidak tahu apa itu oral Seks. Setelah aku jelaskan barulah Dia tahu. Kemudian aku duduk di sofa sementara Lastri duduk dilantai dan berada tepat di depan selangkanganku. Rudalku yang masih gagah di pegangnya. Awalnya ia ragu-ragu untuk mengoral rudalku. Akhirnya ia mau juga dan mulai menciumi pelorku dan akhirnya menjilatinya. Ahhh..rasanya nikmat sekali. Selanjutnya lastri memasukkan batang kemaluanku yg besar dan melengkung itu kedalam mulutnya. Ohh...kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. namun karena dia Ini adalah pengalaman pertamanya giginya beberapa kali mengenai kepala penisku. "Aduh Lastri.., jangan kena gigi dong..nanti lecet" Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku, melingkar kekiri dan kekanan. Aku mengerang dan kujambak rambutnya. Kemudian Ia mengocok Pelorku dengan mulutnya hingga kemaluanku maju mundur dalam mulutnya.Tak berapa lama aku merasakan kalau rudalku terasa berdenyut-denyut dan makin menegang. Lastri kuminta mengocok pelorku lebih cepat. Aku mengelinjang, mengerang dan tubuhku seperti mengejang. Akhirnya air mani muncrat di dalam mulutnya hingga Lastri hampir tersedak. Air maniku yang lumayan banyak tumpah dari mulutnya dan sebagian membasahi wajahnya. "Mas Ryan kok di tumpahin di mulut Lastri maninya" tanya lastri setelah nyaris tersedak. "maaf lastri, habis aku ngak tahan lagi sih" kataku. Lastri lalu menjilati dan mengulum torpedoku yang berangsur-angur mengecil. Sementara aku membersihkan mani di wajahnya. Lastri lalu kucium mesra sebagai tanda terima kasih karena ia telah memuaskanku waktu itu. Setelah istirahat sebentar aku mengajak Lastri kekamarku dan kami mengulanginya lagi. Kami kembali bercinta berulang kali sampai puas hingga kami sama-sama terkapar karena kehabisan tenaga. :)&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-3257651202502495548?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/3257651202502495548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=3257651202502495548' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/3257651202502495548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/3257651202502495548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/09/lastri.html' title='Nikmatnya Ngeseks Dengan Pembantu'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-784053215715033461</id><published>2010-09-01T23:06:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T00:22:16.619-07:00</updated><title type='text'>Dokter seks</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Para pembaca sekalian, terserah anda percaya atau tidak, tetapi kisah ini benar-benar terjadi. Waktu itu kalau tidak salah sekitar akhir tahun 2006 yang lalu, saat saya diharuskan melakukan medical check up di sebuah klinik kesehatan di Jakarta, guna memenuhi persyaratan agar diterima bekerja di sebuah perusahaan dan kebetulan saya juga diajak teman saya untuk mengikuti program asuransi jiwa karena dia adalah agen dari salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia, jika tidak salah nama perusahaannya adalah AIA.Sebenarnya saya malas melakukan medical check up ini. Pasti lagi-lagi cuma cek darah, air seni, dan kotoran saja. Kemudian diperiksa oleh dokter memakai stetoskop untuk menyakinkan bahwa saya terkena penyakit atau tidak. Itu saja menurut saya, tidak ada yang lain. Dokter yang akan memeriksa saya paling-paling juga dokter &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;cowok, mana sudah tua lagi.Dengan sekali-sekali menguap karena jenuh karena sudah hampir setengah jam saya menunggu dokter yang tak kunjung datang. Padahal saya sudah melalui proses medical check up yang pertama, yaitu pemeriksaan darah, air seni, dan kotoran. Beberapa kali saya menanyakan pada orang di loket pendaftaran dan selalu memperoleh jawaban sama, yaitu agar saya sabar sebab dokternya dalam perjalanan dan mungkin sedang terjebak macet. Saya melihat arloji di tangan saya. Akhirnya saya memutuskan bahwa kalau dokternya tidak juga datang limabelas menit lagi, maka saya akan pulang saja ke rumah.Dengan menarik nafas kesal, saya memandangi sekeliling saya. Tahu-tahu mata saya tertumbuk pada seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam klinik tersebut. Amboi, cantik juga dia. Saya taksir usianya sekitar 35 tahun. Tetapi alamak, tubuhnya seperti cewek baru duapuluhan. Kencang dan padat. Payudaranya yang membusung cukup besar itu tampak semakin menonjol di balik kaos oblong ketat yang ia kenakan. Gumpalan pantatnya di balik celana jeans-nya yang juga ketat, teramat membangkitkan selera. Batinku, coba dokternya dia ya. Tidak apa-apa deh kalau harus diperiksa berjam-jam olehnya. Akan tetapi karena rasa bosan yang sudah menjadi-jadi, saya tidak memperhatikan wanita itu lagi. Saya kembali tenggelam dalam lamunan yang tak tentu arahnya.“Mas, silakan masuk. Itu dokternya sudah datang.” Petugas di loket pendaftaran membuyarkan lamunan saya. Saat itu saya sudah hendak memutuskan untuk pulang ke rumah, mengingat waktu sudah berlalu limabelas menit. Dengan malas-malasan saya bangkit dari bangku dan berjalan masuk ke ruang periksa dokter.“Selamat malam”, suara lembut menyapa saat saya membuka pintu ruang periksa dan masuk ke dalam. Saya menoleh ke arah suara yang amat menyejukkan hati itu. Saya terpana, ternyata dokter yang akan memeriksa saya adalah wanita cantik yang tadi sempat saya perhatikan sejenak. Seketika itu juga saya menjadi bersemangat kembali.“Selamat malam, Dok”, sahut saya. Ia tersenyum. Aah, luluhlah hati saya karena senyumannya ini yang semakin membuatnya cantik.“Oke, sekarang coba kamu buka kaos kamu dan berbaring di sana”, kata sang dokter sambil menunjuk ke arah tempat tidur yang ada di sudut ruang periksa tersebut.Saya pun menurut. Setelah menanggalkan kaos oblong, saya membaringkan diri di tempat tidur. Dokter yang ternyata bernama Dokter S itu menghampiri saya dengan berkalungkan stetoskop di lehernya yang jenjang dan putih.“Kamu pernah menderita penyakit berat? Tipus? Lever atau yang lainnya?” Tanyanya. Saya menggeleng.“Sekarang coba kamu tarik nafas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya.” Dengan stetoskopnya, Dokter S memeriksa tubuh saya. Saat stetoskopnya yang dingin itu menyentuh dada saya, seketika itu juga suatu aliran aneh menjalar di tubuh saya. Tanpa saya sadari, saya rasakan, batang kemaluan saya mulai menegang. Saya menjadi gugup, takut kalau Dokter S tahu. Tapi untuk ia tidak memperhatikan gerakan di balik celana saya. Namun setiap sentuhan stetoskopnya, apalagi setelah tangannya menekan-nekan ulu hati saya untuk memeriksa apakah bagian tersebut terasa sakit atau tidak, semakin membuat batang kemaluan saya bertambah tegak lagi, sehingga cukup menonjol di balik celana panjang saya.“Wah, kenapa kamu ini? Kok itu kamu berdiri? Terangsang saya ya?” Mati deh! Ternyata Dokter S mengetahui apa yang terjadi di selangkangan saya. Aduh! Muka ini rasanya mau ditaruh di mana. Malu sekali!“Nah, coba kamu lepas celana panjang dan celana dalam kamu. Saya mau periksa kamu menderita hernia atau tidak.” Nah lho! Kok jadi begini?! Tapi saya menurut saja. Saya tanggalkan seluruh celana saya, sehingga saya telanjang bulat di depan Dokter S yang bak bidadari itu.Gila! Dokter S tertawa melihat batang kemaluan saya yang mengeras itu. Batang kemaluan saya itu memang tidak terlalu panjang dan besar, malah termasuk berukuran kecil. Tetapi jika sudah menegang seperti saat itu, menjadi cukup menonjol.“Uh, burung kamu biar kecil tapi bisa tegang juga”, kata Dokter S serasa mengelus batang kemaluan saya dengan tangannya yang halus. Wajah saya menjadi bersemu merah dibuatnya, sementara tanpa dapat dicegah lagi, batang kemaluan saya semakin bertambah tegak tersentuh tangan Dokter S. Dokter S masih mengelus-elus dan mengusap-usap batang kemaluan saya itu dari pangkal hingga ujung, juga meremas-remas buah zakar saya.“Mmm.. Kamu pernah bermain?” Saya menggeleng. Jangankan pernah bermain. Baru kali ini saya telanjang di depan seorang wanita! Mana cantik dan molek lagi!“Aahh..” Saya mendesah ketika mulut Dokter S mulai mengulum batang kemaluan saya. Lalu dengan lidahnya yang kelihatannya sudah mahir digelitiknya ujung kemaluan saya itu, membuat saya menggerinjal-gerinjal. Seluruh batang kemaluan saya sudah hampir masuk ke dalam mulut Dokter S yang cantik itu. Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya batang kemaluan saya. Terasa geli dan nikmat sekali. Baru kali ini saya merasakan kenikmatan yang tak tertandingi seperti ini.Dokter S segera melanjutkan permainannya. Ia memasukkan dan mengeluarkan batang kemaluan saya dari dalam mulutnya berulang-ulang. Gesekan-gesekan antara batang kemaluan saya dengan dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi saya.“Auuh.. Aaahh..” Akhirnya saya sudah tidak tahan lagi. Kemaluan saya menyemprotkan cairan kental berwarna putih ke dalam mulut Dokter S. Bagai kehausan, Dokter S meneguk semua cairan kental tersebut sampai habis.“Duh, masa baru begitu saja kamu udah keluar.” Dokter S meledek saya yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.“Dok.. Saya.. baru pertama kali.. melakukan ini..” jawab saya terengah-engah.Dokter S tidak menjawab. Ia melepas jas dokternya dan menyampirkannya di gantungan baju di dekat pintu. Kemudian ia menanggalkan kaos oblong yang dikenakannya, juga celana jeans-nya. Mata saya melotot memandangi payudara montoknya yang tampaknya seperti sudah tidak sabar ingin mencelat keluar dari balik BH-nya yang halus. Mata saya serasa mau meloncat keluar sewaktu Dokter S mencopot BH-nya dan melepaskan celana dalamnya. Astaga! Baru sekarang saya pernah melihat payudara sebesar ini. Sungguh besar namun terpelihara dan kencang. Tidak ada tanda-tanda kendor atau lipatan-lipatan lemak di tubuhnya. Demikian pula pantatnya. Masih menggumpal bulat yang montok dan kenyal. Benar-benar tubuh paling sempurna yang pernah saya lihat selama hidup saya. Saya rasakan batang kemaluan saya mulai bangkit kembali menyaksikan pemandangan yang teramat indah ini.Dokter S kembali menghampiri saya. Ia menyodorkan payudaranya yang menggantung kenyal ke wajah saya. Tanpa mau membuang waktu, saya langsung menerima pemberiannya. Mulut saja langsung menyergap payudara nan indah ini. Sambil menyedot-nyedot puting susunya yang amat tinggi itu, mengingatkan saya waktu saya menyusu pada ibu saya selagi kecil. Dokter S adalah wanita yang kedua yang pernah saya isap-isap payudaranya, tentu saja setelah ibu saya saat saya masih kecil.“Uuuhh.. Aaah..” Dokter S mendesah-desah tatkala lidah saya menjilat-jilat ujung puting susunya yang begitu tinggi menantang. Saya permainkan puting susu yang memang amat menggiurkan ini dengan bebasnya. Sekali-sekali saya gigit puting susunya itu. Tidak cukup keras memang, namun cukup membuat Dokter S menggelinjang sambil meringis-ringis.Tak lama kemudian, batang kemaluan saya sudah siap tempur kembali. Saya menarik tangan Dokter S agar ikut naik ke atas tempat tidur. Dokter S memahami apa maksud saya. Ia langsung naik ke atas tubuh saya yang masih berbaring tertelentang di tempat tidur. Perlahan-lahan dengan tubuh sedikit menunduk ia mengarahkan batang kemaluan saya ke liang kewanitaannya yang sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu lebat kehitaman. Lalu dengan cukup keras, setelah batang kemaluan saya masuk satu sentimeter ke dalam liang kewanitaannya, ia menurunkan pantatnya, membuat batang kemaluan saya hampir tertelan seluruhnya di dalam liang senggamanya. Saya melenguh keras dan menggerinjal-gerinjal cukup kencang waktu ujung batang kemaluan saya menyentuh pangkal liang kewanitaan Dokter S. Menyadari bahwa saya mulai terangsang, Dokter S menambah kualitas permainannya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya berputar-putar ke kiri ke kanan dan naik turun ke atas ke bawah. Begitu seterusnya berulang-ulang dengan tempo yang semakin lama semakin tinggi. Membuat tubuh saya menjadi meregang merasakan nikmat yang tiada tara.Saya merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang kemaluan saya sudah nyaris menyemprotkan cairan kenikmatan lagi. Namun saya mencoba menahannya sekuat tenaga dan mencoba mengimbangi permainan Dokter S yang liar itu. Akhirnya.., “Aaahh.. Ouuhh..” Saya dan Dokter S sama-sama menjerit keras. Kami berdua mencapai klimaks hampir bersamaan. Saya menyemprotkan air mani saya di dalam liang kewanitaan Dokter S yang masih berdenyut-denyut menjepit batang kemaluan saya.Demikianlah peristiwa yang terjadi siang itu. Dan mau tahu apa hasil medical check up yang istimewa tersebut? Saya dinyatakan sehat secara fisik dan tentu saja secara mental. Apalagi secara birahi. Tentu para pembaca semua tahu maksud saya ini. Dan akhirnya saya berhasil diterima di perusahaan besar itu yang merupakan impian saya sejak lama dan saya berhasil mendapatkan asuransi policy dari AIA sekalian membantu teman saya mendapatkan komisinya. Sayangnya, permainan saya yang menggebu-gebu tersebut dengan Dokter S merupakan pengalaman saya yang pertama sekaligus yang terakhir. Ia sepertinya menghindar apabila saya sengaja datang ke tempat praktek dokternya. Dengan alasan sibuk atau sejuta alasan lainnya, Dokter S selalu menolak menemui saya. Saya tidak tahu mengapa ia bersikap seperti itu. Ah, biar saja!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597604192005208319-784053215715033461?l=sek-esek.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sek-esek.blogspot.com/feeds/784053215715033461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597604192005208319&amp;postID=784053215715033461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/784053215715033461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597604192005208319/posts/default/784053215715033461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sek-esek.blogspot.com/2010/09/dokter-seks.html' title='Dokter seks'/><author><name>ESEK-ESEK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17139225973943050834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597604192005208319.post-4774493139210185932</id><published>2010-09-01T23:05:00.003-07:00</published><updated>2010-10-13T00:22:40.459-07:00</updated><title type='text'>Aku Dan Ibu Mila</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Aku benar-benar jadi ketagihan berhubungan sex dengan wanita-wanita yang umurnya jauh lebih tua dariku. Hubungan cintaku dengan Ibu mertuaku masih terus berlanjut sampai saat ini. Jika aku sudah sangat rindu akan tubuh Ibu mertuaku, aku menelpon Ibu mertuaku, kami janjian untuk bertemu di salah satu hotel, yang lokasinya dekat dengan bandara. Pagi pagi sekali aku berangkat, setelah kami berjumpa, kami tumpahkan semua rasa rindu kami, sehari penuh kami tidak keluar kamar mengejar sejuta kenikmatan. Aku dan Ibu mertuaku benar benar memanfaatkan waktuku yang singkat, karena sore harinya aku harus segera kembali ke Jakarta. Saat menunggu dibandara, jika birahi ku datang, aku dan Ibu mertuaku masuk ke toilet bandara yang cukup sepi. Langsung kusingkap roknya, kuturunkan CDnya, kuturunkan celana dan CD ku sebatas lutut, dari belakang langsung kutancapkan kontolku kelubang memek Ibu mertuaku, kogoyang maju mundur pantatku dengan sangat cepat, agar secepat mungkin kami raih kenikmatan. Mungkin aku sudah gila, aku jatuh cinta sama Ibu mertuaku &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;sendiri. Banyak diantara pembaca sekalian yang bertanya tanya tentang hubungan sexku dengan Indri istriku? Dalam hubungan sex, Indri, tidaklah sehebat ibunya, dalam bercinta istriku tidak suka dengan gaya yang aneh aneh. Bahkan Untuk melakukan oral sex saja, Indri enggan melakukannya, jijik, katanya. Dalam berhubungan badan, aku dan Indri lebih banyak mengunakan gaya konvensional dalam bercinta. Apalagi Indri istriku termasuk wanita karier yang cukup berhasil, kadang kadang disaat aku ingin bersetubuh istriku sering menolaknya, capek sekali, katanya. Tapi bukan itu yang menjadi alasan aku harus selingkuh dengan ibunya atau dengan wanita setengah baya lainnya. Aku bangga akan istriku. Hanya saja, dengan Indri semua fantasi sexku tidak pernah kesampaian, terlalu monoton, Dengan Ibu mertuaku atau dengan wanita setengah baya lainnya yang pernah kusetubuhi, aku bebas berexpresi, dan fantasi sexualku juga bisa terpenuhi. Dengan mereka, aku benar benar merasakan kepuasan sexual yang luar biasa. Sekarang aku akan melanjutkan ceritaku, tentang hubunganku dengan IbuMila, setelah persetubuhan kami yang pertama. Saat keesokan harinya, ketika aku sudah tiba dikantor, aku hanya senyum senyum sendiri membayangkan Ibu Mila atasanku, orang yang begitu ditakuti dikantorku ini, akhirnya menyerah pasrah dalam pelukanku, memohon mohon agar ladangnya segera dicangkul dan sirami oleh air kehidupan yang begitu nikmat. Aku hanya tersenyum sendiri kalau mengingat apa yang terjadi semalam antara aku dengan Ibu Mila. Aku benar benar menunggu kedatangan orang yang paling berpengaruh dikantorku, dan ingin sekali melihat reaksi dan expresi Ibu Mila kepadaku. Setelah lewat setengah jam, Ibu mila belum Muncul juga. Dari Yena, sekretaris Ibu Mila aku tahu, bahwa hari ini Ibu Mila tidak masuk kantor karena kurang enak badan. Banyak teman teman yang tersenyum lepas, karena bisa bebas bekerja tanpa perlu ada yang ditakuti. Cuma aku yang tidak senang atas peristiwa ini, karena aku ingin sekali melihat expresi wajah Ibu Mila. Ya sudahlah Akupun sibuk dan larut dengan pekerjaanku. Tanpa terasa sudah jam sepuluh pagi, tiba tiba aku dikejutkan oleh suara dering Hpku, tanda bahwa ada pesan yang masuk. Aku lihat ternyata Ibu Mila yang mengirim pesan, segera kubaca isi pesan tersebut.“Pento.., kamu lumayan juga diatas ranjang, jadi wajar, kalau Ibu mertuamu sampai hamil. Hari ini saya nggak masuk kerja, saya tunggu kamu dirumah saya, jam satu siang. Minta izin sama Siska bilang saja kamu sakit. Mila.”.. Uh dasar.. Bos, Sudah jelas jelas Ibu Mila kubuat KO di atas ranjang, masih bilang aku hanya lumayan. Tapi aku bersyukur juga, berarti hari ini aku bisa mengentot Ibu Mila lagi. Langsung terbayang semua kenikmatan yang akan kuperoleh dari tubuh gendut Ibu Mila. Dengan alasan kurang enak badan, akupun izin untuk istirahat pulang, kutelpon taksi, saat taksi sudah datang, akupun langsung cabut dari kantorku menuju rumah Ibu Mila. Setelah mendapat SMS dari Ibu Mila, aku begitu penuh semangat, hari ini aku ingin membuat Ibu Mila mengemis dan mohon ampun padaku. Cuma aku sadar, kemampuan sexku tidaklah terlalu hebat. Nggak mungkinlah, aku bisa kuat ngentot berjam jam. Untuk menambah stamina dan daya tahan sexku, aku mampir ke salah satu toko yang menjual obat kuat, dari uang yang diberikan Ibu Mila kepadaku, aku beli beberapa butir obat kuat yang cukup ampuh. Didalam taksi langsung aku minum sebutir. Haa.. ha..rasakan nanti, batinku. Jam satu kurang, aku sudah tiba dirumah Ibu Mila, Kupencet bell dengan perasaan berdebar. Saat pintu gerbang terbuka kulihat Agus, satpam penjaga rumah Ibu Mila membukakan pintu. “Eh.., Bapak Pento Silahkan masuk Pak, Ibu sudah menunggu Bapak di dalam”. “Terima kasih Pak”, jawabku. Akupun masuk kedalam, jauh juga jarak dari pintu gerbang sampai kepintu rumah Ibu Mila. Kulihat Ibu Mila sudah menunggu diteras rumahnya dan melambaikan tangannya. “Hai, kamu datang juga.., aku pikir kamu nggak datang”, sapa Ibu Mila. “Aku pasti datang Bu, kalau tidak datang, bisa-bisa rahasiaku terbongkar”, candaku. “Ayo masuk, kamu sudah makan siang belum? Kita makan sama sama, hari ini Ibu sudah pesankan makanan untuk kita berdua. Spesial buat kamu dan Ibu”. “Mmm.. ramah sekali Ibu Mila hari ini”, batinku. Aku dan Ibu Mila masuk kedalam ruangan yang begitu besar, sepertinya kamar tidur Ibu Mila. Di dekat jendela yang menghadap kearah kolam renang, aku melihat sebuah meja kecil yang sudah ditata rapi, dengan nyala lilin dan sebotol wine, romantis sekali. Aku dan Ibu Mila duduk berhadapan, Ibu Mila begiti lemah lembut, kamipun makan siang bersama, dalam suasana kamar yang begitu romantis. “Boleh saya merokok disini Bu?” “Silakan Pento, dulu almarhum suami Ibu juga seorang perokok”, jawab Ibu Mila. “Kamu mau Minum wine?”, tanya Ibu Mila. Kemudian Ibu Mila memberikan segelas wine untukku, kami terus berbicara sambil menghabiskan minuman kami. Kupeluk tubuh Ibu Mila dari belakang saat Ibu Mila berdiri dijendela memandang keluar, Kucium dengan lembut wajahnya, bibirnya, burungku yang menempel tepat di belahan pantat Ibu Milapun sudah tegak berdiri, sampai sakit sekali rasanya, mungkin pengaruh obat kuat yang sudah aku minum. “Pento, Sebenarnya Ibu mau mengajak kamu makan malam disuatu tempat yang romantis sekali, Cuma Ibu tahu, kamu tidak punya banyak waktu kalau malam hari jadi Ibu ajak kamu makan siang di sini, dikamar Ibu, dan sengaja suasananya Ibu buat seperti ini, agar tetap terkesan romantis” “Terima kasih Bu, Ibu baik sekali”. Jawabku “Kamu tahu Pen? Ini kamar tidur Ibu dan almarhum Bapak, kamu lelaki kedua setelah almahum Bapak, yang boleh masuk di kamar ini. Ibu sudah lama suka sama kamu, Cuma Ibu nggak yakin, melihat gayamu yang cool, apa iya kamu mau sama Ibu?, Untung Ibu mendengar pembicaraan kamu dan Ibu mertuamu, yah terpaksa Ibu harus mainkan siasat, u
